Adab-Adab Penghapal Quran

Diantara Adab – Adab Penghafal Al-qur’an

 

1. Ikhlas dalam menghafalkan Al-qur’an.

Artinya dia tidaklah menghafal kecuali krn Allah dan hanya mengharapkan Ganjaran dari Allah saja.

2. Berakhlaq dengan Akhlaq Al-qur’an.

Sebagaimana ‘Aisyah – رضي الله عنها – ditanya tentang akhlaq Nabi Muhammad – صلى الله عليه وسلم – maka dia menjawab : 
Akhlaq Beliau adalah Al-qur’an ( HR. Muslim )

Maksudnya : beliau beramal dengan isi Al-qur’an, memperhatikan hukum-hukumnya, mengambil pelajaran dari perumpamaan dan kisah-kisahnya, mentadaburinya, membacanya dengan tilawah yang baik dan benar, dll.

3. Terus Mempelajari dan Mengajarkannya kepada Orang Lain.

Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – bersabda :
خيركم من تعلم القرآن و علمه
Artinya :
Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-qur’an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

4. Selalu Semangat Mengerjakan Shalat Malam.

Dalam rangka mengamalkan firman Allah – عز و جل – :
كانوا قليلا من الليل ما يهجعون و بالأسحار هم يستغفرون
Artinya :
Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam dan diakhir malam mereka memohon ampun – kepada Allah(Surat Adz-Dzaariyaat : 17 – 18)

أمن هو قانت آناء الليل ساجدا و قائما يحذر الآخرة و يرجو رحمة ربه
Artinya:
– Apakah Kamu, hai orang-orang musyrik yang lebih beruntung – ataukah ORANG YANG BERIBADAH DIWAKTU-WAKTU MALAM DENGAN SUJUD DAN BERDIRI, SEDANG DIA TAKUT KEPADA AZAB AKHIRAT DAN MENGHARAPKAN RAHMAT TUHANNYA… (Surat Az-Zumar : 9)

Ibnu Mas’ud – رضي الله عنه – berkata :
ينبغي لحامل القرآن أن يعرف بليله إذ الناس نائمون و بنهاره إذ الناس مفطرون و بحزنه إذ الناس يفرحون و ببكائه إذ الناس يضحكون و بصمته إذ الناس يخوضون و بخشوعه إذ الناس يختالون
Artinya :
SEORANG PENGHAFAL ALQURAN HENDAKNYA DIKENAL DENGAN :
1. Shalat Malamnya ketika manusia tidur
2. Puasa disiang hari ketika manusia berbuka
3. Sedihnya ketika manusia gembira
4. Tanggisnya ketika manusia tertawa
5. Diamnya ketika manusia bersenda gurau
6. Tawadhunya ketika manusia berbangga – banggaan.
(At-Tibyan Imam Nawawi) 

5. Tidak Bergantung kepada manusia. 

Fudhail bin ‘iyadh – رحمه الله – berkata :
Sudah seharusnya bagi penghafal Al-qur’an tidak menggantungkan hajatnya kepada penguasa dan orang-orang yang dibawahnya. (At-Tibyan Imam Nawawi)

 

6. Memperbanyak Membaca Al-qur’an dan Mengulang – ulangnya.

Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – bersabda :
إذا قام صاحب القرآن فقرأه بالليل و النهار ذكره و إن لم يقم به نسيه
Artinya :
Jika seorang pengahafal Al-qur’an membaca Al-qur’an pada malam hari dan siang hari, niscaya dia akan selalu mengingatnya. Jika tidak maka dia akan melupakannya. (HR. Ibnu Nashr dan dishahihkan oleh syaikh al-albani dalam silsilahnya)

 

7. Menghiasi Diri Dengan Takwa Kepada Allah.

Seorang penghafal Al-qur’an pasti banyak membaca ayat-ayat tentang perintah takwa krn ajakan untuk bertakwa didalam Al-qur’an sangat banyak. Dan dia tentu mengetahui hal itu lebih daripada yang diketahui orang lain.

