Kisah Seorang Suami Yang Mencintai Istrinya Karena Allah

Ditulis oleh Farid Ma’ruf

Dilihat dari usia beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Masa Pak Suyatno, 58 tahun ke sehariannya diisi dengan merawat isterinya yang sakit. isterinya juga sudah tua. Mereka berkahwin sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikurniakan 4 orang anak. Disinilah awal cubaan menerpa, setelah isterinya melahirkan anak ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak boleh digerakkan. Hal itu terjadi selama dua tahun.

Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnya pun sudah tidak mampu digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapkan, dan mengangkat isterinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat ke tempat kerja dia meletakkan isterinya di hadapan TV supaya isterinya tidak berasa kesunyian.

Walau isterinya tidak dapat bercakap, tapi dia selalu melihat isterinya tersenyum, dan Pak Suyatno masih berasa beruntung kerana tempat kerjanya tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga siang hari dia boleh pulang ke rumah untuk menyuapi isterinya makan. Petangnya dia pulang memandikan isterinya, mengganti pakaian, dan selepas maghrib dia temankan isterinya menonton TV sambil bercerita apa sahaja yang dia alami seharian.

Walaupun isterinya hanya mampu memandang (tidak mampu memberikan respon), Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda dan bergurau dengan isterinya setiap kali menjelang tidur.

Rutin ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat isterinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bongsu yang masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Kerana setelah menikah mereka tinggal dengan keluarga masing-masing.

Dan Pak Suyatno tetap merawat ibu kepada anak-anaknya, dan yang dia inginkan hanya satu: semua anaknya berjaya.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata : “Pak kami ingin sekali merawat ibu… Semenjak kami kecil kami melihat bapak merawat ibu dan tidak ada sedikit pun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak izinkan kami menjaga ibu.”

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya…

“Sudah yang kali keempat kami mengizinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengizinkannya. Bila bapak akan menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini… Kami sudah tidak sampai hati melihat bapak begini… Kami berjanji akan merawat ibu dengan sebaik-baiknya secara bergantian,” ujar anaknya yang sulung merayu.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anaknya.

“Anak-anakku… Jikalau hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan berkahwin lagi. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian…” Sejenak kerongkongannya tersekat… “Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Cuba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?”

“Kalian menginginkan bapak bahagia… Apakah batin bapak dapat bahagia meninggalkan ibumu dalam keadaannya seperti sekarang?”

“Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah kesihatan yang baik dirawat oleh orang lain… Bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno… Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata ibunya… Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu…

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stesen TV swasta untuk menjadi panel jemputan acara Bimbingan Rohani Selepas subuh dan juru acara pun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno…

“Kenapa bapak mampu bertahan selama 25 tahun merawat Isteri yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa?”

Ketika itu Pak Suyatno pun menangis… Tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum ibu pun tidak mampu menahan haru…

Disitulah Pak Suyatno bercerita… “Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai kerana Allah maka semuanya akan luntur…”

“Saya memilih isteri saya menjadi pendamping hidup saya… Sewaktu dia sihat diapun dengan sabar merawat saya… Mencintai saya dengan sepenuh hati zahir dan batinnya bukan dengan mata kepala semata-mata… Dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu dan baik-baik…”

“Sekarang dia sakit berkorban untuk saya kerana Allah… Dan itu merupakan ujian bagi saya.”

“Sihat pun belum tentu saya mencari penggantinya… Aapalagi dia sakit… Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya mengadu kepada Allah di atas sajadah supaya meringankan penderitaan isteri saya.”

“Dan saya yakin hanya kepada Allah tempat saya mengadukan rahsia dan segala kesukaran saya… kerana DIA maha Mendengar…”

sumber:  http://www.facebook.com/topic.php?uid=73411178207&topic=14032

.

.

.

 Ya Allah,, berikan hamba suatu saat nanti seorang pasangan yg mencintai hamba karenaMu semata…

Advertisements

1 Year Anniversary :: Life Without Facebook (FB)

Subhanallah.. Sudah genap satu tahun saya meninggalkan FB!!! Unbelieveable.. (`∇´)

Jujur, butuh tekad yang besar bagi saya untuk melakukannya. Apalagi saat itu, banyak orang yang lagi seneng-senengnya sama situs jejaring sosial itu dan berhijrah meninggalkan FS.

