Menuju Pintu” Langit dan Menanti Kiamat

Di kala keikhlasan itu luntur..
Saat diri kehilangan ghirah beramal ma’ruf nahi munkar karenaNya..
Ingatlah bahwa semua akan kembali padaNya!
Manusia nantinya akan digiring menuju pintu” langit dan menanti kiamat di dalam kuburnya.
Akankah Allah membukakan pintu” langitnya untuk kita?
Untaian do’a atau laknat para Malaikat kah yang akan menyertai perjalanan kita kesana?
Menjadi sosok seperti apakah kita dalam penantian menunggu hari kebangkitan??
Jawabannya tergantung dari iman dan amal kita semasa di dunia.
Semoga hadits berikut memotivasi kita untuk terus semangat beramal sholeh dan sadar dari kelalaian kehidupan dunia..

Diriwayatkan dari al-Barra bin ‘Azib, beliau berkata :

“Kami pergi bersama Rasulullah صلی الله عليه وسلم menuju jenazah dari kalangan Anshar, sampailah kami di kuburnya dan ternyata dia belum disimpan di liang lahat, lalu Rasulullah صلی الله عليه وسلم duduk dengan menghadap kiblat sedangkan kita duduk di sekitarnya dan seakan-akan di atas kepala kita ada burung, di tangan beliau ada sebuah tongkat yang dipukulkan ke bumi, beliau menatap langit dan melihat bumi (tanah), mengangkat pandangannya dan menurunkannya, (sampai tiga kali), lalu beliau bersabda :

“Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur (sebanyak 2 atau 3 kali), kemudian beliau berkata :

اللهم اني ﺃعوذبك من عذاب القبر

Allaahumma innii a’uudzubika min ‘adzaabil qabri

‘Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur (sebayak 3 kali)’.”

Kemudian beliau bersabda :

“Jika seorang mukmin meninggal dunia dan menghadap akhirat, maka para Malaikat dengan muka putih akan turun dari langit kepadanya, seakan-akan wajahnya itu adalah matahari, mereka membawa kain kafan serta hanut[1] dari Surga, kemudian mereka akan duduk sepanjang pandangan, lalu datanglah Malaikat Maut عليه سلم, sehingga dia duduk di kepalanya seraya berkata :

Wahai jiwa yang baik (dalam satu riwayat, yang tenang), keluarlah menuju ampunan dan karunia Allah سبحانه و تعالى “.

Beliau berkata :

Kemudian ruh itu keluar bagaikan satu tetes air yang keluar dari mulut wadah, lalu dia (Malaikat Maut) mengambilnya (di dalam satu riwayat: Sehingga ketika ruhnya itu keluar, maka semua Malaikat yang ada di langit dan di bumi mendo’akannya, dibukakan baginya pintu-pintu langit  dan tidak ada seorang pun penjaga pintu-pintu kecuali mereka memohon kepada Allah agar ruh itu dibawa oleh mereka), ketika dia mengambilnya, dia tidak meletakkannya di tangan sekejap mata pun, akan tetapi mereka mengambilnya dan meletakkan di atas kafan dengan hanutnya (itulah makna firman Allah سبحانه و تعالى :

تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ -… –

“… Ia diwafatkan oleh Malaikat-Malaikat Kami, dan Malaikat-Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya”),

Ruh hamba tersebut keluar dengan wangi semerbak bagaikan misik yang paling wangi di dunia.

Beliau berkata :

Lalu mereka membawa ruh tersebut naik ke atas, tidak melewati satu Malaikat pun , kecuali mereka akan berkata:

“Ruh siapakah yang wangi ini?”

Mereka menjawab :
“Fulan putra Fulan” -dengan menyebutkan namanya yang paling baik di dunia- sehingga mereka membawanya sampai ke langit dunia, mereka meminta agar pintu dibukakan dan dia (penjaga) membukakannya, setiap penghuni langit akan mengantarkannya sampai ke langit berikutnya, sehingga sampai di langit ke tujuh, maka Allah berfirman :

“Tulislah kitab hambaku ini di ‘Illiyyin”

وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ -١٩- كِتَابٌ مَّرْقُومٌ -٢٠- يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ -٢١-

Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?  (19) (Yaitu) kitab yang bertulis, (20) yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). (21) (QS. Al Muthaffifiin)

Maka kitabnya itu dituliskan di dalam ‘Illiyin, kemudian dikatakan:

‘Kembalikanlah dia ke bumi, karena Aku (menjanjikan bahwasanya Aku) menciptakannya dari bumi, mengembalikannya kepada bumi dan darinya Aku akan mengeluarkannya sekali lagi’

Beliau berkata :

Maka (ruh itu dikembalikan ke bumi) dan ruhnya dikembalikan ke jasadnya, (beliau berkata, sesungguhnya dia mendengarkan suara sandal pengantarnya ketika mereka pulang).

Lalu datanglah dua Malaikat yang sangat keras bentakannya, mereka berdua membentaknya dan mendudukkannya, lalu bertanya:

‘Siapa RabbMu?’ ‘Allah Rabbku,’ jawabnya.

Mereka berdua bertanya (lagi):

‘Apakah agamamu?’ ‘Islam agamaku,’ jawabnya.

Mereka berdua bertanya (lagi):

‘Siapakah orang ini yang diutus kepadamu?’ ‘Dia adalah Rasulullah صلی الله عليه وسلم,’ jawabnya.

Mereka berdua bertanya (lagi):

‘Apakah pekerjaanmu?’ ‘Aku membaca Al-Qur’an, lalu aku mempercayainya dan membenarkannya,’ jawabnya.

Lalu mereka membentaknya dengan kata:

‘Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu?’

Itulah cobaan terakhir yang diberikan kepada seorang mukmin.

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ … -٢٧-

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat… (QS. Ibrahim(14):27)

Karena itu sang hamba menjawab,

“Rabbku adalah Allah, agamaku adalah Islam, Nabiku adalah Muhammad صلی الله عليه وسلم”,

Lalu berserulah yang berseru di langit:

“Hambaku benar, maka bentangkanlah baginya permadani dari Surga, berilah pakaian dari Surga, dan bukakanlah baginya satu pintu menuju Surga.”

Beliau berkata:

Lalu datanglah semerbak wangi dan dibentangkan baginya sejauh pandangan.

Beliau berkata:

Datanglah kepadanya (di dalam satu riwayat, dengan menjelma menjadi) seseorang dengan paras indah, baju bagus dan wangi, dia berkata:

‘Aku datang padamu dengan membawa kabar gembira (aku membawa kabar gembira dengan karunia Allah سبحانه و تعالى dan Surga yang di dalamnya ada nikmat yang tetap), ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu,’

Lalu ia berkata:

‘(Semoga Allah memberikan kabar gembira kepadamu), siapakah kamu? Wajahmu menampakkan kebaikan!’

Dia berkata:

‘Aku adalah amalmu yang shalih,’ (demi Allah, tidak ada yang aku ketahui darimu, kecuali kamu selalu bersegera di dalam melakukan ketaatan dan lamban di dalam melakukan kemaksiatan, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan).

Kemudian dibukakan baginya satu pintu Surga dan satu pintu Neraka, dikatakan kepadanya: ‘

Ini adalah tempatmu jika kamu bermaksiat kepada Allah, tetapi Allah menggantikannya dengan ini untukmu,’

Jika dia melihat Surga, maka dia berkata,

“Ya Allah, percepatlah hari kiamat!! Agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku!”

Dikatakan kepadanya: ‘Tenanglah’

~

Beliau berkata:

Sedangkan hamba yang kafir (dalam satu riwayat yang fajir), jika dia meninggalkan dunia dan menghadap akhirat, datanglah kepadanya para Malaikat yang sangat keras dengan wajah yang hitam dengan membawa Misuh[2] (dari Neraka), mereka duduk sejauh pandangan, kemudian datanglah Malaikat Maut dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata,

“Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah سبحانه و تعالى”

Beliau berkata:

