Ciri wanita yg ditampakkan surga untuknya

Wanita, sosok lemah dan tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tidak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dalam ibadah dan perkara lainnya.

Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya.  Oleh karena itu, tidak mengherankan kiranya jika Allah Tabaroka wa Taala dengan segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki.

Namun, kelemahan itu tak harus melunturkan keteguhan iman.

Sebagaimana keteguhan salah seorang putri, istri dari seorang suami yang menjadi musuh Allah Rabb alam semesta. Seorang suami yang angkuh atas kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya. Putri yang akhirnya harus disiksa oleh tangan suaminya sendiri, yang disiksa karena keimanannya kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi. Dialah Asiyah binti Muzahim, istri Firaun.

Ketika mengetahui keimanan istrinya kepada Allah, maka murkalah Firaun. Dengan keimanan dan keteguhan hati, wanita shalihah tersebut tidak goyah pendiriaannya, meski mendapat ancaman dan siksaan dari suaminya.

Kemudian keluarlah sang suami yang dzalim ini kepada kaumnya dan berkata pada mereka,

“Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahaim?”

Mereka menyanjungnya. Lalu Firaun berkata lagi kepada mereka,

“Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selainku.

Berkatalah mereka kepadanya,

“Bunuhlah dia!”

Alangkah beratnya ujian wanita ini, disiksa oleh suaminya sendiri.

Dimulailah siksaan itu, Firaun pun memerintahkan para algojonya untuk memasang tonggak. Diikatlah kedua tangan dan kaki Asiyah pada tonggak tersebut, kemudian dibawanya wanita tersebut di bawah sengatan terik matahari. Belum cukup sampai disitu siksaan yang ditimpakan suaminya. Kedua tangan dan kaki Asiyah dipaku dan di atas punggungnya diletakkan batu yang besar. Subhanallah…saudariku, mampukah kita menghadapi siksaan semacam itu? Siksaan yang lebih layak ditimpakan kepada seorang laki-laki yang lebih kuat secara fisik dan bukan ditimpakan atas diri wanita yang bertubuh lemah tak berdaya. Siksaan yang apabila ditimpakan atas wanita sekarang, mungkin akan lebih memilih menyerah daripada mengalami siksaan semacam itu (Na’udzubillah).

Namun, akankah siksaan itu menggeser keteguhan hati Asiyah walau sekejap?

Sungguh siksaan itu tak sedikitpun mampu menggeser keimanan wanita mulia itu. Akan tetapi, siksaan-siksaan itu justru semakin menguatkan keimanannya.

Iman yang berangkat dari hati yang tulus, apapun yang menimpanya tidak sebanding dengan harapan atas apa yang dijanjikan di sisi Allah Tabaroka wa Taala.

Maka Allah pun tidak menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini. Ketika Firaun dan algojonya meninggalkan Asiyah, para malaikat pun datang menaunginya.

Di tengah beratnya siksaan yang menimpanya, wanita mulia ini senantiasa berdoa memohon untuk dibuatkan rumah di surga. Allah mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab dan ia melihat rumahnya yang dibangun di dalam surga. Diabadikanlah doa wanita mulia ini di dalam al-Quran,

“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (Qs. At-Tahrim:11)

Ketika melihat rumahnya di surga dibangun, maka berbahagialah wanita mulia ini. Semakin hari semakin kuat kerinduan hatinya untuk memasukinya. Ia tak peduli lagi dengan siksaan Firaun dan algojonya. Ia malah tersenyum gembira yang membuat Firaun bingung dan terheran-heran.

Bagaimana mungkin orang yang disiksa akan tetapi malah tertawa riang?

Sungguh terasa aneh semua itu baginya. Jika seandainya apa yang dilihat wanita ini ditampakkan juga padanya, maka kekuasaan dan kerajaannya tidak ada apa-apanya.

Maka tibalah saat-saat terakhir di dunia. Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini dan menaikkannya menuju rahmat dan keridhaan-Nya. Berakhir sudah penderitaan dan siksaan dunia, siksaan dari suami yang tak berperikemanusiaan.

Saudariku..

Tidakkah kita iri dengan kedudukan wanita mulia ini?

Apakah kita tidak menginginkan kedudukan itu?

Kedudukan tertinggi di sisi Allah Yang Maha Tinggi.

Akan tetapi adakah kita telah berbuat amal untuk meraih kemuliaan itu? Kemuliaan yang hanya bisa diraih dengan amal shalih dan pengorbanan. Tidak ada kemuliaan diraih dengan memanjakan diri dan kemewahan.

Saudariku..

tidakkah kita menjadikan Asiyah sebagai teladan hidup kita untuk meraih kemuliaan itu?

Apakah kita tidak malu dengannya, dimana dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana dan segala kemewahannya dapat dengan mudah dinikmatinya.

Namun, apa yang dipilihnya?

Ia lebih memilih disiksa dan menderita karena keteguhan hati dan keimanannya.

Ia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia.

Jangan sampailah dunia yang tak seberapa ini melenakan kita.

Melenakan kita untuk meraih janji Allah Taala, surga dan kenikmatannya.

Saudariku…jangan sampai karena alasan kondisi kita mengorbankan keimanan kita, mengorbankan aqidah kita.

Marilah kita teladani Asiyah binti Muzahim dalam mempertahankan iman.

Jangan sampai bujuk rayu setan dan bala tentaranya menggoyahkan keyakinana kita.

 

Janganlah penilaian manusia dijadikan ukuran, tapi jadikan penilaian Allah sebagai tujuan. Apapun keadaan yang menghimpit kita, seberat apapun situasinya, hendaknya ridha Allah lebih utama. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan surga tertinggi yang penuh kenikmatan.


Maraaji: 14 Wanita Mulia dalam sejarah Islam (terjemahan dari Nisa Lahunna Mawaqif) karya Azhari Ahmad Mahmud
Penulis: Ummu Uwais Herlani Clara Sidi Pratiwi Murajaah: ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar

1 Year Anniversary :: Life Without Facebook (FB)

Subhanallah.. Sudah genap satu tahun saya meninggalkan FB!!! Unbelieveable.. (`∇´)

Jujur, butuh tekad yang besar bagi saya untuk melakukannya. Apalagi saat itu, banyak orang yang lagi seneng-senengnya sama situs jejaring sosial itu dan berhijrah meninggalkan FS.

Keputusan ini pun saya ambil jauh dari saat para ulama ribut soal hukum halal-haramnya. Tapi saya yakin, bukan hanya saya yang mengambil keputusan yang sama. Kontroversi FB waktu itu memang cukup ‘panas’ dan berhasil membuat tidur saya tak tenang. Alhamdulillah, akses internet bebas saat magang, jadi solusi untuk menyelidikinya lebih jauh.. Dan kemudian… Tadaaaa.. ٩(o)۶

Saya pun memutuskan untuk memulai hidup tanpa FB ! ヽ(゚ω )ノヽ( ω゚)ノヽ(゚ω )ノ

Ups.. jangan salah! Tulisan ini saya buat tidak untuk mendiskreditkan FB. Apalagi saya termasuk orang yang berpikiran bahwa FB hanyalah alat. Tulisan ini hanya flashback saja dari kehidupan saya tanpa FB dan sedikit bayangan bagaimana jika saya saat ini masih kecanduan FB seperti teman-teman. Tentu saja, jika saya masih pakai FB, pasti bakal kecanduan,, maklumlah.. Anak muda.. He3.. (((*´ε *)

No FB = less Friend ll(p_ q#)llll

Cukup sedih ketika saya harus merelakan diri untuk tidak keep contact dengan teman-teman baik yang sering saya temui di kampus, teman” masa lalu, maupun teman” baru. Yup, memang tidak dapat dipungkiri..

`。゜。No FB = less Friend.

Itu perasaan pertama saat memulai hengkang dari situs jejaring nomor 1 itu. Huphf.. Tapi apa artinya teman jika ia hanya menuntut frekuensi komunikasi. Lagipula, masih ada media lain bukan?

Jika masih ada FB, pasti saya sekarang akan semakin disibukkan dengan teman-teman. Ada gossip si A, skandal si B, musibah si C, fitnah dengan karena si D, acara reuni E, temu kangen F, jalan” dan nge-mall bareng G, dsb. Fiuh, namun alhamdulillah.. Walaupun lepas FB, kabar-kabar penting masih sampai juga pada saya lewat media lain. ^ ^

Less friend = life more

Ada 4 sebab penyakit hati, yaitu banyak bergaul. Bergaul boleh, dengan batasan menghargai privasi orang lain. Di FB, seseorang terfasilitasi untuk mempublikasi privasi dan mencari tahu berbagai informasi dari orang lain. That’s why, tanpanya, saya merasa lebih hidup dan dapat fokus dengan target daripada disibukkan oleh hal-hal remeh di FB yang cukup membuat gatal tangan untuk mengklik link demi link. Jika menuruti nafsu saja, akan semakin tidak terasa waktu yang terbuang. Hidup pun jadi kurang produktif. (>_<)

Hadiah Ramadhan dari ♥♥Allah♥♥

Sayangnya, karena sekian lama berpisah karena magang, saya merasa teman-teman jadi sulit diajak untuk me-refresh dakwah maupun sekedar datang thalibul ilmi. Apa dampak FB ya? Wallahua’lam…

Kesendirian dan kekeringan iman itupun terobati dengan terkabulnya do’a saya sebagai hadiah Ramadhan dari Allah. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan orang-orang yang berjuang di masjid demi tegaknya syi’ar Islam. Dengan mereka, saya terlibat acara amal dan kegiatan Ramadhan lainnya. Teman saya jadi bertambah baaanyaak (。>0<。).

Subhanallah.. ternyata, rumusnya juga bisa begini :

.+: Life more = new friends ^ ^.+:

Life more = knowing reality

Dari waktu yang tidak untuk FB, saya hidup dengan lebih mengenal kenyataan. Saat baksos misalnya. Rasanya seperti artis saat turun dari mobil. Padahal pakaian ini biasa-biasa saja. Saya melihat sendiri ternyata masih ada orang yang kesulitan mendapatkan air. Sekolah pun sedikit. Anak-anak desa yang masih SD itu terdiam saat ditanya apa yang akan mereka lakukan selepas SD. Saya penasaran. Saya tidak menemukan bangunan SMP sepanjang perjalanan. Rumah saja jarang.

Orang-orang yang beramal dan mengamati kenyataan juga banyak berbagi cerita. Tangis di hampir setiap pertemuan, meluluhkan hati kami. Sungguh, pada diri manusia ini banyak yang perlu diperbaiki. Tetapi manusia itu sombong, sekedar bersyukur saja suliiit sekali bagi mereka.

Ada lagi kisah tentang seorang anak yang harus menyetorkan uang 75 ribu per hari pada orang tuanya. Kalau tidak, ia tidak boleh masuk rumah. Hingga akhirnya ia terlibat traficking. Lalu, kisah tentang pemuda yang dibuang orang tuanya sejak kecil. Kini, ia telah menjadi manusia yang sepenilaian saya lebih mulia dari manusia yang beruntung karena akhlaq dan amalnya. Wallahua’lam, hanya Allah yang Maha Mengetahui Isi Hati.

Masih banyak lagi pelajaran hidup yang saya dapat selama setahun. Yang mungkin tidak akan saya dapat tanpa mengorbankan sedikit ego untuk kesenangan diri belaka. Semua ini, membuat saya merasa lebih bersyukur, dan terus termotivasi untuk beramal baik lagi.

Jika saat itu tempat berlabuh saya hanya di warung hotspot untuk akses FB sepuasnya, mungkin saya akan merasa hidup saya sempit. Bagaimana tidak, saat mata memandang ke kanan situs, ada foto si A dengan berbagai pose yang cantik karena sering perawatan di salon mahal. Saat mata beralih ke kiri, ada foto-foto si B saat di bersenang-senang di luar negeri. Yang lainnya, sedang makan enak di restoran mahal, foto dengan pacar cakep ato artis kenamaan, dll.

Memang manusia disyari’atkan untuk menunjukkan ni’mat Allah. Tetapi, kalo kasusnya seperti ini, lebih tampak sebagai ajang pamer. Susah untuk tidak sombong dengan semua itu. (_-)

Saya tidak cantik. Saya tidak kaya. Tapi di semua sudut FB, orang-orang terlihat tidak mempunyai masalah dengan uang. Sedangkan saya, untuk memajang foto kece berkacamata hitam lagi duduk di dalam mobil saja ga mungkin banget. Tampang kurang, mobil ga ada, bahkan kamera buat jeprat jepret pun belom dikasih Allah. (_ _;)=3

Tapi alhamdulillah, saya sama sekali tidak berambisi seperti mereka. Kalo iya, bisa-bisa kaya cewek” ABG di koran itu, gabung dengan usaha prostitusi via FB demi uang. Naudzubillah..

Fitnah Berkurang

Ini adalah dampak yang paling saya suka. Teman-teman memang gatal untuk membiarkan seorang gadis seumuran saya berstatus jomblo. Dengan alasan yang tidak masuk akal, biasanya ada saja gossip miring saya dengan cowok X yang cukup bikin keki. Nah, alhamdulillah,, tanpa FB, pintu masuknya jalan itu pun tertutup rapat. =)

Real life = real love

Buat anak muda, eksis di dunia maya, mungkin tidak lengkap tanpa cinta dunia maya, yang terkadang maya. Sedangkan saya tanpa FB, Alhamdulillah telah menemukan the real lovedi dunia nyata. Bahkan tidak cuma 1. Σ( ̄ロ ̄lll) Ups, jangan salah.. the real love di sini bukan sesuatu yang membuat saya melepas status jomblo. Karena the real love itu adalah cinta karena Allah. Ciri-cirinya :

  • tidak bertambah dengan adanya pemberian
  • tidak berkurang dengan tiadanya pemberian
  • tidak bertambah dengan seringnya ketemuan
  • tidak berkurang dengan perpisahan
  • bukan karena kepentingan

Indah bukan?? (*´v*)

Mereka mengamalkan anjuran mengungkapkan cinta karena Allah. Tidak hanya itu, kami juga saling memberi nasehat dan saling mendo’akan. ヽ(゚ω゚ )ノヽ( ゚ω゚)ノヽ(゚ω゚ )ノ

Semoga Allah selalu merahmati mereka…  Sesungguhnya kami sangat berharap akan naungan Allah kelak ketika nanti matahari berada di atas kepala-kepala manusia dan tiada naungan lain selain dariNya.

゚.+:。 .+:。゚.+:。 .+:。゚.+:。 .+:。゚.+:。 .+:。

Phew.. Cukup banyak juga hal-hal positif yang saya dapat selama setahun, namun bisa jadi banyak juga yang terlewat tanpa ada FB dalam hidup saya (*^-^). Dan saya harap, para facebooker yang masih aktif dapat mengisi aktifitas positif di FB (o ̄∇ ̄)/. Karena saya yakin, tidak hanya pena atau tindakan nyata saja yang mampu memberi kebaikan.

Jadikan FB di tangan Anda memberi perubahan positif!!! (o ̄∇ ̄)/

Atau setidaknya menangkal hal-hal negatif. (`∇´)

Regards,

LayLay

Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

Pencari Ilmu Jalan Pintas

Dilema ini terus membayangiku beberapa tahun lalu. Jalan pencarian ilmu yang seharusnya mendekatkan ke syurga, dihadapkan pada jalan” pintas yang menjanjikan kemudahan dan hasil akhir yang indah, namun semu. Maklum, karena kuliah di jurusan IT, proses ujian pun menunjang sekali tindak kecurangan, bahkan dapat dilakukan via chat box.

Mulanya, aku tergoda juga. Sampai saat datang seseorang yang mengingatkanku, akan ayat Allah :

Az Zumar:60. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?

Lalu? Bukankah curang&menyontek sama dengan berbohong? Berbohong pada diri sendiri, guru, teman, bahkan orang tua.

Nyontek&curang=tidak jujur=dusta=dosa= muka hitam di hari kiamat => bisa” masuk Jahannam.. Naudzubillah!

Bermula dari Taubat

Sebenarnya, judul tulisan ini sudah lama terlintas di benak. Saat itu, aku memang mengalami masa-masa transisi alias hijrah (menjadi pribadi yang lebih baik). Maklum, aku baru bertekad untuk jujur+ikhlas dalam menuntut ilmu. Banyak rangkaian kalimat yang terbersit.. Tapi tak sempat tertulis karena kacaunya pikiran dan galaunya hati saat itu. Setiap kali ujian semester pun, ingin sekali aku menuangkan semua perasaan ini, namun urung. Hal ini karena semata-mata, mencoba jujur dalam mendapat nilai tidaklah mudah. Dengan tekad keras, aku tetap semangat menghapal dan memahami materi, sambil mengesampingkan kesedihan hati.

Ujian Taubatku

Entah mengapa, aku tidak menemukan seorang pun yang beri’tikad sama dari sekian banyak teman-teman di kelas. Saat kuingin diskusi atau bertanya kesulitan dari materi, aku bingung dan tak tahu harus kemana mengungkapkan semua itu. Semua serba sibuk… mereka sangat sibuk dengan kertas-kertas kecil dan hape-hape canggih mereka.

Kerap kali kami berdebat masalah kecurangan yang mereka selalu halalkan. Berbagai alasan pembenaran dan cacian pun cukup membuat kesal. Belum lagi, pandangan marah dan singgungan buruk yang muncul karena aku tak mau membantu mereka dalam kecurangan (seperti menyalurkan kertas contekan, dll). Entah kenapa, napasku jadi sesak dan hati terasa sempit sekali. Bismillah.. Ini cuma ujian dunia.. Setidaknya nanti aku dapat mempertanggungjawabkan semua ini di hadapan Allah karena kejujuran ini.

Curhat Seorang Akhwat

Dia sudah menjadi akhwat di usianya yang ke-17. Subhanallah, hidayah dan cobaan berat datang padanya pada usia semuda itu. Namun, bukankah semakin dalam iman yang dimiliki seseorang, maka cobaan yang dihadapinya semakin berat. Itulah yang banyak dihadapi oleh orang-orang yang berusaha untuk terus istiqomah.

Qadarallah, kami dipertemukan sejak awal untuk selalu sharing masalah pribadi dan ilmu agama, serta thalibul ilmi bersama. Itu yang membuatku sangat mencintainya karena Allah ta’ala. Jum’at lalu, ia minta masukan dan bantuan terhadap masalahnya sebagai pencari ilmu tingkat Sekolah Menengah. Kejadian ini membangunkan semangat diri untuk merajut kata yang akhirnya menjadi kalimat yang Anda baca saat ini.

Ia Di antara Pilihan menjadi Seorang Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

Tidak kaget diriku, saat dia bercerita tentang kecurangan sistem ujian yang terencana di sekolahnya. Sudah pernah kudengar hal yang sama dari pelakunya sendiri -yang adalah kakak seniornya yang sudah lulus-, dan ceritanya cukup mendetail.

Kecurangan yang juga salah satunya juga dipelopori oleh guru mereka sendiri itu membuatnya bimbang. Yang aku herankan, kok ada yang oknum yang rela mengirim jawaban soal ke hape setiap siswa. Heran.. Mengapa tidak langsung saja memanipulasi nilai tanpa ada ujian agar tidak repot.

Saat I’tikad baik akhwat itu muncul, dengan memilih berniat berbuat jujur… ternyata hasilnya tidak memuaskan seperti yang didapat para pencari jalan pintas. Les di guru mata pelajaran pun tidak memecahkan kesulitannya karena alasan” tertentu dan cenderung di saat terakhir les ada bocoran soal dan lain-lain.

Demi Kelulusanmu Nanti… Sedikit Saja Tidak Apa-Apa

Badai cobaan masih terus menerpanya, saat beberapa pihak yang menyayanginya menyarankan dia untuk sesekali melihat jawaban bocoran demi lulusnya dia kelak. Huphf.. Apakah itu benar jalan keluar?? Dia pun memutuskan untuk berusaha lebih dan lebih keras lagi masalah pelajaran, meskipun sistem penilaian dan ujian yang ada sedikit tidak fair.

Ya Allah, bantulah dia.. Dan mudahkan diri hamba untuk membantunya..

Mengapa ini terjadi? Padahal…

Untaian kalam ilahi dalam surat al Mujaadilah:11 cukup menjadi bukti tingginya kedudukan orang-orang yang berilmu di sisi Allah سبحانه و تعالى. Tetapi tak hanya itu… Di dunia fana ini, title ‘intelect‘ dalam ilmu apapun dihargai tinggi di hadapan manusia, baik secara materiil dengan semakin mahalnya gaji/upah, maupun non materiil, seperti meningkatnya prestige (wibawa, martabat) para penyandangnya.

Ukuran kualitas keintelekan (seperti gelar, penghargaan, sertifikat, nilai ujian) dunia pun dikejar. Hal ini diperparah dengan tekanan kebanyakan orang tua sekarang yang memimpikan anak-anak mereka menjadi bagian dari kaum intelektual. Memang, sah-sah saja keinginan mereka.. Namun, jika pada akhirnya tujuan mereka dan sang anak hanya sekedar materi dan prestige di dunia semata, anugerah berupa derajat yang tinggi di sisi Allah سبحانه و تعالى tak lagi berlaku.. Bahkan, bisa mendatangkan adzab karena lunturnya keikhlasan dan tenggelamnya diri ke dalam hawa nafsu.

Saat Pribadi Harus Memilih..

Mengajarkan ilmu dan memfasilitasi anak untuk mencari ilmu memang kewajiban orang tua. Di jaman sekarang ini, saking inginnya orang tua melihat anaknya berhasil dan sekolah tinggi, tak sedikit yang rela membanting tulang mengais rezeki, untuk memenuhi materi pendidikan anak. Fasilitas anak untuk sekolah tinggi pun dipenuhi, mulai dari biaya kos/hidup yang layak, kendaraan, komputer/laptop, buku, internet dsb. Orang tua seperti ini adalah anugerah. Namun, jika mereka juga mendukung anaknya mencari ‘jalan pintas’, di sinilah pribadi harus memilih :

Teguh sebagai pencari ilmu di jalan yang terjal dan mengambil resiko kesedihan orang tua akan bayangan kegagalan.. Karena menjalaninya tidaklah mudah..

Atau..

Ikut dalam rombongan pencari jalan pintas yang cukup mulus, dengan resiko kegagalan terlihat lebih sedikit namun Allah tidak ridha padanya.


Beda Mereka..

Batasan ruang lingkup : sekolah/kuliah

Parameter Pencari Ilmu Pencari Jalan Pintas
Proses masuk sekolah/kuliah Masuk dengan nilai murni 100% mikir sendiri dan memenuhi standart diterima Nilai antara diterima dan tidak. Diterima pun dengan ‘sedikit’ uang sogok atau karena ada link pihak internal.
Absensi
  • Tanda tangan 100% asli
  • Ikut dari awal hingga akhir
  • Sering nitip ttd ke temen
  • Hadir demi absen
  • Setelah absen suka ngacir
Waktu Kehadiran Datang tepat waktu, maksimal terlambat/tidak hadir karena udzur Datang telat tanpa dosa
Peralatan dan perlengkapan belajar Memenuhi standart untuk mengikat ilmu Minta/pinjam teman (dengan resiko tidak kembali/hilang/terbawa selamanya)
Catatan Ada dan cukup rapi Catatan tidak punya (maksimal fotokopi punya teman pas mau ujian)
Ketika pengajar menerangkan
  • Menyimak dan memahami
  • Aktif bertanya
  • Mendengarkan
  • Minimal tidak rame
  • Bosen
  • Ngelamun
  • Ngobrol dengan temen (langsung ngomong atau via kertas)
  • Chatting/ngenet pake hape mahal
  • Tidur
  • Dan aktivitas” lain selain memperhatikan pengajar..
Tugas 99% mikir sendiri, 1% diskusi/konsultasi/minta bantuan ke yang lebih ngerti
  • Sering lupa
  • Ingetnya pas deket deathline
  • Copy paste temen
Ujian Berbekal memori otak SEJUTA GIGABYTE, dengan spesifikasi :

  • Memori materi penjelasan pengajar
  • Memori catatan materi tulisan sendiri
  • Pemahaman
  • Pengalaman kerja tugas
  • PeDe!!
Berbekal kertas” kecil (ngopi temen) plus hape canggih dengan spesifikasi :

  • Kamera 2MP ke atas:untuk kejelasan file gambar contekan
  • Fasilitas menyimpan&membaca text file, ppt, atau doc : pembuka file contekan
  • Bluetooth : agar tinggal transfer file contekan dari temen
  • Pulsa : komunikasi selama ujian
Selesai Ujian
  • Check jawaban yang ragu-ragu
  • Diskusi jawaban dengan temen
  • Heboh karena salah/lupa/ga teliti
  • Tawakkal ‘alallah
  • Heboh kasus ketauan pengawas, dll
  • Ngomongin pengawas begini begitu
  • Evaluasi teknik curang
  • Hang out+seneng” sama temen”
Ujian akhir 100% usaha pemikiran sendiri Curang, hasil ‘jahit’ dengan modal duit
LULUS/TIDAK LULUS LULUS:

  • Dengan izin Allah
  • Karena kerja keras dan doa
  • Kemampuan terasah
  • Dan faktor penunjang lain

TIDAK LULUS :

  • Dengan izin Allah
  • Kurang maksimal
  • Terbelit masalah” seperti : fasilitas, referensi, dll
LULUS:

  • Dengan izin Allah
  • Beruntung ga ketauan curang
  • Fasilitas dan uang memadai
  • Dan faktor penunjang lain

TIDAK LULUS :

  • Dengan izin Allah
  • Ketauan curang
  • Sumber kecurangan yang salah, dll

Jika Anda memenuhi :

Kriteria PENCARI ILMU + IKHLAS = DERAJAT TINGGI di sisi Allah 😉

Kriteria PENCARI JALAN PINTAS = MUKA HITAM di hari kiamat

Tetapi, jika Anda mempunyai beberapa kriteria PENCARI JALAN PINTAS dan tidak ingin menjadi seperi rumus di atas, maka ikuti prosedur taubat() berikut:

If taubat(PENCARI_JALAN_PINTAS) = TRUE THEN

setNiat = “Ikhlas lillah”Do

setAction = "tidak mengulangi lagi"

Loop Until MATI
ELSE

MUKA HITAM di hari kiamat

ENDIF

Terapi Disiplin dan Tepat Waktu

Wahai yang mengajari orang lain

Mengapa engkau tidak mengajari dirimu sendiri

Mulailah dari dirimu sendiri dan janganlah menyimpang

Sungguh jika kamu selamat darinya

Maka kamu adalah orang yang bijaksana

Janganlah kamu melarang suatu perilaku

Tetapi kamu melakukan yang semisal dengannya

Adalah aib yang sangat besar

Jika hal itu terjadi..

Tips dan Terapi untuk hidup disiplin dan tepat waktu, baik untuk diri sendiri maupun untuk diterapkan pada kehidupan sosial, di antaranya :

  1. Tarbiyah Imaniyah al-Jaaddah (Serius)
  2. Sesungguhnya pembinaan iman yang serius sudah cukup -dengan izin Allah- untuk mengatasi masalah ini secara total, atau paling tidak dapat memberi andil besar. Akan tetapi, permasalahannya terletak pada kesungguhan itu sendiri. Pemgobatan terhadap sikap meremehkan, lemah semangat, acuh tak acuh dalam bentuk amal nyata sangat diperlukan.

    Janganlah harta dan kemewahan yang kita miliki membuat kita terbiasa meremehkan urusan-urusan kehidupan, bersantai-santai dan lamban.

  3. Berterus terang dan tidak basa basi
  4. Tidak lengkap jika hanya kita yang menerapkan hidup disiplin tanpa membiarkan orang tahu dengan komitmen kita terhadap perencanaan waktu. Dan tentunya jangan biarkan waktu kita banyak terbuang karena menunggu keterlambatan orang lain tanpa memperingatkan kesalahan mereka dan bersikap lunak. Jika hal ini dipraktekkan pada lingkungan kerja, maka keadaan akan berubah dan semakin membuahkan hasil, kesungguhan pun akan bangkit.

    Daripada kebiasaan tidak displin itu menular dan semakin mengakar, komitmen dengan waktu itu lebih baik.

  5. Menetapkan Hukuman yang Setimpal
  6. Hukuman dapat berupa hukuman positif, seperti shodaqoh sebanyak sekian atas pelanggaran disiplin sekian kali. Jika berkaitan dengan suatu kegiatan, hukuman dapat berupa peringatan di depan banyak orang atas keterlambatan untuk dijadikan pelajaran bagi semuanya. Acara juga dapat dimulai tepat waktu, dengan meninggalkan orang-orang terlambat agar mereka merasa bersalah -jika hatinya masih hidup-.

  7. Memberi penghargaan kepada Orang yang Disiplin
  8. Penghargaan setidaknya berupa pujian, namun lebih baik jika berupa hadiah.

  9. Menjadi Teladan dalam Disiplin Waktu
  10. Alangkah baik jika kita dapat memberi contoh. Namun akan lebih baik lagi jika orang-orang besar ataupun organisasi/institusi pembuat acara dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Bagaimana mungkin rakyat akan tepat waktu, jika acara Presiden terkenal molor dan jam karet. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa akan tepat waktu jika dosen selalu tidak tepat waktu, baik saat kedatangannya, maupun saat memulai kuliahnya. Bagaimana para generasi muda akan tepat waktu jika, acara-acara para aktivis organisasi selalu terlambat dan mengecewakan orang-orang yang tepat waktu.

  11. Memulai Acara Tepat Waktu Tanpa Harus Menunggu Orang-Orang yang Terlambat
    1. Orang terlambat akan merasa malu atas keterlambatannya.
    2. Orang terlambat akan merasa akan merasa bahwa orang-orang tidak butuh kepadanya. Akan ada rasa yang terlewat akibat kedatangannya yang terlambat.
    3. Orang lain akan merasakan pentingnya acara yang mereka datangi.
  12. Terapi ini bagus untuk memberi pelajaran di antaranya :

  13. Menetapkan Waktu untuk Memulai Acara
  14. Tentu saja caranya bukan dengan menulis di undangan jam 08.00 kemudian acara sesungguhnya dimulai pukul 08.30. Hal inilah yang membuat penyakit tidak disiplin waktu.

  15. Tetap berada di Tempat Selama Acara Berlangsung
  16. Perkuatlah azzam (tekad) mengikuti suatu kegiatan yang positif sampai akhir, kecuali jika ada udzur.

  17. Membuat Daftar Pengaturan Waktu
  18. Berupa kolom daftar, gagasan (ide-ide), target, dan rentang waktu pelaksanaan untuk mempermudah mengingat dan memotivasi lagi rencana yang telah kita buat.

  19. Meminta Udzur Lebih Awal
  20. Jika ada keperluan mendesak yang membuat kita tidak dapat tepat waktu/tepat janji, maka sampaikanlah di awal. Janganlah berpura-pura lupa dan tidak meminta udzur seperti tidak ada masalah apapun.

  21. Mempersiapkan diri secara Maksimal

Persiapkan diri secara maksimal untuk menjalankan perencanaan waktu yang kita buat. Jangan sampai nantinya banyak udzur yang membuat tekad untuk disiplin dan tepat waktu kita luntur.

Sebuah rangkuman ilmu dari tulisan:

**** Dr. Muhammad Musa Syarif. Muslim Ideal Muslim Tepat Waktu hal.35 . Penerbit al Bayan****

Sekedar Penutup Aurat

Perhatianku tertuju pada sosok-sosok wanita yang anggun dengan jilbabnya. Benar, mereka tampak anggun sekali dengan sehelai kain yang menutup kepala dan dadanya. Jilbab itu cukup lebar untuk dikenakan. Cukuplah penampilannya membedakan dengan wanita-wanita lain yang kurang memahami batasan tubuh mana yang harus ditutupi.

Memang, saat ini jilbab sudah banyak dimiringkan maknanya menjadi trend dan mode. Sehingga hakekat jilbab pun sudah kabur dari sebagian besar kaum wanita. Ups, ternyata tidak hanya jilbab-jilbab mini dan ketat saja yang menjadi mode. Tetapi di kalangan tertentu, jilbab besar juga punya pesona tersendiri bagi pemakainya. Simbolik tergabungnya ia dengan kelompok tertentu misalnya. Tidak semua pemakainya berpikir demikian. Hanya saja, sayang sekali ada segelintir orang yang tak memenuhi konsekuensi dari hijab yang dipakainya itu.

Orang awam akan lebih familiar dengan kata jilbab daripada hijab. Jilbab lebih condong diartikan sebagai penutup kepala, sedangkan hijab adalah penutup keseluruhan aurat. Jadi, hendaklah wanita tidak hanya berjilbab, akan tetapi menutup bagian tubuh yang termasuk aurat. Hijab: maksudnya, busana wanita muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuhnya dari kepala hingga telapak kaki, hijab tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu.

Ketentuan-ketentuan ber-hijab, di antaranya:

  • Hijab itu longgar, sehingga tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh.
  • Tebal, hingga tidak kelihatan sedikit pun bagian tubuhnya.
  • Tidak memakai wangi-wangian.
  • Tidak meniru mode pakaian wanita-wanita kafir, sehingga wanita-wanita muslimah memiliki identitas pakaian yang dikenal.
  • Tidak memilih wama kain yang kontras (menyala), sehingga menjadi pusat perhatian orang.
  • Hendaknya menutupi seluruh tubuh, selain wajah dan kedua telapak tangan, menurut suatu pendapat, atau menutupi seluruh tubuh dan yang tampak hanya mata, menurut pendapat yang lain.
  • Hendaknya tidak menyerupai pakaian laki-laki, sebab hal tersebut dilarang oleh syara’.
  • Tidak memakai pakaian yang sedang menjadi mode dengan tujuan pamer misalnya, sehingga ia terjerumus kepada sifat membanggakan diri yang dilarang agama.

Hati ini miris sekali. Sudah cukup gadis-gadis berjilbab mini+ketat di luar sana keluyuran dengan pria bukan mahramnya. Kesana-kemari dengan pakaian ketat panjang, dengan jilbab mini/ketat/tipis yang menutupi kepalanya, tapi masih menampakkan bentuk dan terawangan rambut  – isi dari jilbabnya. Tetapi ternyata pelakunya bukan mereka saja. Wanita anggun dengan jilbab yang sampai menutupi dadanya pun ada yang tanpa dosa melakukan hal yang sama. Keluyuran dan boncengan dengan yang bukan mahram, masih colak-colek, bersentuhan, bersalaman dengan pria non-mahram, pacaran,  khalwat, ikhtilat, suka gossip, mencontek, bohong dsb.

Entah kenapa ia tidak mau tahu dengan esensi hijab dan konsekuensi pemakai hijab. Apalah artinya sebuah jilbab, yang menutupi seluruh tubuh sekalipun, jika akhlaqnya tidak islami, bahkan menyalahi syari’at. Allah ingin melindungi kita dengan hijab dan itulah batas yang telah ditetapkanNya.

Perlu direnungkan lagi eksistensi jilbab yang kita kenakan. Apakah kita sudah mengenakannya karena Allah? Ataukah karena mode jilbab yang modis&trendy saat ini? Atau sekedar penutup kepala saat keluar rumah? Agar diterima oleh kelompok tertentu? Hanya sekedar formalitas institusi yang sedang kita jalani (karena diwajibkan misalnya)?  Ngikut artis? Disuruh orang lain (pacar,ortu,dll)?

Ada beberapa indikasi ketidakikhlasan kita-kaum wanita- dalam menggunakan jilbab :

  • Kurang selektif membeli dan mengenakan jilbab, sehingga yang mini, ketat, dan tipis menerawang pun dikenakan.
  • Mudah mengeluh dengan jilbab, misalnya : panas dll.
  • Mengenakannya hanya ketika di luar. Saat orang non mahram ke rumah atau lewat rumah, mereka bisa lihat tontonan gratis sosok lain dari wanita berjilbab yang mereka kenal… tanpa jilbab.
  • Merasa biasa-biasa dengan rambut/bagian tubuh yang masih aurat jika terlihat orang lain. Misal, rambut keluar saat masih berjilbab, rok dengan sobekan besar, lengan baju terlipat hingga 3/4 tangan, dada/leher terlihat, dan sebagainya.
  • Tidak menjaga sikap secara syar’i sebagai konsekuensi dikenakannya jilbab yang merupakan genderang penegakan syari’ah Islam pada diri wanita muslimah. Jilbab disyari’atkan Allah agar wanita tidak diganggu. Lalu  bagaimana jika wanita dengan jilbabnya malah tidak dapat menjaga kelakuan dan batas-batasnya dengan laki-laki non mahram. Bukan berarti dengan menggunakan jilbab saja kita merasa telah aman dari gangguan lelaki. Gangguan itu sangat mungkin jika wanita masih tabaruj (dandan), sering berinteraksi dengan lelaki, dan tidak mempertegas sikap terhadap mereka.

Indikasi di atas berbahaya sekali. Bisa-bisa jilbab yang dikenakannya tidak bertahan lama. Bahkan bisa ditanggalkan sama sekali. Naudzubillah… Bertaubatlah hai para wanita berjilbab yang menganggap jilbab hanya  sebagai penutup aurat saja tanpa diiringi perubahan sikap ke arah yang lebih baik. Semoga dengan sedikit tulisan ini, kita dapat mulai berbenah diri dalam memakai jilbab. Jadikan ia sebagai awal komitmen kita dalam menjaga sikap.. Bukan hanya sekedar penutup aurat.. Tetapi sebagai bentuk ketaqwaan kita terhadap Allah swt.

Bismillahirrahmaanirrohiim..

Kami niatkan hijab ini karnaMu yaa Rabb..

Nasihat & Syair Yahya bin Mu’adz Rahimahullah

Aduhai

Kiranya pada Lauh Mahfuzh

Tidak dicatatkan suatu dosa pun

Yang telah ditaqdirkan atas hamba-Nya?

Bagaimanakah cara untuk selamat bagi seorang hamba

yang Engkau adalah Penciptanya

Dan yang membekalinya dengan fitrah

Apakah yang hendak Engkau kehendaki denganNya wahai Tuhanku?

p style=”text-align: center;”>Aduhai celakalah pada hari ia dipanggil menghadap Engkau

Setelah dibangkitkan dari kematiannya

Sedang buku catatan amal perbuatannya terbuka

Aku sibuk dengan dosa-dosaku

Hai lelaki, tolonglah aku

Sesungguhnya hatiku benar-benar sedang sibuk

Bagaimana aku berharap agar bisa bertobat

Sedang hatiku sibk meratapi diriku

Tidak diragukan lagi diriku akan binasa

Karena kuhabiskan masaku

Dengan celaan-celaan

Aku tidak akan mengangisi diriku seandainya ia mati, melainkan aku menangisi keperluanku jika terlewatkan dariku

Pantaskan aku masi berharap kepadaMu atas dosa-dosa yang kulakukan, padahal kulihat Engkau tidak pernah mencegah pemberianMu karena dosa.

Jika Dia menerapkan keadilanNya atas manusia, tentulah tidak akan ada suatu kebaikan pun yang tersisa bagi mereka.

Jika Dia memberikan karuniaNya kepada mereka, tentulah tidak ada suatu keburukan pun bagi mereka yang masih tersisa.

Padang di dunia ditempuh dengan jalan kaki dan padang di akhirat ditempuh dengan hati.

Hai anak Adam, agamamu masih tetap terkoyak selama hati(mu) masih dibebani oleh cinta keduniawian.

Tiada seorang pun yang merasa tenang dengan dunia, melainkan penyakit hati pasti akan menetapinya.

Tidaklah sekali-kali dunia menguasai diri seseorang, melainkan ia akan terjerumus dalam lautan dosa.

Suatu hari yang terik Yahya bin Mu’adz melihat seorang lelaki menjebol gunung sambil bernyanyi, maka ia berkata :

“Kasihan anak Adam, padahal mengangkat bebatuan lebih mudah daripada meninggalkan dosa-dosa! “

Barangsiapa yang tidak ridha kepada Allah karena laranganNya, pastilah ia tidak akan selamat dari laranganNya.

Mereka mencari zuhud dari kandungan kitab-kitab, padahal zuhud itu hanya didapat dalam kandungan tawakkal sekiranya mereka mengetahui.

Suatu hari dia melihat seorang sedang menciumi anakknya yang masih kecil, lalu ia bertanya:”apakah engkau mencintainya?” orang itu menjawab:” Ya”.

Ia berkata:”ini gambaran kecintaanmu kepadanya karena kamu yang melahirkannya, maka bagaimanakah dengan cinta Allah kepadanya karena Dialah yang telah menciptakanNya?”

Mereka mengarungi lautan cobaan dengan berenang hingga sampailah mereka ke pantai anugerah. Mereka juga mengarungi lautan anugerah dengan berenang hingga sampailah mereka kepada Tuhan semua makhluk.

Barang siapa yang memusatkan hatinya kepada Allah niscaya akan terbukalah sumber-sumber hikmah dalam hatinya dan mengalir melalui lisannya

Dia tenggelam dalam cobaan dirinya, karena dia ingin selamat dari murka Tuhannya dengan kejernihannya.

Bila kuberada di atas mimbar, kuberikan semangat kepada kaum mujahidin untuk berjihad tanpa sepengetahuan orang lain.

Tidak akan beruntung orang yang tercium darinya ambisi ingin menjadi pemimpin

Kesimpulan dari semua urusan terletak pada dua perkara yaitu tenangnya hati dengan rizki dari arah ini(dunia) dan bersungguh-sungguh dalam mencari rizki untuk berbekal ke arah itu(hari akhirat)

Jangan Anda merasa terlambat untuk dikabulkan karena jalan-jalan menuju ke arahnya telah terbendung oleh dosa-dosa (Anda sendiri).

Tinggalkanlah dunia sebelum Anda ditinggalkan (olehnya) dan mohonlah ridha Tuhan Anda sebelum Anda bersua dnganNya. Makmurkanlah rumah yang Anda tinggali dengan ketaatan kepada Allah sebelum Anda beralih kepadanya (liang kubur)..

Keluasan yang diperoleh mereka di sisiNya tiada lain karena kedudukan mereka di sisiNya

Barang siapa yang kalbunya selalu disertai dengan kebaikan, niscaya keburukan tidak akan dapat membahayakannya.

Barang siapa yang kalbunya selalu disertai dengan keburukan, niscaya kebaikannya tidak akan berguna baginya..

Seandainya akal dapat melihat hiburan surga melalui mata imannya, niscaya akan leburlah jiwa ini karena rindu padanya..

Seandainya hati dapat mengetahui eksistensi kecintaan ini kepada Khaliqnya, niscaya akan terlepaslah semua sendi-sendi karena tergila-gila kepadaNya dan niscaya akan terbanglah ruh ini dari badannya karena terkejut ingin menghadap kepadaNya

Mahasuci Tuhan yang melalaikan makhlukNya dari mengetahui hal-hal ini dan melalaikan mereka dari gambaran hakikat semuanya

Janganlah Anda menuntut ilmu karena riya’ dan jangan pula Anda meninggalkannya karena malu..

Musibah paling besar yang menimpa orang bijak adalah bila sehari yang dilaluinya tidak menyebabkan ia mendapat hadiah dari Tuhannya, yakni hikmah yang baru..

Dunia adalah pemimpin orang yang mengejarnya dan pelayan orang yang meninggalkannya. Dunia itu mengejar dan dikejar. Barang siapa yang mengejarnya, ia akan menolak, dan barang siapa yang menolaknya, dia akan mengejarnya..

Dunia adalah jembatan akhirat. Oleh karena itu, seberangilah ia dan janganlah Anda menjadikannya sebagai tujuan. Tidaklah berakal orang membangun gedung-gedung di atas jembatan..

Dunia adalah mempelai dan orang yang memburunya adalah yang meriasnya dan dengan zuhud akan tercabutilah rambutnya, menjadi hitamlah wajahnya, dan tercabik-cabiklah pakaiannya. Barang siapa menceraikan dunia, maka akhirat adalah istrinya. Dunia itu telah diceraikan oleh orang-orang cerdik tanpa batasan bagi ‘iddahnya untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, tinggalkanlah dunia dan janganlah Anda mengingat-ingatnya, tetapi ingatlah akhirat dan jangan sampai Anda melupakannya..

Ambillah dari dunia sesuatu yang dapat menjadi bekal untuk akhirat Anda dan janganlah Anda mengambil dari dunia sesuatu yang menghalangi akhirat Anda..

Kesempurnaan ampunan terletak pada tiga hal :

1. Penerimaan yang baik;

2. Ilmu yang dihafal; dan

3. Mendermakan karunia.

Pengertian “peneriamaan yang baik’ ialah Anda mendengar (pengajian) dengan niat mengambil faidah dan menghidupkan daya nalar Anda. Jangan sampai Anda ‘sok tahu’ tentang apa yang Anda dengar, karena sikap ini termasuk ke dalam sifat sombong dan merusak amal..

Sikap rendah diri tidak akan dimiliki oleh orang yang pengetahuannya tidak ia gunakan sesuai dengan bakatnya dan tidak sesuai dengan disiplin pengetahuannya dan digunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya.

Pertanda orang yang bertaqwa kepada Allah ada tiga :

1. Memprioritaskan ridhoNya

2. Selalu bertaqwa kepadaNya

3. Menentang hawa nafsunya

Dengan kata lain, ridha Allah di atas kepuasan hawa nafsunya. Ia selalu menemani ketaqwaannya, tidak pernah beranjak darinya, baik dalam keadaan suka maupun duka, gembira maupun sedih, senang maupun marah. Ia selalu menentang hawa nafsu yang menjauhkannya dari Allah dan merugikan pahala dariNya

Orang yang bertobat ditangisi oleh dosanya, orang zuhud ditangisi oleh dunia yang ditinggalkannya, dan orang yang shiddiq ditangisi oleh rasa takut kehilangan imannya.

Pemikiran Anda tentang dunia ini akan melalaikan Anda dari Tuhan Anda dan juga dari agama Anda, maka terlebih lagi jika Anda menanganinya secara langsung dengan seluruh anggota tubuh Anda.

Peliharalah kantung iman Anda, jangan sampai digerogoti oleh tikus.

Ya Tuhanku, jaminlah amal-amalku sebagai ghanimah di kesudahnnya dan cegahlah hawa nafsuku dari kesenangan menghapuskannya.

Mahasuci Tuhan yang menukar yang disukai dengan yang dibenci (dunia). Surga adalah disukai orang mukmin. Ia membelinya dari Allah dengan yang dibenci.

Barangkali Anda mengetahui seseorang dari mereka mengatakan: “selama 20 tahun aku mencari Tuhanku”. Kasihan kamu! Carilah dirimu sampai kamu menemukannya. Jika engkau menemukannya, berarti engkau dapat menemukan Tuhanmu.

Dunia di sisi Allah tidak sebanding dengan nilai sayap nyamuk pun dan Dia tidak memintanya kepada Anda sebesar sayap nyamuk pun.

Wahai orang-orang yang ingin menempuh jalan akhirat dan kebenaran, wahai orang-orang yang menempuh amal ibadah dan kezuhudan, ketahuilah :

Barang siapa yang tidak memperbaiki akalnyak, maka ia tidak dapat menyembah Tuhannya dengan baik.

Barang siapa yang tidak mengetahui penyakit amal, maka ia tidak akan dapat menghindari diri darinya.

Barang siapa yang tidak benar perhatiannya dalam mencari sesuatu, maka dia tidak akan dapat memanfaatkannya bila mendapatkannya.

Ketahuilah, bahwa Anda diciptakan untuk urusan yang besar lagi sangat penting

Ketahuilah, bahwa ilmu itu tidak dikehendaki untuk diketahui saja, melainkan dikehendaki untuk diketahui dan diamalkan, karena pahala amal itu dapat diraih berdasarkan pengamalan, bukan karena ilmu semata.

Tidakkah Anda lihat bahwa ilmu itu apabila tidak diamalkan, maka akan berubah menjadi bencana dan senjata makan tuan?