Keputusan ini pun saya ambil jauh dari saat para ulama ribut soal hukum halal-haramnya. Tapi saya yakin, bukan hanya saya yang mengambil keputusan yang sama. Kontroversi FB waktu itu memang cukup ‘panas’ dan berhasil membuat tidur saya tak tenang. Alhamdulillah, akses internet bebas saat magang, jadi solusi untuk menyelidikinya lebih jauh.. Dan kemudian… Tadaaaa.. ٩(o)۶

Saya pun memutuskan untuk memulai hidup tanpa FB ! ヽ(゚ω )ノヽ( ω゚)ノヽ(゚ω )ノ

Ups.. jangan salah! Tulisan ini saya buat tidak untuk mendiskreditkan FB. Apalagi saya termasuk orang yang berpikiran bahwa FB hanyalah alat. Tulisan ini hanya flashback saja dari kehidupan saya tanpa FB dan sedikit bayangan bagaimana jika saya saat ini masih kecanduan FB seperti teman-teman. Tentu saja, jika saya masih pakai FB, pasti bakal kecanduan,, maklumlah.. Anak muda.. He3.. (((*´ε *)

No FB = less Friend ll(p_ q#)llll

Cukup sedih ketika saya harus merelakan diri untuk tidak keep contact dengan teman-teman baik yang sering saya temui di kampus, teman” masa lalu, maupun teman” baru. Yup, memang tidak dapat dipungkiri..

`。゜。No FB = less Friend.

Itu perasaan pertama saat memulai hengkang dari situs jejaring nomor 1 itu. Huphf.. Tapi apa artinya teman jika ia hanya menuntut frekuensi komunikasi. Lagipula, masih ada media lain bukan?

Jika masih ada FB, pasti saya sekarang akan semakin disibukkan dengan teman-teman. Ada gossip si A, skandal si B, musibah si C, fitnah dengan karena si D, acara reuni E, temu kangen F, jalan” dan nge-mall bareng G, dsb. Fiuh, namun alhamdulillah.. Walaupun lepas FB, kabar-kabar penting masih sampai juga pada saya lewat media lain. ^ ^

Less friend = life more

Ada 4 sebab penyakit hati, yaitu banyak bergaul. Bergaul boleh, dengan batasan menghargai privasi orang lain. Di FB, seseorang terfasilitasi untuk mempublikasi privasi dan mencari tahu berbagai informasi dari orang lain. That’s why, tanpanya, saya merasa lebih hidup dan dapat fokus dengan target daripada disibukkan oleh hal-hal remeh di FB yang cukup membuat gatal tangan untuk mengklik link demi link. Jika menuruti nafsu saja, akan semakin tidak terasa waktu yang terbuang. Hidup pun jadi kurang produktif. (>_<)

Hadiah Ramadhan dari ♥♥Allah♥♥

Sayangnya, karena sekian lama berpisah karena magang, saya merasa teman-teman jadi sulit diajak untuk me-refresh dakwah maupun sekedar datang thalibul ilmi. Apa dampak FB ya? Wallahua’lam…

Kesendirian dan kekeringan iman itupun terobati dengan terkabulnya do’a saya sebagai hadiah Ramadhan dari Allah. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan orang-orang yang berjuang di masjid demi tegaknya syi’ar Islam. Dengan mereka, saya terlibat acara amal dan kegiatan Ramadhan lainnya. Teman saya jadi bertambah baaanyaak (。>0<。).

Subhanallah.. ternyata, rumusnya juga bisa begini :

.+: Life more = new friends ^ ^.+:

Life more = knowing reality

Dari waktu yang tidak untuk FB, saya hidup dengan lebih mengenal kenyataan. Saat baksos misalnya. Rasanya seperti artis saat turun dari mobil. Padahal pakaian ini biasa-biasa saja. Saya melihat sendiri ternyata masih ada orang yang kesulitan mendapatkan air. Sekolah pun sedikit. Anak-anak desa yang masih SD itu terdiam saat ditanya apa yang akan mereka lakukan selepas SD. Saya penasaran. Saya tidak menemukan bangunan SMP sepanjang perjalanan. Rumah saja jarang.