Kemudian jiwa itu berpecah belah di dalam tubuhnya, lalu dia (Malaikat maut) mencabutnya bagaikan tongkat (dengan cabang yang banyak) dicabut dari kain wol basah, (lalu urat dan otot pun putus), (maka semua Malaikat yang ada di antara langit dan bumi dan yang ada di langit melaknatnya, ditutup baginya pintu-pintu langit dan tidak ada seorang pun penjaga pintu kecuali mereka memohon kepada Allah agar ruh orang itu tidak dibawa oleh mereka), ketika dia mengambilnya, dia tidak meletakkan di tangan sekejap matapun, akan tetapi dia meletakkan di atas Misuh, ruh tersebut keluar dengan bau bangkai yang paling busuk di muka bumi, lalu mereka membawa ruh tersebut naik ke atas, tidak melewati satu Malaikat pun, kecuali mereka akan berkata:

“Ruh siapakah yang busuk ini?”

Mereka Menjawab,

“Fulan putra Fulan” -dengan menyebutkan namanya yang paling buruk di dunia-

sehingga mereka membawanya sampai ke langit dunia, mereka meminta agar pintu dibukakan dan dia (penjaga) tidak membukakannya, kemudian Rasulullah صلی الله عليه وسلم membacakan firman Allah سبحانه و تعالى :

-٤٠… لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ  … –

.. Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. .. (QS. Al A’raf : 40)

Dan Allah سبحانه و تعالى berfirman :

“Tuliskanlah kitab hambaKu ini di Sijjin dan bumi yang bawah”,

kemudian dikatakan:

“Kembalikanlah ia ke bumi, karena Aku (menjanjikan bahwasanya aku) menciptakannya dari bumi dan darinya Aku akan mengeluarkannya sekali lagi”.

Maka ruh itu dilemparkan dari langit sehingga jatuh pada jasadnya, kemudian beliau membacakan firman Allah سبحانه و تعالى :

… وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاء فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ -٣١-

… Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al Hajj : 31)

Beliau berkata :

Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya, (beliau berkata, Sesungguhnya dia mendengarkan suara sendal para pengantarnya ketika mereka pulang).

Lalu datanglah dua Malaikat yang sangat keras bentakannya, mereka berdua membentaknya dan mendudukannya, lalu bertanya:

‘Siapa RabbMu?’ ‘Ah, ah aku tidak tahu,’ jawabnya.

Mereka berdua bertanya (lagi):

‘Apakah agamamu?’ ‘Ah, ah aku tidak tahu,’ jawabnya.

Mereka berdua bertanya (lagi):

‘Siapakah orang ini yang diutus kepadamu?’

Dia sama sekali tidak mendapatkan petunjuk untuk mengenalinya, lalu dikatakan padanya “Muhammad,”. Dia berkata,

‘Ah, ah, aku tidak tahu (aku mendengar orang lain mengatakannya! Dikatakan kepadanya:’Kamu tidak tahu’)(dan kamu tidak mengikutinya),’

Lalu berserulah yang berseru di langit:

“Hambaku pembohong, maka bentangkanlah baginya hamparan dari neraka, dan bukakanlah baginya satu pintu menuju Neraka.”

Beliau berkata,

Lalu datanglah panas dan anginnya yang panas dan kubur disempitkan baginya sehingga tulang-tulangnya berantakan. Dan datanglah kepadanya (di dalam satu riwayat, dengan menjelma menjadi) seseorang dengan paras yang buruk, baju yang jelek dan bau busuk, dia berkata :

“Aku datang kepadamu dengan membawa kabar buruk, ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu,”

lalu dia berkata:

“(Semoga Allah memberikan kabar buruk kepadamu), siapakah kamu? Wajahmu membawa keburukan!”

Dia berkata,

“Aku adalah amalmu yang jelek,” (demi Allah, tidak ada yang aku ketahui darimu, kecuali kamu selalu lamban di dalam melakukan ketaatan dan cepat dalam melakukan kemaksiatan, semoga Allah membalasmu dengan kejelekan),

Kemudian didatangkan kepadanya seseorang yang buta, tuli, dan bisu, di tangannya ada sebuah Mirzabah (sebuah palu besar yang biasa digunakan oleh tukang besi), jika alat itu dipukulkan ke gunung, niscaya gunung pun akan berubah menjadi tanah.

Lalu dia memukulkannya kepada orang tersebut dan akhirnya berubah menjadi tanah, kemudian Allah mengembalikannya seperti semula, lalu dipukulkannya lagi, dia menjerit sehingga suaranya terdengar oleh segala sesuatu kecuali jin dan manusia, kemudian dibukakan baginya pintu neraka dan dihamparkan baginya hamparan dari Neraka,

Dia berkata,

‘Ya Rabbku janganlah hari Kiamat itu didatangkan!!’ “

(Ditakhrij oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam kitab Ahkaamul Janaa-iz hal.159)

———————————–

[1] Minyak khusus yang dicampur untuk kain kafan dan badannya

[2] Pakaian yang terbuat dari bulu kasar

———————————–

Advertisements

Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

Pencari Ilmu Jalan Pintas

Dilema ini terus membayangiku beberapa tahun lalu. Jalan pencarian ilmu yang seharusnya mendekatkan ke syurga, dihadapkan pada jalan” pintas yang menjanjikan kemudahan dan hasil akhir yang indah, namun semu. Maklum, karena kuliah di jurusan IT, proses ujian pun menunjang sekali tindak kecurangan, bahkan dapat dilakukan via chat box.

Mulanya, aku tergoda juga. Sampai saat datang seseorang yang mengingatkanku, akan ayat Allah :

Az Zumar:60. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?

Lalu? Bukankah curang&menyontek sama dengan berbohong? Berbohong pada diri sendiri, guru, teman, bahkan orang tua.

Nyontek&curang=tidak jujur=dusta=dosa= muka hitam di hari kiamat => bisa” masuk Jahannam.. Naudzubillah!

Bermula dari Taubat

Sebenarnya, judul tulisan ini sudah lama terlintas di benak. Saat itu, aku memang mengalami masa-masa transisi alias hijrah (menjadi pribadi yang lebih baik). Maklum, aku baru bertekad untuk jujur+ikhlas dalam menuntut ilmu. Banyak rangkaian kalimat yang terbersit.. Tapi tak sempat tertulis karena kacaunya pikiran dan galaunya hati saat itu. Setiap kali ujian semester pun, ingin sekali aku menuangkan semua perasaan ini, namun urung. Hal ini karena semata-mata, mencoba jujur dalam mendapat nilai tidaklah mudah. Dengan tekad keras, aku tetap semangat menghapal dan memahami materi, sambil mengesampingkan kesedihan hati.

Ujian Taubatku

Entah mengapa, aku tidak menemukan seorang pun yang beri’tikad sama dari sekian banyak teman-teman di kelas. Saat kuingin diskusi atau bertanya kesulitan dari materi, aku bingung dan tak tahu harus kemana mengungkapkan semua itu. Semua serba sibuk… mereka sangat sibuk dengan kertas-kertas kecil dan hape-hape canggih mereka.

Kerap kali kami berdebat masalah kecurangan yang mereka selalu halalkan. Berbagai alasan pembenaran dan cacian pun cukup membuat kesal. Belum lagi, pandangan marah dan singgungan buruk yang muncul karena aku tak mau membantu mereka dalam kecurangan (seperti menyalurkan kertas contekan, dll). Entah kenapa, napasku jadi sesak dan hati terasa sempit sekali. Bismillah.. Ini cuma ujian dunia.. Setidaknya nanti aku dapat mempertanggungjawabkan semua ini di hadapan Allah karena kejujuran ini.

Curhat Seorang Akhwat

Dia sudah menjadi akhwat di usianya yang ke-17. Subhanallah, hidayah dan cobaan berat datang padanya pada usia semuda itu. Namun, bukankah semakin dalam iman yang dimiliki seseorang, maka cobaan yang dihadapinya semakin berat. Itulah yang banyak dihadapi oleh orang-orang yang berusaha untuk terus istiqomah.

Qadarallah, kami dipertemukan sejak awal untuk selalu sharing masalah pribadi dan ilmu agama, serta thalibul ilmi bersama. Itu yang membuatku sangat mencintainya karena Allah ta’ala. Jum’at lalu, ia minta masukan dan bantuan terhadap masalahnya sebagai pencari ilmu tingkat Sekolah Menengah. Kejadian ini membangunkan semangat diri untuk merajut kata yang akhirnya menjadi kalimat yang Anda baca saat ini.