Maka dari itu, merekalah orang yang paling dituntut untuk memelihara ketakwaan, yaitu dengan cara MENTAATI ALLAH DALAM SEGALA PERKARA YANG DIPERINTAHNYA DAN MENJAUHI SEGALA SESUATU YANG DILARANGNYA, SEMUANYA DILAKUKAN DENGAN RASA CINTA, TAKUT DAN HARAP SERTA KETUNDUKAN DIKALA SENDIRI ATAUPUN DIHADAPAN ORANG BANYAK. 

(Diterjemah dan diringkas secara bebas dari kitab Mausu’ah Al-adabul Islamiyah hal. 330 – 337 bab adab penghafal Al-qur’an)

– via Group WA Kajian Tenda Biru by Ustadz Adrial Martadinata hafidzhohullah –

Advertisements

Siapakah Para Wali Allah?

Sesungguhnya Al-qur’an adalah kalam/perkataan Allah. Ia adalah perkataan yang paling mulia dan paling agung. Sehingga para penghafalnya adalah semulia – mulianya manusia, karena dia adalah termasuk Wali Allah – عز و جل –

Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – bersabda :
إن لله أهلين من الناس، قيل : من هم يا رسل الله ؟ قال : هم أهل القرآن اهل الله و خاصته.
Artinya :
Sesungguhnya Allah – عز و جل – memiliki wali – wali dari kalangan manusia.
Kemudian beliau ditanya siapa mereka itu ?
Beliau menjawab :
Mereka adalah Penghafal Al-qur’an krn mereka adalah Wali Allah dan orang-orang terdekat-Nya.
(HR. Ahmad dan Ibnu majah serta dishahihkan oleh syaikh Al-albani)

Akan tetapi yang berhak menyandang kedudukan yang mulia ini adalah mereka yang beradab dengan adab – adab penghafal Al-qur’an.

Yuk, kita berusaha menjadi Wali Allah dengan cara Menghafal Al-qur’an dan mempelajari adab – adabnya. Dan jadikan Bulan Suci Ramadhan sebagai salah satu sarana yang pas buat hal tersebut….
هداني الله و إياكم

– via Group WA Kajian Tenda Biru by Ustadz Adrial Martadinata hafidzhohullah –

Kisah Seorang Suami Yang Mencintai Istrinya Karena Allah

Ditulis oleh Farid Ma’ruf

Dilihat dari usia beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Masa Pak Suyatno, 58 tahun ke sehariannya diisi dengan merawat isterinya yang sakit. isterinya juga sudah tua. Mereka berkahwin sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikurniakan 4 orang anak. Disinilah awal cubaan menerpa, setelah isterinya melahirkan anak ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak boleh digerakkan. Hal itu terjadi selama dua tahun.

Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnya pun sudah tidak mampu digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapkan, dan mengangkat isterinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat ke tempat kerja dia meletakkan isterinya di hadapan TV supaya isterinya tidak berasa kesunyian.

Walau isterinya tidak dapat bercakap, tapi dia selalu melihat isterinya tersenyum, dan Pak Suyatno masih berasa beruntung kerana tempat kerjanya tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga siang hari dia boleh pulang ke rumah untuk menyuapi isterinya makan. Petangnya dia pulang memandikan isterinya, mengganti pakaian, dan selepas maghrib dia temankan isterinya menonton TV sambil bercerita apa sahaja yang dia alami seharian.

Walaupun isterinya hanya mampu memandang (tidak mampu memberikan respon), Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda dan bergurau dengan isterinya setiap kali menjelang tidur.

Rutin ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat isterinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bongsu yang masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Kerana setelah menikah mereka tinggal dengan keluarga masing-masing.

Dan Pak Suyatno tetap merawat ibu kepada anak-anaknya, dan yang dia inginkan hanya satu: semua anaknya berjaya.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata : “Pak kami ingin sekali merawat ibu… Semenjak kami kecil kami melihat bapak merawat ibu dan tidak ada sedikit pun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak izinkan kami menjaga ibu.”

