Terapi Disiplin dan Tepat Waktu

Wahai yang mengajari orang lain

Mengapa engkau tidak mengajari dirimu sendiri

Mulailah dari dirimu sendiri dan janganlah menyimpang

Sungguh jika kamu selamat darinya

Maka kamu adalah orang yang bijaksana

Janganlah kamu melarang suatu perilaku

Tetapi kamu melakukan yang semisal dengannya

Adalah aib yang sangat besar

Jika hal itu terjadi..

Tips dan Terapi untuk hidup disiplin dan tepat waktu, baik untuk diri sendiri maupun untuk diterapkan pada kehidupan sosial, di antaranya :

  1. Tarbiyah Imaniyah al-Jaaddah (Serius)
  2. Sesungguhnya pembinaan iman yang serius sudah cukup -dengan izin Allah- untuk mengatasi masalah ini secara total, atau paling tidak dapat memberi andil besar. Akan tetapi, permasalahannya terletak pada kesungguhan itu sendiri. Pemgobatan terhadap sikap meremehkan, lemah semangat, acuh tak acuh dalam bentuk amal nyata sangat diperlukan.

    Janganlah harta dan kemewahan yang kita miliki membuat kita terbiasa meremehkan urusan-urusan kehidupan, bersantai-santai dan lamban.

  3. Berterus terang dan tidak basa basi
  4. Tidak lengkap jika hanya kita yang menerapkan hidup disiplin tanpa membiarkan orang tahu dengan komitmen kita terhadap perencanaan waktu. Dan tentunya jangan biarkan waktu kita banyak terbuang karena menunggu keterlambatan orang lain tanpa memperingatkan kesalahan mereka dan bersikap lunak. Jika hal ini dipraktekkan pada lingkungan kerja, maka keadaan akan berubah dan semakin membuahkan hasil, kesungguhan pun akan bangkit.

    Daripada kebiasaan tidak displin itu menular dan semakin mengakar, komitmen dengan waktu itu lebih baik.

  5. Menetapkan Hukuman yang Setimpal
  6. Hukuman dapat berupa hukuman positif, seperti shodaqoh sebanyak sekian atas pelanggaran disiplin sekian kali. Jika berkaitan dengan suatu kegiatan, hukuman dapat berupa peringatan di depan banyak orang atas keterlambatan untuk dijadikan pelajaran bagi semuanya. Acara juga dapat dimulai tepat waktu, dengan meninggalkan orang-orang terlambat agar mereka merasa bersalah -jika hatinya masih hidup-.

  7. Memberi penghargaan kepada Orang yang Disiplin
  8. Penghargaan setidaknya berupa pujian, namun lebih baik jika berupa hadiah.

  9. Menjadi Teladan dalam Disiplin Waktu
  10. Alangkah baik jika kita dapat memberi contoh. Namun akan lebih baik lagi jika orang-orang besar ataupun organisasi/institusi pembuat acara dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Bagaimana mungkin rakyat akan tepat waktu, jika acara Presiden terkenal molor dan jam karet. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa akan tepat waktu jika dosen selalu tidak tepat waktu, baik saat kedatangannya, maupun saat memulai kuliahnya. Bagaimana para generasi muda akan tepat waktu jika, acara-acara para aktivis organisasi selalu terlambat dan mengecewakan orang-orang yang tepat waktu.

  11. Memulai Acara Tepat Waktu Tanpa Harus Menunggu Orang-Orang yang Terlambat
    1. Orang terlambat akan merasa malu atas keterlambatannya.
    2. Orang terlambat akan merasa akan merasa bahwa orang-orang tidak butuh kepadanya. Akan ada rasa yang terlewat akibat kedatangannya yang terlambat.
    3. Orang lain akan merasakan pentingnya acara yang mereka datangi.
  12. Terapi ini bagus untuk memberi pelajaran di antaranya :

  13. Menetapkan Waktu untuk Memulai Acara
  14. Tentu saja caranya bukan dengan menulis di undangan jam 08.00 kemudian acara sesungguhnya dimulai pukul 08.30. Hal inilah yang membuat penyakit tidak disiplin waktu.

  15. Tetap berada di Tempat Selama Acara Berlangsung
  16. Perkuatlah azzam (tekad) mengikuti suatu kegiatan yang positif sampai akhir, kecuali jika ada udzur.

  17. Membuat Daftar Pengaturan Waktu
  18. Berupa kolom daftar, gagasan (ide-ide), target, dan rentang waktu pelaksanaan untuk mempermudah mengingat dan memotivasi lagi rencana yang telah kita buat.