Orang-orang yang beramal dan mengamati kenyataan juga banyak berbagi cerita. Tangis di hampir setiap pertemuan, meluluhkan hati kami. Sungguh, pada diri manusia ini banyak yang perlu diperbaiki. Tetapi manusia itu sombong, sekedar bersyukur saja suliiit sekali bagi mereka.

Ada lagi kisah tentang seorang anak yang harus menyetorkan uang 75 ribu per hari pada orang tuanya. Kalau tidak, ia tidak boleh masuk rumah. Hingga akhirnya ia terlibat traficking. Lalu, kisah tentang pemuda yang dibuang orang tuanya sejak kecil. Kini, ia telah menjadi manusia yang sepenilaian saya lebih mulia dari manusia yang beruntung karena akhlaq dan amalnya. Wallahua’lam, hanya Allah yang Maha Mengetahui Isi Hati.

Masih banyak lagi pelajaran hidup yang saya dapat selama setahun. Yang mungkin tidak akan saya dapat tanpa mengorbankan sedikit ego untuk kesenangan diri belaka. Semua ini, membuat saya merasa lebih bersyukur, dan terus termotivasi untuk beramal baik lagi.

Jika saat itu tempat berlabuh saya hanya di warung hotspot untuk akses FB sepuasnya, mungkin saya akan merasa hidup saya sempit. Bagaimana tidak, saat mata memandang ke kanan situs, ada foto si A dengan berbagai pose yang cantik karena sering perawatan di salon mahal. Saat mata beralih ke kiri, ada foto-foto si B saat di bersenang-senang di luar negeri. Yang lainnya, sedang makan enak di restoran mahal, foto dengan pacar cakep ato artis kenamaan, dll.

Memang manusia disyari’atkan untuk menunjukkan ni’mat Allah. Tetapi, kalo kasusnya seperti ini, lebih tampak sebagai ajang pamer. Susah untuk tidak sombong dengan semua itu. (_-)

Saya tidak cantik. Saya tidak kaya. Tapi di semua sudut FB, orang-orang terlihat tidak mempunyai masalah dengan uang. Sedangkan saya, untuk memajang foto kece berkacamata hitam lagi duduk di dalam mobil saja ga mungkin banget. Tampang kurang, mobil ga ada, bahkan kamera buat jeprat jepret pun belom dikasih Allah. (_ _;)=3

Tapi alhamdulillah, saya sama sekali tidak berambisi seperti mereka. Kalo iya, bisa-bisa kaya cewek” ABG di koran itu, gabung dengan usaha prostitusi via FB demi uang. Naudzubillah..

Fitnah Berkurang

Ini adalah dampak yang paling saya suka. Teman-teman memang gatal untuk membiarkan seorang gadis seumuran saya berstatus jomblo. Dengan alasan yang tidak masuk akal, biasanya ada saja gossip miring saya dengan cowok X yang cukup bikin keki. Nah, alhamdulillah,, tanpa FB, pintu masuknya jalan itu pun tertutup rapat. =)

Real life = real love

Buat anak muda, eksis di dunia maya, mungkin tidak lengkap tanpa cinta dunia maya, yang terkadang maya. Sedangkan saya tanpa FB, Alhamdulillah telah menemukan the real lovedi dunia nyata. Bahkan tidak cuma 1. Σ( ̄ロ ̄lll) Ups, jangan salah.. the real love di sini bukan sesuatu yang membuat saya melepas status jomblo. Karena the real love itu adalah cinta karena Allah. Ciri-cirinya :

  • tidak bertambah dengan adanya pemberian
  • tidak berkurang dengan tiadanya pemberian
  • tidak bertambah dengan seringnya ketemuan
  • tidak berkurang dengan perpisahan
  • bukan karena kepentingan

Indah bukan?? (*´v*)

Mereka mengamalkan anjuran mengungkapkan cinta karena Allah. Tidak hanya itu, kami juga saling memberi nasehat dan saling mendo’akan. ヽ(゚ω゚ )ノヽ( ゚ω゚)ノヽ(゚ω゚ )ノ

Semoga Allah selalu merahmati mereka…  Sesungguhnya kami sangat berharap akan naungan Allah kelak ketika nanti matahari berada di atas kepala-kepala manusia dan tiada naungan lain selain dariNya.

゚.+:。 .+:。゚.+:。 .+:。゚.+:。 .+:。゚.+:。 .+:。

Phew.. Cukup banyak juga hal-hal positif yang saya dapat selama setahun, namun bisa jadi banyak juga yang terlewat tanpa ada FB dalam hidup saya (*^-^). Dan saya harap, para facebooker yang masih aktif dapat mengisi aktifitas positif di FB (o ̄∇ ̄)/. Karena saya yakin, tidak hanya pena atau tindakan nyata saja yang mampu memberi kebaikan.

Jadikan FB di tangan Anda memberi perubahan positif!!! (o ̄∇ ̄)/

Atau setidaknya menangkal hal-hal negatif. (`∇´)

Regards,

LayLay

Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

Pencari Ilmu Jalan Pintas

Dilema ini terus membayangiku beberapa tahun lalu. Jalan pencarian ilmu yang seharusnya mendekatkan ke syurga, dihadapkan pada jalan” pintas yang menjanjikan kemudahan dan hasil akhir yang indah, namun semu. Maklum, karena kuliah di jurusan IT, proses ujian pun menunjang sekali tindak kecurangan, bahkan dapat dilakukan via chat box.

Mulanya, aku tergoda juga. Sampai saat datang seseorang yang mengingatkanku, akan ayat Allah :

Az Zumar:60. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?

Lalu? Bukankah curang&menyontek sama dengan berbohong? Berbohong pada diri sendiri, guru, teman, bahkan orang tua.

Nyontek&curang=tidak jujur=dusta=dosa= muka hitam di hari kiamat => bisa” masuk Jahannam.. Naudzubillah!

Bermula dari Taubat

Sebenarnya, judul tulisan ini sudah lama terlintas di benak. Saat itu, aku memang mengalami masa-masa transisi alias hijrah (menjadi pribadi yang lebih baik). Maklum, aku baru bertekad untuk jujur+ikhlas dalam menuntut ilmu. Banyak rangkaian kalimat yang terbersit.. Tapi tak sempat tertulis karena kacaunya pikiran dan galaunya hati saat itu. Setiap kali ujian semester pun, ingin sekali aku menuangkan semua perasaan ini, namun urung. Hal ini karena semata-mata, mencoba jujur dalam mendapat nilai tidaklah mudah. Dengan tekad keras, aku tetap semangat menghapal dan memahami materi, sambil mengesampingkan kesedihan hati.

Ujian Taubatku

Entah mengapa, aku tidak menemukan seorang pun yang beri’tikad sama dari sekian banyak teman-teman di kelas. Saat kuingin diskusi atau bertanya kesulitan dari materi, aku bingung dan tak tahu harus kemana mengungkapkan semua itu. Semua serba sibuk… mereka sangat sibuk dengan kertas-kertas kecil dan hape-hape canggih mereka.

Kerap kali kami berdebat masalah kecurangan yang mereka selalu halalkan. Berbagai alasan pembenaran dan cacian pun cukup membuat kesal. Belum lagi, pandangan marah dan singgungan buruk yang muncul karena aku tak mau membantu mereka dalam kecurangan (seperti menyalurkan kertas contekan, dll). Entah kenapa, napasku jadi sesak dan hati terasa sempit sekali. Bismillah.. Ini cuma ujian dunia.. Setidaknya nanti aku dapat mempertanggungjawabkan semua ini di hadapan Allah karena kejujuran ini.

Curhat Seorang Akhwat

Dia sudah menjadi akhwat di usianya yang ke-17. Subhanallah, hidayah dan cobaan berat datang padanya pada usia semuda itu. Namun, bukankah semakin dalam iman yang dimiliki seseorang, maka cobaan yang dihadapinya semakin berat. Itulah yang banyak dihadapi oleh orang-orang yang berusaha untuk terus istiqomah.

Qadarallah, kami dipertemukan sejak awal untuk selalu sharing masalah pribadi dan ilmu agama, serta thalibul ilmi bersama. Itu yang membuatku sangat mencintainya karena Allah ta’ala. Jum’at lalu, ia minta masukan dan bantuan terhadap masalahnya sebagai pencari ilmu tingkat Sekolah Menengah. Kejadian ini membangunkan semangat diri untuk merajut kata yang akhirnya menjadi kalimat yang Anda baca saat ini.

Ia Di antara Pilihan menjadi Seorang Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

Tidak kaget diriku, saat dia bercerita tentang kecurangan sistem ujian yang terencana di sekolahnya. Sudah pernah kudengar hal yang sama dari pelakunya sendiri -yang adalah kakak seniornya yang sudah lulus-, dan ceritanya cukup mendetail.

Kecurangan yang juga salah satunya juga dipelopori oleh guru mereka sendiri itu membuatnya bimbang. Yang aku herankan, kok ada yang oknum yang rela mengirim jawaban soal ke hape setiap siswa. Heran.. Mengapa tidak langsung saja memanipulasi nilai tanpa ada ujian agar tidak repot.

Saat I’tikad baik akhwat itu muncul, dengan memilih berniat berbuat jujur… ternyata hasilnya tidak memuaskan seperti yang didapat para pencari jalan pintas. Les di guru mata pelajaran pun tidak memecahkan kesulitannya karena alasan” tertentu dan cenderung di saat terakhir les ada bocoran soal dan lain-lain.

Demi Kelulusanmu Nanti… Sedikit Saja Tidak Apa-Apa

Badai cobaan masih terus menerpanya, saat beberapa pihak yang menyayanginya menyarankan dia untuk sesekali melihat jawaban bocoran demi lulusnya dia kelak. Huphf.. Apakah itu benar jalan keluar?? Dia pun memutuskan untuk berusaha lebih dan lebih keras lagi masalah pelajaran, meskipun sistem penilaian dan ujian yang ada sedikit tidak fair.

Ya Allah, bantulah dia.. Dan mudahkan diri hamba untuk membantunya..

Mengapa ini terjadi? Padahal…

Untaian kalam ilahi dalam surat al Mujaadilah:11 cukup menjadi bukti tingginya kedudukan orang-orang yang berilmu di sisi Allah سبحانه و تعالى. Tetapi tak hanya itu… Di dunia fana ini, title ‘intelect‘ dalam ilmu apapun dihargai tinggi di hadapan manusia, baik secara materiil dengan semakin mahalnya gaji/upah, maupun non materiil, seperti meningkatnya prestige (wibawa, martabat) para penyandangnya.

Ukuran kualitas keintelekan (seperti gelar, penghargaan, sertifikat, nilai ujian) dunia pun dikejar. Hal ini diperparah dengan tekanan kebanyakan orang tua sekarang yang memimpikan anak-anak mereka menjadi bagian dari kaum intelektual. Memang, sah-sah saja keinginan mereka.. Namun, jika pada akhirnya tujuan mereka dan sang anak hanya sekedar materi dan prestige di dunia semata, anugerah berupa derajat yang tinggi di sisi Allah سبحانه و تعالى tak lagi berlaku.. Bahkan, bisa mendatangkan adzab karena lunturnya keikhlasan dan tenggelamnya diri ke dalam hawa nafsu.

Saat Pribadi Harus Memilih..

Mengajarkan ilmu dan memfasilitasi anak untuk mencari ilmu memang kewajiban orang tua. Di jaman sekarang ini, saking inginnya orang tua melihat anaknya berhasil dan sekolah tinggi, tak sedikit yang rela membanting tulang mengais rezeki, untuk memenuhi materi pendidikan anak. Fasilitas anak untuk sekolah tinggi pun dipenuhi, mulai dari biaya kos/hidup yang layak, kendaraan, komputer/laptop, buku, internet dsb. Orang tua seperti ini adalah anugerah. Namun, jika mereka juga mendukung anaknya mencari ‘jalan pintas’, di sinilah pribadi harus memilih :

Teguh sebagai pencari ilmu di jalan yang terjal dan mengambil resiko kesedihan orang tua akan bayangan kegagalan.. Karena menjalaninya tidaklah mudah..

