Mengapa Sulit Tepat Waktu?

‘Jam karet’ sudah tidak asing lagi kita temui di sekitar kita. Bahkan, mungkin kita sendiri adalah para pelakunya. Sayangnya, saat ini hal itu sudah dianggap lumrah. Pelakunya pun seakan tidak berdosa. Lalu, apakah kita di sini terhitung melakukan dosa? Bukankah tepat waktu berkaitan dengan janji atau komitmen akan sesuatu hal ? Seorang muslim selayaknya lebih tepat waktu dari umat lain. Mari kita simak di sini, apa saja yang membuat seorang muslim sulit tepat waktu.

Janji demi janji berlalu silih berganti dalam kehidupan kita. “Kita rapat jam 9.00”, “Masuk kuliah jam 7.00”, “Acara dimulai jam 19.00”, “Mulai kajian. ba’da ashar” dan sebagainya.. Jika tengok lagi ke belakang,  berapa persen kita dapat tepat waktu? Berapa persen kita terlambat? Berapa persen kita membatalkan janji dengan pemberitahuan sebelumnya? Berapa persen kita tidak memenuhi janji dan meminta maaf sesudah waktu yang dijanjikan? Dan berapa persenkah kita menyalahi janji tanpa alasan bahkan tanpa pemberitahuan? Naudzubillah, semoga kita dimudahkan untuk lebih tepat waktu mulai saat ini…

Sudah jelas sekali bahwa pada diri seseorang yang tidak tepat waktu dan ingkar janji baik tanpa udzur (halangan) maupun yang sering ber-udzur dikarenakan sikap mudah menyalahi janji dan meremehkannya.  Dan sikap mudah meremehkan janji, timbul kepribadian buruk kita karena sebab-sebab berikut :

  1. Lemahnya Iltzam (Berpegang Teguh) pada Hukum-Hukum Syar’I

  2. Sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa mengingkari janji tanpa udzur tidak dibenarkan secara syar’i. Rasulullah saw mengkategorikan ingkar janji adalah termasuk nifaq amali, dengan sabda :

    “Tanda-tanda orang munafiq ada tiga; apabila ia berbicara ia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. al Bukhari)

    Celakanya sebagian orang -yang tampaknya ber-iltizam- jika diingatkan pada sebuah janji, terbersit niat untuk menyelisihinya. Sesungguhnya sejak awal ia tidak ingin menepatinya, namun ia berjanji demi menghindar dari orang lain dan bersih dari cacat. Naudzubillah..

  3. Tidak Adanya Pengetahuan bahwa Menyelisihi Janji tidak Diperbolehkan Kecuali Karena Udzur

  4. Tidak Adanya Perhatian

  5. Sifat ini dikarenakan kurang pahamnya urgensi tepat janji serta sifat acuh tak acuh terhadap perasaan manusia. Sehingga Anda menyaksikan mereka tidak perhatian untuk hadir TEPAT WAKTU, atau bahkan Anda melihat mereka benar-benar tidak hadir. Di antara mereka juga tidak merasa terbebani untuk meminta udzur meski via telepon. Orang semacam ini tidak layak dipercaya dan diberi kepercayaan.

  6. Tidak Memiliki Alat Kontrol Waktu (Jam)

  7. Jam merupakan sarana untuk selalu disiplin dalam mengatur waktu. Tanpa jam, seseorang akan sulit untuk tepat waktu. Namun, dalam memenuhi janji dengan orang penting, seperti menteri / presiden, seseorang cenderung datang tepat waktu /sebelum waktu yang ditentukan. Hal ini ia lakukan untuk hati-hati dan agar nampak kedisiplinannya.!! Beginilah kenyataan yang terjadi.

  8. Tidak Ada Usaha Untuk Menepatinya

  9. Ada orang yang tidak tepat waktu karena tidak tahu akan pentingnya tepat waktu, atau dia menganggap ada hal yang lebih penting darinya. Hal ini tak dapat dijadikan udzur. Karena mestinya udzur disampaikan sejak awal, sehingga orang lain tak menunggu kehadirannya. Namun, ada saja alasan orang malas meminta udzur, karena kekhawatiran udzur tidak diterima,  atau su’udzon (buruk sangka) atau sebab-sebab lain tak beralasan.

  10. Tidak Memiiki Prioritas Amal

  11. Sebagian orang tidak menepati janji karena alasan yang kurang masuk akal, seperti :

    1. Saya terlambat karena bersama istriku di pasar.
    2. Saya terlambat karena istriku meminta untuk diantar ke rumah keluarga atau temannya.

    Seharusnya waktu dapat diatur sebelumnya, agar janji dapat terpenuhi.

  12. Saya terlambat karena memiliki janji yang lain.
  13. Tidak semestinya kita membuat janji pada waktu bersamaan dan tempat yang berbeda.

  14. Saya terlambat karena ada tamu dadakan dan mereka lama bertamu.
  15. Hal ini bukanlah udzur. Kalau begitu, mana yang lebih penting antara menerima tamu lalu terlambat janji atau meminta udzur kepada mereka lalu memenuhi janji? Masih tidak diragukan lagi bahwa meminta udzur itu lebih utama. Tidak semestinya seseorang merelakan suatu janji/tugas yang harus dia kerjakan, hanya untuk memenuhi hak tamu yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

  16. Saya terlambat karena mobilku tidak ada
  17. Janganlah merasa berat untuk memenuhi janji walaupun kendaraan tidak memungkinkan. Dan janganlah merasa gengsi untuk naik angkot sebagai alternatif.

  18. Saya terlambat karena ada agenda lain
  19. Janganlah seseorang membuat banyak janji padahal ia tidak bisa menepatinya. Orang Arab dahulu pernah berkata, “Ada dua perkara yang tidak selamat dari kedustaan, yaitu : banyak janji dan sering udzur” (At Tadzkirah Al Hamduniyah :8/160)

  20. Saya terlambat karena macet
  21. Hal ini haruslah disikapi, karena macetnya jalan dapat diprediksi pada waktu-waktu tertentu.

  22. Saya terlambat karena bertemu seseorang di jalan.

Bagaimanapun juga prioritas utama kita adalah memenuhi janji. Sudah selayaknya hal-hal seperti mengobrol dengan orang yang tidak sengaja ditemui di jalan dapat kita minimalisir.

  • Tidak Memiliki Sarana Pembantu

  • Bagi beberapa orang yang beragenda padat, sarana pembantu seperti time table dan sekretaris merupakan sebuah kebutuhan.

  • Tidak Teguh dalam Menghadapi Masalah

  • Masalah tepat waktu perlu diterapkan dengan memberi pelajaran kepada orang-orang yang meremehkan dan melalaikannya. Perlu ada teguran secara baik dan ketegasan agar hal ini tidak seringkali terulang.

  • Lingkungan dan Masyarakat

  • Sifat-sifat heterogen masyarakat, seperti hidup tidak teratur, malas,  cuek terhadap kesalahan, enggan bertemu orang lain, berleha-leha dan tidak teguh dalam menghadapi suatu perkara merupakan beberapa poin yang perlu disikapi.

    Tidak semestinya kita menyerah dan rela terhadap keadaan yang begini begitu saja, akan tetapi kita harus tertuntut untuk mengobati dan menanganinya.

  • Kepribadian dan Sosiologi Masyarakat

  • Misalnya perbedaan penepatan waktu antara orang timur dan barat. Orang negeri timur seakan tidak mengenal manajemen waktu. Bahkan tepat waktu seakan sangat asing dan berat bagi mereka.  Marilah pahamkan orang-orang yang berada di sekeliling kita, sekaligus sabar dalam membimbing mereka-meskipun berat bagi mereka ketika memulai untuk selalu menepati janji.  Tidak disiplin waktu itu memberikan mudharat bagi mereka sendiri dan orang lain.

    .

    Sebuah estafet ilmu dan hasil inspirasi dari tulisan:

    ** Dr.  Muhammad Musa Syarif. Muslim Ideal Muslim Tepat Waktu hal.35 . Penerbit al bayan**

    Advertisements

    Sekedar Penutup Aurat

    Perhatianku tertuju pada sosok-sosok wanita yang anggun dengan jilbabnya. Benar, mereka tampak anggun sekali dengan sehelai kain yang menutup kepala dan dadanya. Jilbab itu cukup lebar untuk dikenakan. Cukuplah penampilannya membedakan dengan wanita-wanita lain yang kurang memahami batasan tubuh mana yang harus ditutupi.

    Memang, saat ini jilbab sudah banyak dimiringkan maknanya menjadi trend dan mode. Sehingga hakekat jilbab pun sudah kabur dari sebagian besar kaum wanita. Ups, ternyata tidak hanya jilbab-jilbab mini dan ketat saja yang menjadi mode. Tetapi di kalangan tertentu, jilbab besar juga punya pesona tersendiri bagi pemakainya. Simbolik tergabungnya ia dengan kelompok tertentu misalnya. Tidak semua pemakainya berpikir demikian. Hanya saja, sayang sekali ada segelintir orang yang tak memenuhi konsekuensi dari hijab yang dipakainya itu.

    Orang awam akan lebih familiar dengan kata jilbab daripada hijab. Jilbab lebih condong diartikan sebagai penutup kepala, sedangkan hijab adalah penutup keseluruhan aurat. Jadi, hendaklah wanita tidak hanya berjilbab, akan tetapi menutup bagian tubuh yang termasuk aurat. Hijab: maksudnya, busana wanita muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuhnya dari kepala hingga telapak kaki, hijab tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu.

    Ketentuan-ketentuan ber-hijab, di antaranya:

    • Hijab itu longgar, sehingga tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh.
    • Tebal, hingga tidak kelihatan sedikit pun bagian tubuhnya.
    • Tidak memakai wangi-wangian.
    • Tidak meniru mode pakaian wanita-wanita kafir, sehingga wanita-wanita muslimah memiliki identitas pakaian yang dikenal.
    • Tidak memilih wama kain yang kontras (menyala), sehingga menjadi pusat perhatian orang.
    • Hendaknya menutupi seluruh tubuh, selain wajah dan kedua telapak tangan, menurut suatu pendapat, atau menutupi seluruh tubuh dan yang tampak hanya mata, menurut pendapat yang lain.
    • Hendaknya tidak menyerupai pakaian laki-laki, sebab hal tersebut dilarang oleh syara’.
    • Tidak memakai pakaian yang sedang menjadi mode dengan tujuan pamer misalnya, sehingga ia terjerumus kepada sifat membanggakan diri yang dilarang agama.

    Hati ini miris sekali. Sudah cukup gadis-gadis berjilbab mini+ketat di luar sana keluyuran dengan pria bukan mahramnya. Kesana-kemari dengan pakaian ketat panjang, dengan jilbab mini/ketat/tipis yang menutupi kepalanya, tapi masih menampakkan bentuk dan terawangan rambut  – isi dari jilbabnya. Tetapi ternyata pelakunya bukan mereka saja. Wanita anggun dengan jilbab yang sampai menutupi dadanya pun ada yang tanpa dosa melakukan hal yang sama. Keluyuran dan boncengan dengan yang bukan mahram, masih colak-colek, bersentuhan, bersalaman dengan pria non-mahram, pacaran,  khalwat, ikhtilat, suka gossip, mencontek, bohong dsb.

    Entah kenapa ia tidak mau tahu dengan esensi hijab dan konsekuensi pemakai hijab. Apalah artinya sebuah jilbab, yang menutupi seluruh tubuh sekalipun, jika akhlaqnya tidak islami, bahkan menyalahi syari’at. Allah ingin melindungi kita dengan hijab dan itulah batas yang telah ditetapkanNya.

    Perlu direnungkan lagi eksistensi jilbab yang kita kenakan. Apakah kita sudah mengenakannya karena Allah? Ataukah karena mode jilbab yang modis&trendy saat ini? Atau sekedar penutup kepala saat keluar rumah? Agar diterima oleh kelompok tertentu? Hanya sekedar formalitas institusi yang sedang kita jalani (karena diwajibkan misalnya)?  Ngikut artis? Disuruh orang lain (pacar,ortu,dll)?

    Ada beberapa indikasi ketidakikhlasan kita-kaum wanita- dalam menggunakan jilbab :

    • Kurang selektif membeli dan mengenakan jilbab, sehingga yang mini, ketat, dan tipis menerawang pun dikenakan.
    • Mudah mengeluh dengan jilbab, misalnya : panas dll.
    • Mengenakannya hanya ketika di luar. Saat orang non mahram ke rumah atau lewat rumah, mereka bisa lihat tontonan gratis sosok lain dari wanita berjilbab yang mereka kenal… tanpa jilbab.
    • Merasa biasa-biasa dengan rambut/bagian tubuh yang masih aurat jika terlihat orang lain. Misal, rambut keluar saat masih berjilbab, rok dengan sobekan besar, lengan baju terlipat hingga 3/4 tangan, dada/leher terlihat, dan sebagainya.
    • Tidak menjaga sikap secara syar’i sebagai konsekuensi dikenakannya jilbab yang merupakan genderang penegakan syari’ah Islam pada diri wanita muslimah. Jilbab disyari’atkan Allah agar wanita tidak diganggu. Lalu  bagaimana jika wanita dengan jilbabnya malah tidak dapat menjaga kelakuan dan batas-batasnya dengan laki-laki non mahram. Bukan berarti dengan menggunakan jilbab saja kita merasa telah aman dari gangguan lelaki. Gangguan itu sangat mungkin jika wanita masih tabaruj (dandan), sering berinteraksi dengan lelaki, dan tidak mempertegas sikap terhadap mereka.

    Indikasi di atas berbahaya sekali. Bisa-bisa jilbab yang dikenakannya tidak bertahan lama. Bahkan bisa ditanggalkan sama sekali. Naudzubillah… Bertaubatlah hai para wanita berjilbab yang menganggap jilbab hanya  sebagai penutup aurat saja tanpa diiringi perubahan sikap ke arah yang lebih baik. Semoga dengan sedikit tulisan ini, kita dapat mulai berbenah diri dalam memakai jilbab. Jadikan ia sebagai awal komitmen kita dalam menjaga sikap.. Bukan hanya sekedar penutup aurat.. Tetapi sebagai bentuk ketaqwaan kita terhadap Allah swt.

    Bismillahirrahmaanirrohiim..

    Kami niatkan hijab ini karnaMu yaa Rabb..