  19. Meminta Udzur Lebih Awal
  20. Jika ada keperluan mendesak yang membuat kita tidak dapat tepat waktu/tepat janji, maka sampaikanlah di awal. Janganlah berpura-pura lupa dan tidak meminta udzur seperti tidak ada masalah apapun.

  21. Mempersiapkan diri secara Maksimal

Persiapkan diri secara maksimal untuk menjalankan perencanaan waktu yang kita buat. Jangan sampai nantinya banyak udzur yang membuat tekad untuk disiplin dan tepat waktu kita luntur.

Sebuah rangkuman ilmu dari tulisan:

**** Dr. Muhammad Musa Syarif. Muslim Ideal Muslim Tepat Waktu hal.35 . Penerbit al Bayan****

Advertisements

Mengapa Sulit Tepat Waktu?

‘Jam karet’ sudah tidak asing lagi kita temui di sekitar kita. Bahkan, mungkin kita sendiri adalah para pelakunya. Sayangnya, saat ini hal itu sudah dianggap lumrah. Pelakunya pun seakan tidak berdosa. Lalu, apakah kita di sini terhitung melakukan dosa? Bukankah tepat waktu berkaitan dengan janji atau komitmen akan sesuatu hal ? Seorang muslim selayaknya lebih tepat waktu dari umat lain. Mari kita simak di sini, apa saja yang membuat seorang muslim sulit tepat waktu.

Janji demi janji berlalu silih berganti dalam kehidupan kita. “Kita rapat jam 9.00”, “Masuk kuliah jam 7.00”, “Acara dimulai jam 19.00”, “Mulai kajian. ba’da ashar” dan sebagainya.. Jika tengok lagi ke belakang,  berapa persen kita dapat tepat waktu? Berapa persen kita terlambat? Berapa persen kita membatalkan janji dengan pemberitahuan sebelumnya? Berapa persen kita tidak memenuhi janji dan meminta maaf sesudah waktu yang dijanjikan? Dan berapa persenkah kita menyalahi janji tanpa alasan bahkan tanpa pemberitahuan? Naudzubillah, semoga kita dimudahkan untuk lebih tepat waktu mulai saat ini…

Sudah jelas sekali bahwa pada diri seseorang yang tidak tepat waktu dan ingkar janji baik tanpa udzur (halangan) maupun yang sering ber-udzur dikarenakan sikap mudah menyalahi janji dan meremehkannya.  Dan sikap mudah meremehkan janji, timbul kepribadian buruk kita karena sebab-sebab berikut :

  1. Lemahnya Iltzam (Berpegang Teguh) pada Hukum-Hukum Syar’I

  2. Sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa mengingkari janji tanpa udzur tidak dibenarkan secara syar’i. Rasulullah saw mengkategorikan ingkar janji adalah termasuk nifaq amali, dengan sabda :

    “Tanda-tanda orang munafiq ada tiga; apabila ia berbicara ia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. al Bukhari)

    Celakanya sebagian orang -yang tampaknya ber-iltizam- jika diingatkan pada sebuah janji, terbersit niat untuk menyelisihinya. Sesungguhnya sejak awal ia tidak ingin menepatinya, namun ia berjanji demi menghindar dari orang lain dan bersih dari cacat. Naudzubillah..

  3. Tidak Adanya Pengetahuan bahwa Menyelisihi Janji tidak Diperbolehkan Kecuali Karena Udzur

  4. Tidak Adanya Perhatian

  5. Sifat ini dikarenakan kurang pahamnya urgensi tepat janji serta sifat acuh tak acuh terhadap perasaan manusia. Sehingga Anda menyaksikan mereka tidak perhatian untuk hadir TEPAT WAKTU, atau bahkan Anda melihat mereka benar-benar tidak hadir. Di antara mereka juga tidak merasa terbebani untuk meminta udzur meski via telepon. Orang semacam ini tidak layak dipercaya dan diberi kepercayaan.

  6. Tidak Memiliki Alat Kontrol Waktu (Jam)

  7. Jam merupakan sarana untuk selalu disiplin dalam mengatur waktu. Tanpa jam, seseorang akan sulit untuk tepat waktu. Namun, dalam memenuhi janji dengan orang penting, seperti menteri / presiden, seseorang cenderung datang tepat waktu /sebelum waktu yang ditentukan. Hal ini ia lakukan untuk hati-hati dan agar nampak kedisiplinannya.!! Beginilah kenyataan yang terjadi.