Atau..

Ikut dalam rombongan pencari jalan pintas yang cukup mulus, dengan resiko kegagalan terlihat lebih sedikit namun Allah tidak ridha padanya.


Beda Mereka..

Batasan ruang lingkup : sekolah/kuliah

Parameter Pencari Ilmu Pencari Jalan Pintas
Proses masuk sekolah/kuliah Masuk dengan nilai murni 100% mikir sendiri dan memenuhi standart diterima Nilai antara diterima dan tidak. Diterima pun dengan ‘sedikit’ uang sogok atau karena ada link pihak internal.
Absensi
  • Tanda tangan 100% asli
  • Ikut dari awal hingga akhir
  • Sering nitip ttd ke temen
  • Hadir demi absen
  • Setelah absen suka ngacir
Waktu Kehadiran Datang tepat waktu, maksimal terlambat/tidak hadir karena udzur Datang telat tanpa dosa
Peralatan dan perlengkapan belajar Memenuhi standart untuk mengikat ilmu Minta/pinjam teman (dengan resiko tidak kembali/hilang/terbawa selamanya)
Catatan Ada dan cukup rapi Catatan tidak punya (maksimal fotokopi punya teman pas mau ujian)
Ketika pengajar menerangkan
  • Menyimak dan memahami
  • Aktif bertanya
  • Mendengarkan
  • Minimal tidak rame
  • Bosen
  • Ngelamun
  • Ngobrol dengan temen (langsung ngomong atau via kertas)
  • Chatting/ngenet pake hape mahal
  • Tidur
  • Dan aktivitas” lain selain memperhatikan pengajar..
Tugas 99% mikir sendiri, 1% diskusi/konsultasi/minta bantuan ke yang lebih ngerti
  • Sering lupa
  • Ingetnya pas deket deathline
  • Copy paste temen
Ujian Berbekal memori otak SEJUTA GIGABYTE, dengan spesifikasi :

  • Memori materi penjelasan pengajar
  • Memori catatan materi tulisan sendiri
  • Pemahaman
  • Pengalaman kerja tugas
  • PeDe!!
Berbekal kertas” kecil (ngopi temen) plus hape canggih dengan spesifikasi :

  • Kamera 2MP ke atas:untuk kejelasan file gambar contekan
  • Fasilitas menyimpan&membaca text file, ppt, atau doc : pembuka file contekan
  • Bluetooth : agar tinggal transfer file contekan dari temen
  • Pulsa : komunikasi selama ujian
Selesai Ujian
  • Check jawaban yang ragu-ragu
  • Diskusi jawaban dengan temen
  • Heboh karena salah/lupa/ga teliti
  • Tawakkal ‘alallah
  • Heboh kasus ketauan pengawas, dll
  • Ngomongin pengawas begini begitu
  • Evaluasi teknik curang
  • Hang out+seneng” sama temen”
Ujian akhir 100% usaha pemikiran sendiri Curang, hasil ‘jahit’ dengan modal duit
LULUS/TIDAK LULUS LULUS:

  • Dengan izin Allah
  • Karena kerja keras dan doa
  • Kemampuan terasah
  • Dan faktor penunjang lain

TIDAK LULUS :

  • Dengan izin Allah
  • Kurang maksimal
  • Terbelit masalah” seperti : fasilitas, referensi, dll
LULUS:

  • Dengan izin Allah
  • Beruntung ga ketauan curang
  • Fasilitas dan uang memadai
  • Dan faktor penunjang lain

TIDAK LULUS :

  • Dengan izin Allah
  • Ketauan curang
  • Sumber kecurangan yang salah, dll

Jika Anda memenuhi :

Kriteria PENCARI ILMU + IKHLAS = DERAJAT TINGGI di sisi Allah 😉

Kriteria PENCARI JALAN PINTAS = MUKA HITAM di hari kiamat

Tetapi, jika Anda mempunyai beberapa kriteria PENCARI JALAN PINTAS dan tidak ingin menjadi seperi rumus di atas, maka ikuti prosedur taubat() berikut:

If taubat(PENCARI_JALAN_PINTAS) = TRUE THEN

setNiat = “Ikhlas lillah”Do

setAction = "tidak mengulangi lagi"

Loop Until MATI
ELSE

MUKA HITAM di hari kiamat

ENDIF

Ternyata Anak Kecil Itu Hafal 30 Juz

Di sebuah masjid telah terjadi sebuah dialog antara seorang guru Al-Quran dengan seorang anak kecil yang ingin mendaftarkan dirinya dalam halqah Quran.

Guru Al-Quran (GQ) : “Apakah ada yang kamu hafal dari Al-Quran?”.

Anak Kecil (AK)          : “iya”.

Di sebuah masjid telah terjadi sebuah dialog antara seorang guru Al-Quran dengan seorang anak kecil yang ingin mendaftarkan dirinya dalam halqah Quran.

Guru Al-Quran (GQ) : “Apakah ada yang kamu hafal dari Al-Quran?”.

Anak Kecil (AK)          : “iya”.

GQ       : “Silahkan baca juz ‘amma!”. (Anak itu pun membacanya dengan baik)

GQ       : “Apakah kamu hafal juz Tabarak (juz 29)?”.

AK       : “iya”. (Akupun kagum dengan hafalannya walaupun dia masih kecil, lalu akupun memintanya untuk membaca surat An-Nahl, ternyata dia juga telah menghafalnya, sehigga membuat aku bertambah kagum. Kemudian aku minta kepadanya untuk membaca surat yang panjang)

GQ       : “Apakah kamu hafal surat Al-Baqarah?”.

AK       : “Iya”. (Diapun membacanya tanpa salah, lalu aku bertanya kembali)

GQ       : “Hai anakku, apakah kamu hafal Al-Quran?”.

AK       : “Iya”

GQ       : “Subhanallah, masya Allah, tabarakallah”. (Lalu aku pun memintanya untuk datang besok beserta ayahnya. Saat itu aku terheran-heran dengan peristiwa tadi, bagaimana ayahnya bisa mengajarkannya demikian. Kemudian yang membuat aku tambah tekejut adalah pada saat ayahnya tiba, aku melihat dari penampilannya tidak seperti orang yang suka melaksanakan sunnah Rasululllah SAW), maka diapun serta merta berkata kepadaku : “Saya tau anda tercengang kalau aku adalah ayahnya, tapi saya akan hapus kebingungan anda, sesungguhnya di balik anak ini ada seorang wanita yang sebanding dengan 1000 laki-laki, dan saya beri kababr gembira kepadamu bahwa di rumah ada 3 anak yang semuanya hafal Al-Quran (30 juz), dan saya mempunyai seorang putri yang baru berusia 4 tahun sudah hafal juz ‘Amma (Juz 30). Aku pun bertambah heran, bagaimana itu bisa terwujud??!!

Sang ayah anak kecil itu pun berkata : “Sesungguhnya sang ibu ketika anaknya mulai bisa berbicara, dia memulainya dengan hafalan Al-Quran terus memberi motivasi untuk menghafal, siapa diantara mereka yang hafal terlebih dahulu, maka dia yang paling berhak untuk memilih hidangan makan malam pada malam itu, dan barang siapa yang mengulang hafalan terlebih dahulu, dialah yang paling berhak untuk memilih tempat liburan pekanan, dan barang siapa yang khatam terlebih dahulu dialah yang berhak untuk memnentukan ka mana akan melakukan safar dihari liburan nanti. Dengan demikian terciptalah suasana saling berlomba dalam meghafal dan murajaah diantara mereka. (Tulisan ini juga bisa dibaca di http://warnaislam.com/blog/taufik/2009/12/22/46080/Ternyata_Anak_Kecil_Hafal_30_Juz.htmwww.taufik-hamim.com dan www.muntadaquran.net)

“Wanna be like his mother so much… “

*・゜゚・*:. (((*´ε` *)(* ´З`*))) .:*・゜゚・*