Ia Di antara Pilihan menjadi Seorang Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

Tidak kaget diriku, saat dia bercerita tentang kecurangan sistem ujian yang terencana di sekolahnya. Sudah pernah kudengar hal yang sama dari pelakunya sendiri -yang adalah kakak seniornya yang sudah lulus-, dan ceritanya cukup mendetail.

Kecurangan yang juga salah satunya juga dipelopori oleh guru mereka sendiri itu membuatnya bimbang. Yang aku herankan, kok ada yang oknum yang rela mengirim jawaban soal ke hape setiap siswa. Heran.. Mengapa tidak langsung saja memanipulasi nilai tanpa ada ujian agar tidak repot.

Saat I’tikad baik akhwat itu muncul, dengan memilih berniat berbuat jujur… ternyata hasilnya tidak memuaskan seperti yang didapat para pencari jalan pintas. Les di guru mata pelajaran pun tidak memecahkan kesulitannya karena alasan” tertentu dan cenderung di saat terakhir les ada bocoran soal dan lain-lain.

Demi Kelulusanmu Nanti… Sedikit Saja Tidak Apa-Apa

Badai cobaan masih terus menerpanya, saat beberapa pihak yang menyayanginya menyarankan dia untuk sesekali melihat jawaban bocoran demi lulusnya dia kelak. Huphf.. Apakah itu benar jalan keluar?? Dia pun memutuskan untuk berusaha lebih dan lebih keras lagi masalah pelajaran, meskipun sistem penilaian dan ujian yang ada sedikit tidak fair.

Ya Allah, bantulah dia.. Dan mudahkan diri hamba untuk membantunya..

Mengapa ini terjadi? Padahal…

Untaian kalam ilahi dalam surat al Mujaadilah:11 cukup menjadi bukti tingginya kedudukan orang-orang yang berilmu di sisi Allah سبحانه و تعالى. Tetapi tak hanya itu… Di dunia fana ini, title ‘intelect‘ dalam ilmu apapun dihargai tinggi di hadapan manusia, baik secara materiil dengan semakin mahalnya gaji/upah, maupun non materiil, seperti meningkatnya prestige (wibawa, martabat) para penyandangnya.

Ukuran kualitas keintelekan (seperti gelar, penghargaan, sertifikat, nilai ujian) dunia pun dikejar. Hal ini diperparah dengan tekanan kebanyakan orang tua sekarang yang memimpikan anak-anak mereka menjadi bagian dari kaum intelektual. Memang, sah-sah saja keinginan mereka.. Namun, jika pada akhirnya tujuan mereka dan sang anak hanya sekedar materi dan prestige di dunia semata, anugerah berupa derajat yang tinggi di sisi Allah سبحانه و تعالى tak lagi berlaku.. Bahkan, bisa mendatangkan adzab karena lunturnya keikhlasan dan tenggelamnya diri ke dalam hawa nafsu.

Saat Pribadi Harus Memilih..

Mengajarkan ilmu dan memfasilitasi anak untuk mencari ilmu memang kewajiban orang tua. Di jaman sekarang ini, saking inginnya orang tua melihat anaknya berhasil dan sekolah tinggi, tak sedikit yang rela membanting tulang mengais rezeki, untuk memenuhi materi pendidikan anak. Fasilitas anak untuk sekolah tinggi pun dipenuhi, mulai dari biaya kos/hidup yang layak, kendaraan, komputer/laptop, buku, internet dsb. Orang tua seperti ini adalah anugerah. Namun, jika mereka juga mendukung anaknya mencari ‘jalan pintas’, di sinilah pribadi harus memilih :

Teguh sebagai pencari ilmu di jalan yang terjal dan mengambil resiko kesedihan orang tua akan bayangan kegagalan.. Karena menjalaninya tidaklah mudah..

Atau..

Ikut dalam rombongan pencari jalan pintas yang cukup mulus, dengan resiko kegagalan terlihat lebih sedikit namun Allah tidak ridha padanya.