  8. Tidak Ada Usaha Untuk Menepatinya

  9. Ada orang yang tidak tepat waktu karena tidak tahu akan pentingnya tepat waktu, atau dia menganggap ada hal yang lebih penting darinya. Hal ini tak dapat dijadikan udzur. Karena mestinya udzur disampaikan sejak awal, sehingga orang lain tak menunggu kehadirannya. Namun, ada saja alasan orang malas meminta udzur, karena kekhawatiran udzur tidak diterima,  atau su’udzon (buruk sangka) atau sebab-sebab lain tak beralasan.

  10. Tidak Memiiki Prioritas Amal

  11. Sebagian orang tidak menepati janji karena alasan yang kurang masuk akal, seperti :

    1. Saya terlambat karena bersama istriku di pasar.
    2. Saya terlambat karena istriku meminta untuk diantar ke rumah keluarga atau temannya.

    Seharusnya waktu dapat diatur sebelumnya, agar janji dapat terpenuhi.

  12. Saya terlambat karena memiliki janji yang lain.
  13. Tidak semestinya kita membuat janji pada waktu bersamaan dan tempat yang berbeda.

  14. Saya terlambat karena ada tamu dadakan dan mereka lama bertamu.
  15. Hal ini bukanlah udzur. Kalau begitu, mana yang lebih penting antara menerima tamu lalu terlambat janji atau meminta udzur kepada mereka lalu memenuhi janji? Masih tidak diragukan lagi bahwa meminta udzur itu lebih utama. Tidak semestinya seseorang merelakan suatu janji/tugas yang harus dia kerjakan, hanya untuk memenuhi hak tamu yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

  16. Saya terlambat karena mobilku tidak ada
  17. Janganlah merasa berat untuk memenuhi janji walaupun kendaraan tidak memungkinkan. Dan janganlah merasa gengsi untuk naik angkot sebagai alternatif.

  18. Saya terlambat karena ada agenda lain
  19. Janganlah seseorang membuat banyak janji padahal ia tidak bisa menepatinya. Orang Arab dahulu pernah berkata, “Ada dua perkara yang tidak selamat dari kedustaan, yaitu : banyak janji dan sering udzur” (At Tadzkirah Al Hamduniyah :8/160)

  20. Saya terlambat karena macet
  21. Hal ini haruslah disikapi, karena macetnya jalan dapat diprediksi pada waktu-waktu tertentu.

  22. Saya terlambat karena bertemu seseorang di jalan.

Bagaimanapun juga prioritas utama kita adalah memenuhi janji. Sudah selayaknya hal-hal seperti mengobrol dengan orang yang tidak sengaja ditemui di jalan dapat kita minimalisir.

  • Tidak Memiliki Sarana Pembantu

  • Bagi beberapa orang yang beragenda padat, sarana pembantu seperti time table dan sekretaris merupakan sebuah kebutuhan.

  • Tidak Teguh dalam Menghadapi Masalah

  • Masalah tepat waktu perlu diterapkan dengan memberi pelajaran kepada orang-orang yang meremehkan dan melalaikannya. Perlu ada teguran secara baik dan ketegasan agar hal ini tidak seringkali terulang.

  • Lingkungan dan Masyarakat

  • Sifat-sifat heterogen masyarakat, seperti hidup tidak teratur, malas,  cuek terhadap kesalahan, enggan bertemu orang lain, berleha-leha dan tidak teguh dalam menghadapi suatu perkara merupakan beberapa poin yang perlu disikapi.

    Tidak semestinya kita menyerah dan rela terhadap keadaan yang begini begitu saja, akan tetapi kita harus tertuntut untuk mengobati dan menanganinya.

  • Kepribadian dan Sosiologi Masyarakat

  • Misalnya perbedaan penepatan waktu antara orang timur dan barat. Orang negeri timur seakan tidak mengenal manajemen waktu. Bahkan tepat waktu seakan sangat asing dan berat bagi mereka.  Marilah pahamkan orang-orang yang berada di sekeliling kita, sekaligus sabar dalam membimbing mereka-meskipun berat bagi mereka ketika memulai untuk selalu menepati janji.  Tidak disiplin waktu itu memberikan mudharat bagi mereka sendiri dan orang lain.

    .

    Sebuah estafet ilmu dan hasil inspirasi dari tulisan:

    ** Dr.  Muhammad Musa Syarif. Muslim Ideal Muslim Tepat Waktu hal.35 . Penerbit al bayan**