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya…

“Sudah yang kali keempat kami mengizinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengizinkannya. Bila bapak akan menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini… Kami sudah tidak sampai hati melihat bapak begini… Kami berjanji akan merawat ibu dengan sebaik-baiknya secara bergantian,” ujar anaknya yang sulung merayu.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anaknya.

“Anak-anakku… Jikalau hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan berkahwin lagi. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian…” Sejenak kerongkongannya tersekat… “Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Cuba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?”

“Kalian menginginkan bapak bahagia… Apakah batin bapak dapat bahagia meninggalkan ibumu dalam keadaannya seperti sekarang?”

“Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah kesihatan yang baik dirawat oleh orang lain… Bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno… Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata ibunya… Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu…

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stesen TV swasta untuk menjadi panel jemputan acara Bimbingan Rohani Selepas subuh dan juru acara pun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno…

“Kenapa bapak mampu bertahan selama 25 tahun merawat Isteri yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa?”

Ketika itu Pak Suyatno pun menangis… Tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum ibu pun tidak mampu menahan haru…

Disitulah Pak Suyatno bercerita… “Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai kerana Allah maka semuanya akan luntur…”

“Saya memilih isteri saya menjadi pendamping hidup saya… Sewaktu dia sihat diapun dengan sabar merawat saya… Mencintai saya dengan sepenuh hati zahir dan batinnya bukan dengan mata kepala semata-mata… Dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu dan baik-baik…”

“Sekarang dia sakit berkorban untuk saya kerana Allah… Dan itu merupakan ujian bagi saya.”

“Sihat pun belum tentu saya mencari penggantinya… Aapalagi dia sakit… Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya mengadu kepada Allah di atas sajadah supaya meringankan penderitaan isteri saya.”

“Dan saya yakin hanya kepada Allah tempat saya mengadukan rahsia dan segala kesukaran saya… kerana DIA maha Mendengar…”

sumber:  http://www.facebook.com/topic.php?uid=73411178207&topic=14032

.

.

.

 Ya Allah,, berikan hamba suatu saat nanti seorang pasangan yg mencintai hamba karenaMu semata…

Ciri wanita yg ditampakkan surga untuknya

Wanita, sosok lemah dan tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tidak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dalam ibadah dan perkara lainnya.

Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya.  Oleh karena itu, tidak mengherankan kiranya jika Allah Tabaroka wa Taala dengan segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki.

Namun, kelemahan itu tak harus melunturkan keteguhan iman.

Sebagaimana keteguhan salah seorang putri, istri dari seorang suami yang menjadi musuh Allah Rabb alam semesta. Seorang suami yang angkuh atas kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya. Putri yang akhirnya harus disiksa oleh tangan suaminya sendiri, yang disiksa karena keimanannya kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi. Dialah Asiyah binti Muzahim, istri Firaun.

Ketika mengetahui keimanan istrinya kepada Allah, maka murkalah Firaun. Dengan keimanan dan keteguhan hati, wanita shalihah tersebut tidak goyah pendiriaannya, meski mendapat ancaman dan siksaan dari suaminya.

Kemudian keluarlah sang suami yang dzalim ini kepada kaumnya dan berkata pada mereka,

“Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahaim?”

Mereka menyanjungnya. Lalu Firaun berkata lagi kepada mereka,

“Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selainku.

Berkatalah mereka kepadanya,

“Bunuhlah dia!”

Alangkah beratnya ujian wanita ini, disiksa oleh suaminya sendiri.

Dimulailah siksaan itu, Firaun pun memerintahkan para algojonya untuk memasang tonggak. Diikatlah kedua tangan dan kaki Asiyah pada tonggak tersebut, kemudian dibawanya wanita tersebut di bawah sengatan terik matahari. Belum cukup sampai disitu siksaan yang ditimpakan suaminya. Kedua tangan dan kaki Asiyah dipaku dan di atas punggungnya diletakkan batu yang besar. Subhanallah…saudariku, mampukah kita menghadapi siksaan semacam itu? Siksaan yang lebih layak ditimpakan kepada seorang laki-laki yang lebih kuat secara fisik dan bukan ditimpakan atas diri wanita yang bertubuh lemah tak berdaya. Siksaan yang apabila ditimpakan atas wanita sekarang, mungkin akan lebih memilih menyerah daripada mengalami siksaan semacam itu (Na’udzubillah).