Beda Mereka..

Batasan ruang lingkup : sekolah/kuliah

Parameter Pencari Ilmu Pencari Jalan Pintas
Proses masuk sekolah/kuliah Masuk dengan nilai murni 100% mikir sendiri dan memenuhi standart diterima Nilai antara diterima dan tidak. Diterima pun dengan ‘sedikit’ uang sogok atau karena ada link pihak internal.
Absensi
  • Tanda tangan 100% asli
  • Ikut dari awal hingga akhir
  • Sering nitip ttd ke temen
  • Hadir demi absen
  • Setelah absen suka ngacir
Waktu Kehadiran Datang tepat waktu, maksimal terlambat/tidak hadir karena udzur Datang telat tanpa dosa
Peralatan dan perlengkapan belajar Memenuhi standart untuk mengikat ilmu Minta/pinjam teman (dengan resiko tidak kembali/hilang/terbawa selamanya)
Catatan Ada dan cukup rapi Catatan tidak punya (maksimal fotokopi punya teman pas mau ujian)
Ketika pengajar menerangkan
  • Menyimak dan memahami
  • Aktif bertanya
  • Mendengarkan
  • Minimal tidak rame
  • Bosen
  • Ngelamun
  • Ngobrol dengan temen (langsung ngomong atau via kertas)
  • Chatting/ngenet pake hape mahal
  • Tidur
  • Dan aktivitas” lain selain memperhatikan pengajar..
Tugas 99% mikir sendiri, 1% diskusi/konsultasi/minta bantuan ke yang lebih ngerti
  • Sering lupa
  • Ingetnya pas deket deathline
  • Copy paste temen
Ujian Berbekal memori otak SEJUTA GIGABYTE, dengan spesifikasi :

  • Memori materi penjelasan pengajar
  • Memori catatan materi tulisan sendiri
  • Pemahaman
  • Pengalaman kerja tugas
  • PeDe!!
Berbekal kertas” kecil (ngopi temen) plus hape canggih dengan spesifikasi :

  • Kamera 2MP ke atas:untuk kejelasan file gambar contekan
  • Fasilitas menyimpan&membaca text file, ppt, atau doc : pembuka file contekan
  • Bluetooth : agar tinggal transfer file contekan dari temen
  • Pulsa : komunikasi selama ujian
Selesai Ujian
  • Check jawaban yang ragu-ragu
  • Diskusi jawaban dengan temen
  • Heboh karena salah/lupa/ga teliti
  • Tawakkal ‘alallah
  • Heboh kasus ketauan pengawas, dll
  • Ngomongin pengawas begini begitu
  • Evaluasi teknik curang
  • Hang out+seneng” sama temen”
Ujian akhir 100% usaha pemikiran sendiri Curang, hasil ‘jahit’ dengan modal duit
LULUS/TIDAK LULUS LULUS:

  • Dengan izin Allah
  • Karena kerja keras dan doa
  • Kemampuan terasah
  • Dan faktor penunjang lain

TIDAK LULUS :

  • Dengan izin Allah
  • Kurang maksimal
  • Terbelit masalah” seperti : fasilitas, referensi, dll
LULUS:

  • Dengan izin Allah
  • Beruntung ga ketauan curang
  • Fasilitas dan uang memadai
  • Dan faktor penunjang lain

TIDAK LULUS :

  • Dengan izin Allah
  • Ketauan curang
  • Sumber kecurangan yang salah, dll

Jika Anda memenuhi :

Kriteria PENCARI ILMU + IKHLAS = DERAJAT TINGGI di sisi Allah 😉

Kriteria PENCARI JALAN PINTAS = MUKA HITAM di hari kiamat

Tetapi, jika Anda mempunyai beberapa kriteria PENCARI JALAN PINTAS dan tidak ingin menjadi seperi rumus di atas, maka ikuti prosedur taubat() berikut:

If taubat(PENCARI_JALAN_PINTAS) = TRUE THEN

setNiat = “Ikhlas lillah”Do

setAction = "tidak mengulangi lagi"

Loop Until MATI
ELSE

MUKA HITAM di hari kiamat

ENDIF