Namun, akankah siksaan itu menggeser keteguhan hati Asiyah walau sekejap?

Sungguh siksaan itu tak sedikitpun mampu menggeser keimanan wanita mulia itu. Akan tetapi, siksaan-siksaan itu justru semakin menguatkan keimanannya.

Iman yang berangkat dari hati yang tulus, apapun yang menimpanya tidak sebanding dengan harapan atas apa yang dijanjikan di sisi Allah Tabaroka wa Taala.

Maka Allah pun tidak menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini. Ketika Firaun dan algojonya meninggalkan Asiyah, para malaikat pun datang menaunginya.

Di tengah beratnya siksaan yang menimpanya, wanita mulia ini senantiasa berdoa memohon untuk dibuatkan rumah di surga. Allah mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab dan ia melihat rumahnya yang dibangun di dalam surga. Diabadikanlah doa wanita mulia ini di dalam al-Quran,

“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (Qs. At-Tahrim:11)

Ketika melihat rumahnya di surga dibangun, maka berbahagialah wanita mulia ini. Semakin hari semakin kuat kerinduan hatinya untuk memasukinya. Ia tak peduli lagi dengan siksaan Firaun dan algojonya. Ia malah tersenyum gembira yang membuat Firaun bingung dan terheran-heran.

Bagaimana mungkin orang yang disiksa akan tetapi malah tertawa riang?

Sungguh terasa aneh semua itu baginya. Jika seandainya apa yang dilihat wanita ini ditampakkan juga padanya, maka kekuasaan dan kerajaannya tidak ada apa-apanya.

Maka tibalah saat-saat terakhir di dunia. Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini dan menaikkannya menuju rahmat dan keridhaan-Nya. Berakhir sudah penderitaan dan siksaan dunia, siksaan dari suami yang tak berperikemanusiaan.

Saudariku..

Tidakkah kita iri dengan kedudukan wanita mulia ini?

Apakah kita tidak menginginkan kedudukan itu?

Kedudukan tertinggi di sisi Allah Yang Maha Tinggi.

Akan tetapi adakah kita telah berbuat amal untuk meraih kemuliaan itu? Kemuliaan yang hanya bisa diraih dengan amal shalih dan pengorbanan. Tidak ada kemuliaan diraih dengan memanjakan diri dan kemewahan.

Saudariku..

tidakkah kita menjadikan Asiyah sebagai teladan hidup kita untuk meraih kemuliaan itu?

Apakah kita tidak malu dengannya, dimana dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana dan segala kemewahannya dapat dengan mudah dinikmatinya.

Namun, apa yang dipilihnya?

Ia lebih memilih disiksa dan menderita karena keteguhan hati dan keimanannya.

Ia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia.

Jangan sampailah dunia yang tak seberapa ini melenakan kita.

Melenakan kita untuk meraih janji Allah Taala, surga dan kenikmatannya.

Saudariku…jangan sampai karena alasan kondisi kita mengorbankan keimanan kita, mengorbankan aqidah kita.

Marilah kita teladani Asiyah binti Muzahim dalam mempertahankan iman.

Jangan sampai bujuk rayu setan dan bala tentaranya menggoyahkan keyakinana kita.

 

Janganlah penilaian manusia dijadikan ukuran, tapi jadikan penilaian Allah sebagai tujuan. Apapun keadaan yang menghimpit kita, seberat apapun situasinya, hendaknya ridha Allah lebih utama. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan surga tertinggi yang penuh kenikmatan.


Maraaji: 14 Wanita Mulia dalam sejarah Islam (terjemahan dari Nisa Lahunna Mawaqif) karya Azhari Ahmad Mahmud
Penulis: Ummu Uwais Herlani Clara Sidi Pratiwi Murajaah: ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar