BIOGRAFI ABU DZAR AL GHIFARI

– Tugas Mulazamah: Laily Khoirunnisa’ –

BIOGRAFI ABU DZAR AL GHIFARI

“Bumi tidak membawa dan langit tidak memayungi seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar.”
(Muhammad Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam)

Beliau adalah mualaf yang kemudian dimuliakan oleh Allah dengan Islam lalu menjadi salah seorang sahabat mulia Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam. Namanya adalah Jundub bin Junadah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wan Nihayah. Ia berasal dari suku al-Ghifar, dari keturunan bani Kinanah. (Buletin An Nur, 14 Februari 12)

Di lembah Waddan, lembah yang menghubungkan Makkah dengan dunia luar, di sanalah kabilah Ghifar tinggal. Kabilah Ghifar hidup dari pemberian ala kadarnya, belas kasihan dari kafilah-kafilah dagang Quraisy yang berangkat pulang pergi dari Makkah ke Syam. Dan terkadang membegal kafilah-kafilah tersebut jika mereka tidak mau memberi apa yang mereka inginkan.

Abu Dzar mempunyai kelebihan dalam bentuk keteguhan hati, kematangan akal dan pemikiran yang jauh ke depan. Dada Abu Dzar merasa sangat sempit terhadap berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya selain Allah. Dia tidak menerima apa yang dia lihat pada bangsa Arab, akidah yang rusak dan agama yang buruk.

Abu Dzar berharap akan hadirnya seorang nabi baru yang mengisi akal manusia dan hati mereka dengan hidayah dan membebaskan mereka dari kegelapan menuju cahaya.

Akhirnya Abu Dzar yang sedang berada di daerah pedalamannya mendengar berita-berita tentang diutusnya seorang nabi baru di Makkah, maka dia berkata kepada Anis saudaranya, “Pergilah, tidak ada bapak bagimu, ke Makkah, carilah berita tentang seorang laki-laki yang mengaku dirinya sebagai nabi dan bahwa dia menerima wahyu dari langit, dengarkan ucapannya dan sampaikan kepadaku.”

Anis berangkat ke Makkah, dia bertemu dengan Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, mendengar darinya kemudian pulang ke kampung halamannya, Abu Dzar menyambutnya dengan sepenuh hati, Abu Dzar pun bertanya dengan penuh semangat tentang berita nabi yang baru tersebut.

Anis berkata, “Aku melihat seorang laki-laki, demi Allah, yang mengajak kepada akhlak-akhlak yang mulia dan mengucapkan kata-kata yang indah tetapi bukan syair.”

Abu Dzar bertanya, “Lalu apa kata orang-orang tentangnya?”

Anis menjawab, “Mereka mengatakan bahwa dia tukang sihir, dukun dan penyair.”

Abu Dzar berkata, “Demi Allah, kamu tidak bisa menghilangkan dahagaku, kamu tidak bisa memenuhi kebutuhan batinku. Apakah kamu sanggup untuk mencukupi kebutuhan keluargaku selama aku berangkat untuk menemuinya dan melihat pengakuannya sebagai seorang nabi?”

Anis menjawab, “Baiklah, tetapi berhati-hatilah dari orang-orang Makkah.”

Abu Dzar menyiapkan bekalnya, dia membawa kantong air minumnya yang berukuran kecil, dia menuju Makkah ingin berjumpa dengan Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam dan mengetahui lebih dalam tentang pribadi dan risalahnya.

Abu Dzar tiba di Makkah dengan penuh rasa was-was dan kekhawatiran karena dia takut kepada penduduknya, Abu Dzar telah mendengar kemarahan orang-orang Quraisy demi membela tuhan-tuhan mereka dan perlakuan buruk mereka terhadap siapa pun yang berminat untuk mengikuti Muhammad.

Oleh karena itu Abu Dzar tidak bertanya kepada siapa pun tentang Muhammad, karena dia tidak tahu apakah orang yang ditanya kawan atau lawan?

Malam pun tiba, Abu Dzar beristirahat di masjid, Ali bin Abu Thalib melewatinya, Ali mengetahui bahwa dia adalah orang asing. Ali bertanya, “Kemarilah bersamaku wahai orang asing.” Abu Dzar mengikutinya dan malam itu dia bermalam bersama Ali. Di pagi hari Abu Dzar membawa kantong airnya dan kantong perbekalannya lalu kembali ke masjid, keduanya sama-sama diam, salah seorang dari mereka tidak bertanya apa pun kepada yang lain.

Kemudian Abu Dzar menghabiskan hari keduanya tanpa mengetahui apa pun dari berita Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam. Sore pun tiba, dia kembali mengambil tempat istirahat di masjid, Ali bin Abu Thalib kembali melewatinya, maka Ali berkata kepadanya, “Mengapa laki-laki ini belum juga menemukan rumah yang ia cari?”

Ali pun membawa dia ke rumahnya dan malam itu Abu Dzar menginap di rumahnya, salah seorang dari keduanya tidak bertanya kepada kawannya. Di malam ketiga Ali bertanya kepada kawannya ini, “Mengapa engkau tidak menceritakan kepadaku, apa yang membuatmu datang ke Makkah?”

Abu Dzar menjawab, “Jika kamu mau berjanji kepadaku menunjukkan kepada apa yang aku cari maka aku akan berbicara.” Maka Ali pun memberinya janji atas apa yang dia harapkan.

Abu Dzar berkata, “Aku datang ke Makkah dari tempat yang jauh karena ingin bertemu dengan nabi baru dan mendengar sebagian dari ucapannya.”

Wajah Ali pun berbinar, dia berkata, “Demi Allah, beliau adalah utusan Allah yang sebenarnya, dia adalah… dia adalah… Besok pagi ikutilah aku kemana aku berjalan, jika aku melihat sesuatu yang aku khawatirkan atasmu maka aku akan berdiri seolah-olah aku menumpahkan air, jika aku berjalan maka ikutilah aku sehingga kamu masuk ke tempat aku masuk.”

Malam itu Abu Dzar tidak bisa memejamkan matanya karena memendam kerinduan ingin segera bertemu dengan Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, dia sangat ingin segera mendengar sebagian dari apa yang diwahyukan kepada beliau.

Pagi tiba, Ali berjalan membawa tamunya ke rumah Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, Abu Dzar berjalan di belakangnya membuntutinya tanpa menoleh kemanapun sehingga keduanya masuk kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam. Abu Dzar berkata, “Assalamu’alayka yaa Rasulullah.”

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam menjawab, Wa’alaika salamullah wa rahmatuhu wa barakatuhu.”

Abu Dzar adalah orang pertama yang mengucapkankan salam Islam kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, kemudian setelah itu salam tersebut menyebar dan digunakan di antara kaum muslimin.

Abu Dzar Termasuk Golongan Orang yang Pertama Masuk Islam

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam duduk di depan Abu Dzar mengajaknya untuk masuk Islam, beliau membacakan al Quran kepadanya, maka tidak perlu waktu lama bagi Abu Dzar untuk mengumumkan kalimatul haq dan masuk ke dalam agama baru sebelum ia meninggalkan tempatnya, Abu Dzar adalah orang keempat atau kelima yang masuk Islam.

Abu Dzar menceritakan sisa kisah perjalanannya dalam Islam kepada kita, katanya:

Setelah itu aku tinggal bersama Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam di Makkah, beliau mengajarkan Islam kepadaku dan membacakan sebagian dari al Quran. Beliau bersabda kepadaku, “Jangan katakan kepada siapa pun di Makkah bahwa kamu telah masuk Islam, karena akhu khawatir mereka akan membunuhmu.”

Aku menjawab, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meninggalkan Makkah sebelum aku datang ke masjid dan aku mengumumkan dakwah kebenaran ini di depan orang-orang Quraisy.” Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam hanya diam dan tidak melarangnya.

Maka aku datang ke masjid, saat itu orang-orang Quraisy sedang berbincang satu sama lain, aku berdiri di tengah-tengah mereka, aku berteriak dengan suara lantang, “Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya aku telah bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq untuk disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

 Begitu kata-kataku menyentuh pendengaran mereka, mereka menjadi tercengang dan merasa keheranan. Mereka bangkit dari tempat duduk mereka seraya berkata, “Tangkap orang shabi‘ (orang yang meninggalkan agamanya) itu.” Maka mereka menuju kepadaku dan memukuliku sampai aku hampir mati, namun al-Abbas bin Abdul Muthalib paman Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam menolongku, dia merangkulku untuk melindungiku dari pukulan mereka, kemudian dia menghadap kepada mereka dan berkata, “Celaka kalian! Kalian ingin membunuh seorang laki-laki dari Ghifar, padahal daerah mereka adalah jalan bagi kafilah dagang kalian.” Lantas mereka meninggalkanku.

Aku tersadar, aku datang kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, manakala beliau melihat apa yang terjadi pada diriku, beliau bersabda, “Bukankah aku telah melarangmu untuk tidak mengumumkan keislamanmu?”

Aku menjawab, “Sebuah keinginan dalam jiwaku yang telah aku tunaikan.”

Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pulanglah kepada kaummu, sampaikan apa yang engkau lihat dan apa yang engkau dengar kepada mereka, ajaklah mereka kepada Allah, semoga Allah memberi manfaat kepada mereka melalui dirimu dan memberimu pahala karena mereka. Jika kamu mendengar bahwa aku sudah meraih kemenangan maka datanglah kepadaku.” (Sumber: ‘Mereka adalah Para Shahabat’, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, At-Tibyan)

Jasa Abu Dzar Al Ghifari

Setelah ia memeluk Islam nampaklah cermin kebaikan pribadinya, sebagai seorang muslim. Ia dikenal tidak pernah meninggalkan jihad bersama Rasulullah semenjak datang di kota Madinah, kecuali atas perintah Rasulullah sendiri. Dikisahkan oleh para ahli sejarah bahwa ia tidak mengikuti dua peperangan, yakni Dzaturriqa’ dan Bani Mushthaliq, karena ia menjadi Amir (pemimpin) di kota Madinah atas perintah Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam. (Shiratun Nabawiyah, Ibnu Hisyam, III: 285) 

Abu Dzar menunaikan amanat Rasulullah untuk mendakwahi kaumnya hingga masuk islam sebagian besar dari bani Ghifar dan bani Aslam. Abu Dzar berkata,

Aku pun pulang, ketika aku tiba di kampung halamanku, Anis saudaraku menyambutku, dia berkata, “Apa yang kamu lakukan?”

Aku menjawab, “Aku telah masuk Islam dan aku telah membenarkannya.. 

Tidak lama kemudian Anis pun masuk Islam, dia berkata, “Aku tidak mempunyai kebencian kepada agamamu, aku juga masuk Islam dan membenarkannya.”

Kemudian kami menemui Ibu kami, kami mengajaknya kepada Islam, dia berkata, “Aku tidak membenci agama kalian berdua.” Lantas ibu kami juga masuk Islam.

Mulai hari itu sebuah keluarga muslim bergerak untuk memulai dakwah kepada Allah di kabilah Ghifar, keluarga tersebut tidak pernah lelah dan tidak pernah jenuh, sehingga tidak sedikit orang-orang Ghifar yang masuk Islam dan shalat pun didirikan di tengah-tengah mereka.

Sebagian orang dari mereka berkata, “Kita tetap memegang agama kita sehingga Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, pada saat itu kita akan masuk Islam.” Maka ketika Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, mereka pun masuk Islam dan Nabi bersabda tentang mereka, “Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka. Aslam, semoga Allah menyelamatkan mereka.”

Abu Dzar tinggal di kampung halamannya sampai perang Badr, Uhud, dan Khandaq berlalu, kemudian dia datang ke Madinah dan memutuskan untuk menyertai Rasulullah dan meminta izin untuk berkhidmat kepada beliau. Beliau pun mengizinkannya dan dia pun meraih nikmat besar sebagai sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam dan kebahagiaan agung bisa berkhidmat kepada beliau.

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam senantiasa memuliakan dan menghormati Abu Dzar, setiap kali beliau bertemu dengan Abu Dzar beliau menjabat tangannya dan beliau tersenyum dan menunjukkan wajah yang berseri-seri. (Sumber: ‘Mereka adalah Para Shahabat’, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, At-Tibyan)

Keteladanan Abu Dzar

Kebaikan yang merupakan cermin pada pribadi Abu Dzar adalah tutur katanya yang jujur. Abu Dzar berkata, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku, “Tidak pernah ada di bawah kolong langit dan di atas bumi ini orang yang lebih jujur dan lebih menepati janji daripada Abu Dzar, mirip dengan Isa bin Maryam”. Mendengar pujian ini, Umar bin al-Khaththab berkata (seperti orang yang iri), ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenalnya seperti itu? Beliau menjawab, “Benar, kenalilah dia seperti itu” (HR. at-Tirmidzi, no.3802)


Abu Dzar senang memberi nasihat yang baik. Apa nasihat-nasihat yang pernah beliau tuturkan? Berikut ini kami nukilkan untuk Anda beberapa untaian nasihat yang sangat berharga yang keluar dari seorang yang jujur kata-katanya ini, yang termaktub di dalam kitab-kitab para ulama, seperti kitab
 Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim al-Ashbahani, kitab al-Mushannaf fii al-Ahaadiitsi wal Aatsaar karya Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah al-Kufii, kitab az-Zuhdu karya Imam Ahmad bin Hanbal dan kitab Fathul Baari Syarah Shahih al-Bukhari karya Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadl al-‘Asqalani asy-Syafi’i. 

Abu Dzar pernah berdiri di sisi Masjid dan berkata, “Wahai manusia, saya lelaki bernama Jundub dari al-Ghifar, marilah mendekat kepada saudara yang suka memberi nasihat lagi pengasih ini.” Maka orang-orang pun mengerumuninya. Ia bertanya; “Bagaimana pendapat kalian kalau salah seorang di antara kalian ada yang hendak bepergian, apakah ia akan mempersiapkan perbekalan yang baik baginya dan membawa keselamatannya?” Mereka menjawab, “Tentu saja.” Ia berkata lagi; “Perjalanan menuju hari Kiamat adalah perjalanan kalian yang terjauh. Ambillah perbekalan yang berguna untuk perjalanan kalian.” Mereka bertanya, “Apa perbekalan yang berguna bagi kami? Ia menjawab, “Berhajilah untuk menghadapi perkara yang amat besar (Kiamat), berpuasalah di hari yang sangat panas demi menghadapi hari Kebangkitan, shalatlah dua rakaat di kegelapan malam, untuk menghadapi kejamnya alam kubur, mengucapkan kata-kata yang baik, meninggalkan kata-kata yang jelek untuk menyongsong hari yang besar, bersedekahlah dengan harta kalian, semoga dengan itu kita bisa selamat di saat yang sulit nanti. Jadikanlah dunia ini dalam dua majelis, Satu majelis untuk akhirat dan majelis lain untuk mencari rizki yang halal. Sedangkan majelis selain yang dua itu adalah berbahaya bagimu dan tidak berguna bagimu, maka janganlah engkau menginginkannya. Jadikanlah harta itu dalam dua hal, Satu dirham untuk dibelanjakan oleh anak istrimu dengan cara yang halal, dan satu dirham lain untuk akhiratmu. Sementara selain itu berbahaya dan tidak berguna bagimu, maka janganlah kalian menginginkannya. Lalu, Abu Dzar berteriak keras, “Wahai manusia, sungguh kalian dibinasakan oleh ketamakan yang tidak pernah kalian puas selama-lamanya.” (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashbahani, I:165) 


Abu Dzar berkata, “Seorang teman yang saleh itu lebih baik daripada kesendirian. Namun kesendirian lebih baik daripada ditemani oleh teman yang jahat. Orang yang menyampaikan kebaikan itu lebih baik daripada orang yang diam. Namun orang yang diam lebih baik daripada orang yang menyampaikan kejahatan. Menjaga amanah itu lebih baik daripada mendiamkannya. Namun mendiamkan amanah itu lebih baik daripada berburuk sangka”
(al-Mushannaf fi al-Ahaaditsi wal Atsaar, Ibnu Abi Syaibah, XV:123)


Abu Dzar berkata, “Maukah engkau kuberitahukan tentang hari yang aku amat membutuhkan, yakni hari ketika aku dikuburkan, itulah hari aku sangat membutuhkan”

(al-Mushannaf fi al-Ahaaditsi wal Atsaar, Ibnu Abi Syaibah, VII:164) 

Abu Dzar berkata, “Pemilik dua dirham lebih besar hisabnya di hari Kiamat daripada pemilik satu dirham” (az-Zuhd, Imam Ahmad, hal. 214 )

Abu Dzar berkata kepada istrinya, “Wahai Ummu Dzar, sesungguhnya di hadapan kita ada aral melintang, orang yang membawa beban ringan lebih baik daripada yang membawa beban berat”(az-Zuhdu, Imam Ahmad, hal. 215)

 
Abu Dzar berkata, “Beri kabar orang-orang yang menumpuk harta itu bahwa mereka akan dibakar dengan batu panas di Neraka Jahannam, lalu batu itu akan diletakkan di bagian puting susu salah seorang di antara mereka sehingga keluar dari ujung tulang pundaknya, lalu diletakkan di tulang pundaknya hingga keluar bergoyang-goyang dari puting susunya.”
(Fathul Bari, Ibnu Hajar, III : 219) 


Abu Dzar berkata, “Tidakkah engkau melihat orang banyak? Betapa banyak mereka, namun tidak ada sedikitpun kebaikan, kecuali orang yang bertakwa, atau orang yang bertaubat”
(az-Zuhd, Imam Ahmad, hal. 214)

 
Abu Dzar berkata, “Mereka semua dilahirkan untuk mati, dimakmurkan untuk menghadapi kehancuran, bersikap tamak memperebutkan yang fana dan meninggalkan yang kekal selamanya. Sungguh amat bagus dua hal yang dibenci manusia,‘Kematian dan kemiskinan.’”
(Hilyatul Auliya’, I:163 )

[Sumber: Abu Dzar al-Ghifari & Wasiat Rasulullah, Darul Haq, Jakarta dengan beberapa tambahan (Buletin An-Nur)] 

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Pada Abu Dzar Al-Ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.


Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agarmemperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

Dishahîhkan oleh Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 2166).
(Artikel:  http://almanhaj.or.id/ pada bab hadits)

Abu Dzar Sepeninggal Rasulullah dan Akhir Hayat Beliau

Manakala Rasulullah berpulang kehadirat Allah, Abu Dzar tidak kuasa untuk tetap tinggal di Madinah al Munawwarah setelah ia ditinggal oleh orang yang dimuliakannya sementara majelis-majelis beliau sepi dari petuah0petuahnya, Abu Dzar pindah ke Syam dan dia tinggal di sana selama khilafah ash-Shidiq dan al-Faruq.

Di masa khilafah Utsman bin Affan, Abu Dzar tinggal di Damaskus, dia melihat kaum muslimin mulai tergiur oleh dunia dan tenggelam di dalam kenikmatannya, hal ini membuatnya tercengang dan mendorongnya untuk menjauhinya. Di saat itu Utsman bin Affan memintanya untuk pulang ke Madinah, Abu Dzar datang, namun ridak lama berselang Abu Dzar merasa sempit dengan kecenderungan masyarakat kepada duniadan masyarakat pun merasa sempit dengan sikap kerasnya dan kritik pedasnya terhadap mereka, maka Utsman pun memintanya untuk pindah ke Rabadzah, sebuah perkampungan kecil di tepi Madinah, Abu Dzar pergi ke sana dan tinggal di suatu tempat yang jauh dari hunian manusia dengan sikapnya yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan mereka dalam perkara harta dunia, berpegang kepada apa yang dipegang Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam dan kedua sahabatnya, yaitu mementingkan akhirat yang langgeng di atas dunia yang fana.

Suatu ketika seorang laki-laki masuk ke dalam rumah Abu Dzar, dia melihat sudut-sudutnya, dia tidak menemukan perabot apapun. Dia berkata, “Wahai Abu Dzar, dimana perabotmu?”

Abu Dzar menjawab, “Kami mempunyai perabot di sana -maksudnya di akhirat- kami mengirimkan perabot terbaik kami padaNya”

Laki-laki itu mengerti maksud Abu Dzar, dia berkata, “Akan tetapi kamu tetap memerlukan perabot selama kamu di dunia ini.”

Abu Dzar menjawab, “Tetapi pemilikNya tidak membiarkan kita di sini.”

Gubernur Syam mengirimkan 300 dinar untuknya dan berkata kepadanya, “Gunakan ia untuk memenuhi kebutuhanmu”

Maka Abu Dzar mengembalikannya dan berkata, “Apakah gubernur tidak menemukan orang yang lebih rendah dariku di sisi Allah?”

Di tahun 32 Hijriah, Allah Ta’ala memanggil seorang ahli ibadah sekaligus ahli zuhud di mana Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda tentangnya, “Bumi tidak membawa dan langit tidak memayungi seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar.” (Sumber: ‘Mereka adalah Para Shahabat’, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, At-Tibyan)

Resep Es Krim Sayuran Rasa Buah

Resep berikut saya dapat dari teman grup Whatsapp dan sudah dipraktekkan sendiri saat pelatihan masaknya. Dicoba yuk bu ibu…

Bahan:
– Tape 2-3 iris
– Sawi 3-4 lembar
– Gula  pasir 6 sendok
– Susu kental manis 1 sachet
– Susu bubuk dancow 1 sachet
– Es batu

Cara membuat:
– Blander  (kalau bisa tidak menggunakan air) sampai benar-benar halus
– Selesai blender masukan cup
– Sajikan.. selesai…

kalo pengen jadi rasa durian sawinya diganti daun seledri…
kalo pengen jadinya rasa strawberry sawinya diganti tomat…

Maaf gambar belum bisa diposting disini karena kehapus..hehe..

Thanks to Mbak Viki Grup Belajar dan Berbagi Ilmu

Kisah Menakjubkan Ummu Sulaim Saat Ditinggal Mati Anaknya

Berikut adalah kisah Ummu Sulaim (nama asli: Rumaysho atau Rumaisa) yang menakjubkan di mana ia begitu bersabar saat ditinggal mati anaknya. Lihat kisah ini dan gali pelajaran menarik di dalamnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ يَشْتَكِى ، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ ، فَقُبِضَ الصَّبِىُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِى قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ . فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارِ الصَّبِىَّ . فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا » . فَوَلَدَتْ غُلاَمًا قَالَ لِى أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِىَ بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَتَى بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ ، فَأَخَذَهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَمَعَهُ شَىْءٌ » . قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ . فَأَخَذَهَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَضَغَهَا ، ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِى فِى الصَّبِىِّ ، وَحَنَّكَهُ بِهِ ، وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ .

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putera Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu puteranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh puteraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya puteranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.”

Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah. (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لأَهْلِهَا لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ – قَالَ – فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ – فَقَالَ – ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لاَ. قَالَتْ فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ فَغَضِبَ وَقَالَ تَرَكْتِنِى حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِى بِابْنِى. فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِى غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا ». قَالَ فَحَمَلَتْ

Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Tholhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Tholhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.” Diceritakan bahwa ketika Abu Tholhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Tholhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” Abu Tholhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?” Abu Tholhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi.  (HR. Muslim no. 2144).

Kisah di atas menunjukkan keutamaan sahabat Ummu Sulaim. Dari kisah di atas kita bisa melihat bagaimana kuatnya kesabaran Ummu Sulaim atau Rumaysho, sungguh ia begitu penyabar. Sampai-sampai ketika puteranya meninggal dunia pun, ia bisa bersabar seperti itu. Ketika dapat musibah kala itu, ia tetap melayani suaminya seperti biasa, bahkan ia pun berdandan begitu istimewa demi memuaskan suaminya di ranjang. Tatkala suaminya puas, baru ia kabarkan tentang kematian puteranya. Subhanallah … Sungguh kesabaran yang luar biasa.

Beberapa faedah lainnya dari kisah di atas:

1- Dianjurkan istri untuk berhias diri untuk suaminya dengan dandan yang istimewa. Namun yang terjadi di kebanyakan wanita saat ini, mereka hanya mau berdandan ketika di depan orang banyak saat keluar rumah, bukan di hadapan suaminya. Cobalah ambil teladan dari kisah Rumaysho di atas yang ia masih mau berdandan cantik walau sedang dirundung duka.

2- Istri harus bersungguh-sungguh dalam berkhidmat pada suami dan membantu mengurus hal-hal yang bermasalahat bagi suami seperti yang dilakukan Ummu Sulaim pada suaminya dengan menyediakan makan malam.

3- Mustajabnya do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mendo’akan keberkahan bagi malam Ummu Sulaim dan Abu Tholhah, akhirnya mereka pun dikaruniai lagi seorang anak.

4- Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang lebih baik. Lihatlah Ummu Sulaim begitu ridho dan penyabar dengan ketentuan Allah sehingga ia pun dikaruniai putera yang dinamakan ‘Abdullah. Bahkan dari ‘Abdullah inilah lahir sembilan keturunan yang kesemuanya para penghafal Al Qur’an sebagaimana disebutkan dalam riwayat lainnya. Bahkan mereka menjadi para ulama sebagaimana disebutkan Imam Nawawi rahimahullah.

5- Disunnahkan ridho terhadap takdir yang terasa pahit.

6- Sesuatu yang bisa menguatkan sabar adalah dengan seseorang mengenal dirinya sendiri bahwasanya ia berasal dari sesuatu yang tidak ada. Manusia adalah milik Allah. Yang manusia miliki hanyalah titipan dari Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil.

7- Disunnahkan melakukan tahnik dengan mengunyah kurma dan dimasukkan dalam langit-langit mulut bayi. Hal ini juga disunnahkan berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Lalu siapakah yang melakukan tahnik, bisa ditelusuri di sini.

8- Disunnahkan memberi nama pada si buah hati pada hari lahirnya.

9- Disunnahkan memberi nama yang terbaik bagi anak dan sebaik-baik nama adalah ‘Abdullah.

10- Boleh meminta orang sholih untuk memberikan nama pada anak.

11- Hendaknya memberi kabar kematian pada orang lain dengan lemah lembut.

12- Boleh menggunakan kata-kata kiasan yang seolah-olah mengandung dusta ketika hajat (dibutuhkan).

Sumber: Muslim.Or.id

Referensi:

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan pertama, tahun 14

TANGANI DEMAM SECARA BIJAK

Reblog!! Perlu dibaca tiap anak-anak kena demam biar ga gampang khawatir ‘n stay calm..

Muslimah dan Kesehatan

Demam merupakan suatu kondisi yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orangtua yang khawatir ketika buah hatinya terserang demam. Tak jarang, orangtua mengambil jalan pintas dengan mengandalkan obat penurun panas tiap kali anaknya mengalami demam. Padahal, tidak setiap kondisi peningkatan suhu serta merta perlu segera ditangani dengan obat. Untuk itu, perlu kiranya kita mengenal lebih dekat tentang demam, supaya kita bisa berlaku bijak dalam menyikapinya.

View original post 1,113 more words

Bayi pun ‘Bekerja Keras’ Ketika Persalinan

“Jika bayi bisa berbicara, apa yang akan dia ceritakan tentang proses melahirkan menurut ‘Versinya’? ”

by Prima Restri Ludfiani P.

#Ringkasan

Bunda bukanlah satu-satunya orang yang bekerja keras saat persalinan, karena, sama seperti saat mengendarai mobil utk mencapai tujuan, bayi Andalah yg berperan sebagai co-driver.

Kelahiran adalah kerjasama, pelajaran bersama antara ibu dan bayi. Sehingga sekeras apapun usaha yang Anda jalani saat proses persalinan, ternyata bayi juga ‘berjuang’ untuk lahir.

Semakin bunda menguasai keadaan, maka bayi pun juga akan merasa tenang, dan kerjasama yg baik ini semakin mempermudah proses melahirkan bagi Anda berdua.

Ketahui apa yg dialami bayi menjelang persalinan sampai hari H tiba agar bunda tahu bagaimana cara menolongnya.

#Tahap Pertama: Persiapan Persalinan

*Fase Awal*

Yang bunda alami…
Fase ini merpakan fase terlama. Mulai terjadi kontraksi ringan dg jangka waktu yg berbeda-beda. Ada yang berlangsung selama beberapa jam, namun ada pula yang sampai berhari-hari. Tingkat nyeri pada fase ini masih rendah.

Yang bayi alami…
Bayi memulai ‘perjalanan’nya dengan menekan kepalanya ke arah jalan lahir untuk memulai pembukaan mulut rahim. Saat Anda akan melahirkan, bayi akan memproduksi hormon oksitosin dalam jumlah banyak. Dan hormon ini membuat bayi merasa tenang. Bayi Anda akan terus menekan kepalanya dan kadang-kadang dia beristirahat sejenak.

Yuk, bantu bayi Anda..
Ingat, bahwa suasana hati ibu cukup berpengaruh pada apa yang bayi rasakan. Maka dari itu, fokuslah pada rasa bahagia menyambut kelahirannya. Rasa cemas hanya akan membuat tubuh memproduksi hormon stress yang berdampak membuat bayi menjadi tegang. Dan kondisi ini tentu tidak baik untuk janin.

*Fase Aktif*

Yang bunda alami…
Umumnya fase ini lebih pendek dibanding fase sebelumnya, namun dengan pola waktu yang lebih teratur. Kontraksi pun semakin kuat dan terjadi setiap 3-4 menit sekali. Pemeriksaan dalam untuk calon ibu juga akan dilakukan untuk membantu pembukaan leher rahim, agar bisa dilakukan sebuah tindakan jika tidak terjadi kemajuan.

Yang bayi alami…
Saat kontraksi terjadi, dinding rahim akan “menekan” bayi Anda dan ini bisa mempengaruhi suplai darah. Karena ia mendapatkan suplai oksigen dari placenta maka ketika kontraksi terjadi, bayi Anda akan mendapat suplai oksigen yang sedikit. Di saat-saat ini sangatlah normal jika detak jantung bayi Anda sedikit melemah. Namun setelah kontraksi berlalu, detak jantungnya akan kembali normal. Jika Anda memutuskan menggunakan obat penghilang rasa sakit, pada umumnya anda akan merasa ngantuk, hal ini juga dialami oleh bayi Anda.

Yuk bantu bayi Anda…
Cobalah untuk relaks di antara waktu kontraksi. Kontraksi yg semakin sering akan membuat Anda cepat lelah. Maka saat kontraksi menghilang, maksimalkan momen itu untuk beristirahat. Ini membuat Anda lebih siap untuk menghadapi kontraksi berikutnya.

*Transisi*

Yang bunda alami…
Secara umum dan normal, pembukaan akan terus meningkat pada masa-masa ini bersamaan dengan kontraksi yang semakin kuat. Terjadi setiap 2-3 menit sekali. Secara perlahan mulut rahim pun akan melebar.

Yang bayi alami…
Di masa ini bayi akan merasa kaget karena dinding rahim yang selama 9 bulan melindunginya mulai menekannya. Namun bunda tenang saja, karena bayi tidak akan merasa sakit. Ini terjadi karen sambungan saraf yang mengantarkan pesan sakit ke otak atau membuat bayi menginterpretasikan rasa sakit tidak terbangun saat proses kelahiran.

Yuk bantu bayi Anda!
Jika Anda masih bisa menahan rasa sakit karena kontraksi, cobalah berjalan pelan-pelan. Gaya gravitasi akan membantu bayi Anda lebih mudah menuju jalan lahir.

#Tahap Kedua: Proses Mengejan

Yang bunda alami…
Saat kontraksi sudah semakin sering terjadi, Anda akan merasakan sensasi seperti ingin buang air besar. Anda pun ingin mengejan sesegera mungkin. Anda harus fokus mendorong bayi keluar dari rahim. Mengejanlah sekuat mungkin tapi harus dengan instruksi dokter atau bidan yg mendampingi Anda.

Yang bayi alami…
Bayi pun mulai bergerak menuju lubang lahir. Dan saat ini bayi anda sudah siap menuju dunia luar. Karena tulang tengkoraknya belum keras, tulang tengkoraknya bisa menyesuaikan dengan lubang lahir dan melaluinya. Pada tahap ini detak jantung si bayi bisa saja menurun. Hal ini terjadi karena tekanan pada tali pusat akan menghambat tekanan aliran darah dari plasenta ke bayi yang otomatis mengurangi pasokan oksigen. Untungnya bayi memiliki cadangan dan biasanya mampu untuk mengatasinya.

Yuk bantu bayi Anda fokus pada ritme pernapasan untuk memaksimalkan jumlah pasokan oksigen untuk Anda dan bayu Anda.

#Tahap Ketiga: Melahirkan

Yg bunda alami…
Saat ujung kepala bayi mulai melalui lubang lahir, Anda akan merasakan sedikit sensasi spt rasa panas. Dan setelah melalui beberapa kontraksi berikutnya, kepala pun akan keluar lalu pundaknya sampai akhirnya ia lahir sempurna.

Yg bayi alami…
Tekanan yang ia terima ketika melalui lubang lahir yg kecil membantu persiapannya untuk hidup di luar rahim. Cairan yg mendorongnya berupa lendir yang keluar dari paru-paru menghindarinya untuk menghirup cairan dan darah saat melalui jalan lahir. Ini semua membantunya untuk menghirup nafas pertamanya.

Yuk bantu bayi Anda..
Selalu dengarkan dan ikuti apa yang dianjurkan oleh dokter atau bidan Anda.

5 menit pertamanya..
1. Menyusui
2. Penyesuaian suhu tubuh.
3. Belajar mandiri
4. Berekspresi
5. Dipantau.

Sumber: Majalah Ayahbunda

Keutamaan-Keutamaan ‘Aisyah

Banyak sekali keutamaan yang dimiliki oleh Ibunda Aisyah, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sabdanya:

“Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid¹ atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))

Continue reading

Daftar Bahan Kue dan Bumbu Masak Bersertifikasi HALAL MUI dan Luar Negeri

Selalu teliti dan cermat sebelum membeli barang. Mohon lihat label halal dan tanggal kadaluwarsa produk. Jika pernah menemukan produk halal lainnya mohon tulis di kolom komentar. Nanti akan ditambahkan.

Semoga bermanfaat.

halalmui.org

  1. Tepung :
* Bogasari = Kunci Biru, Segitiga Biru, Cakra, Lencana Merah, dll* Eastern Pearl Flour Mills = Kompas, K2, Gerbang, dll* Sriboga = Pita Merah, Beruang biru, Tali Emas, dll* Komachi, Jepang* Rose Brand = Tepung Beras, Tepung Ketan

* Maizenaku = Maizena

* Tepung Tapioka: Gunung Agung, Rose Brand* Tepung Tang Mien : Nila Sari

* dll

 

2. Gula :

* Gupalas = Gula pasir PTPN

* Gula Pasir cap Bintang

* Gula Pasir Putih Premium, Indomaret

* Gula Pasir Legiku

* Gula Halus Mawar

* Gula Halus Dyna

 

3. Margarin :

* Blueband

* Filma

* Forvita

* Palmia

4. Shortening :
* Merry Whip Gold Bullion

* Amanda

* Malinda

* Pusaka

* Palmia

* Hollman

 

5. Butter

* Anchor

* Orchid

* Wijsman

* Hollman

* BOS (butter oil subtitute) produksi Filma/Sub Milky* Gold Bullion

* dll

6. Coklat bubuk

* Schoko

* Bendico

* Java

* Tulip

 

7. Dark Compound Chocolate, Couverture, White/ColouringChocolate

* Schoko

* Colatta

* Galetto

* Alfa

* Chefmate

* Mercolade

* dll

8. Pewarna/Perisa dan Pasta Makanan

* Rajawali pewarna makanan

* Hakiki pewarna makanan

* Ikan paus pasta makanan

* Golden Brown Pasta Makanan (kecuali yang mengandung alkohol/rhum, lihat label halal pada kemasan)

* Ny. Liem pasta makanan (lihat label halal juga)

* Toffieco (lihat kemasan karena tidak semua halal, Rhum /Pasta Bakar mengandung alcohol)

* L’Rome

 

9. Whip Cream

* Pondan Whip Cream Bubuk

* DP Whip Cream Bubuk

* Haan Whip Cream Bubuk

* Anchor Whip Cream (kental)* RICH’s SHnya dari China tidak diakui oleh LPPOM MUI ya, jadi tdk usah dipakai.

10. Selai, filling

* Paletta

* Puratos

* Lepatta, Mero

* Prims Foods

11. Keju

* Kraft = Cheddar, quickmelt, Cheese Filling

* Prochiz

* Calf cheddar

* Diamond

* Cheesy (All Product)

* Greenfield Mozarella

* Mozarella Arla Finello

* Parmesan Lemnos, Australia

* Parmesan & Mozzarella Florida, Australia

* Keju Beqa

* Gouda : Natura

 

12. Cream Cheese

* Calf

* Yummy

* Cheesy

* Dairy Land, Tatura

* Royal Victori, Tatura

13. Ragi Instan

 * Saf Instan, Lesaffre

* Fermipan

* Mauri-Pan (halal certified by MUI)

 

14. Bread Improver

* Baker Bonus, Lesaffre

 

15. Baking Powder Double Acting (BPDA)

* Hercules, Bakels

* Xena, Mero

 

16. Cake Emulsifier

* Alfagell

* Quick 75

* SP Koepoe2

* dll

17. Minyak Padat

* Cita

 

18. Garam :

* Dolphin

* Refina

19. Nori :

*Mama Suka

 

20. Minyak Wijen/Sesame Oil :

* Double Pagoda – Singapore

 

21. Kecap inggris :

* Asia – Tangerang

* ABC.

22. Kecap Asin :

* Hati Angsa-Medan

* ABC

 

23. Mayonaise :

* All Product of “Maestro”

* Euro Gourmet

* Mama Suka

24. Vinegar / Cuka Buah* Cuka Tahesta (Apel, Anggur, Rosella)

 

25. Gelatin :

 *Gelatin Bubuk GELITA ex Australia  dan New Zealand.

Sumber : MyHalal Kitchen

 NB ; untuk halal haram nya,di cek kembali label Halalnya,karena bisa jadi Produk tsb sudah lama beredar akan tetapi baru bersertifikat

Jangan Mencela Penyakit Demam

Rasulullah – صلى الله عليه و سلم – bersabda kepada seorang wanita yang mencela penyakit demam yang dideritanya :

لا تسبي الحمى فإنها تذهب خطايا بني آدم كما يذهب الكير خبث الحديد

Artinya :
Janganlah engkau mencela demam, karena sesungguhnya demam itu dapat menghilangkan dosa anak adam sebagaimana Api yang dapat membersihkan kotoran besi.
( HR. MUSLIM )

Dalam hadist lain Rasulullah – صلى الله عليه و سلم – bersabda :

أبشر فإن الله يقول : هي ناري أسلطها على عبدي المؤمن في الدنيا لتكون حظه من النار في اﻵخرة

Artinya :
Bergembiralah, karena Allah – عز و جل – berfirman :
Demam adalah api-Ku yang Aku berikan kepada hamba-Ku didunia untuk menggantikan baginya dari Api Neraka di akhirat.
( HR. Ahmad dan Ibnu Majah serta dishahihkan oleh syaikh al-albani )

Rasulullah – صلى الله عليه و سلم – bersabda :

ما يصيب المسلم من نصب و ﻻ وصب و لا هم و لا حزن و ﻻ أذى و لا غم حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه

Artinya :
Tidaklah sesuatu yang menimpa seorang muslim dari : KESULITAN, KEDUKAAN, KESEDIHAN, PENYAKIT dan PENDERITAAN sampai hingga DURI YANG MENUSUKNYA.
Melainkan Allah – عز و جل – akan menghapus dosa-dosanya.
(HR. Bukhari dan Muslim )

Rasulullah – صلى الله عليه و سلم – bersabda :

إن عظم الجزاء مع عظم البلاء و إن الله إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا و من سخط فله السخط

Artinya :
Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya kesulitan/cobaan yang diterima.
Sesungguhnya Allah – عز و جل – jika mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka.
Siapa saja yang ridha – dengan ujian tersebut – maka baginya keridhaan dari Allah, sedangkan siapa saja yang murka/tidak suka maka baginya kemurkaan dari Allah.
( HR. At-Titmidzi dan Ibnu Majah serta dishahihkan oleh syaikh al-albani )

Apakah kita sudah termasuk orang – orang yang ridha dan bersabar terhadap ujian dari Allah atau Sebaliknya ?

Allahul musta’aan…

*copas dari grup WA Tenda Biru Al Azhar by Ustadz Adrial Martadinata*

Ketika Televisi Menjadi Orang Tua Ketiga

Ada dua fakta televisi yang tidak diperdebatkan lagi. Pertama, televisi merupakan faktor perusak dan penghancur di sebagian besar program acaranya. Kedua, televisi merupakan faktor pembangun di beberapa program, namun ini sangat minim.

Itulah opini para ibu di beberapa negara yang menjawab angket pendukung penulisan buku ini. Saya menemukan 85% para ibu berpendapat bahwa televisi merupakan faktor negatif yang memengaruhi pendidikan anak. Mereka mengatakan bahwa televisi sangat berbahaya, bahayanya melebihi manfaatnya, perusak perilaku anak, dan penyebab munculnya problematika anak. Sementara itu, para ibu yang lainnya berpendapat bahwa televisi merupakan suatu kebutuhan, namun penggunaannya harus dengan beberapa persyaratan tertentu. Disini, kita membahas bahaya televisi karena kita sedang membahas televisi sebagai pengaruh negatif dalam pendidikan anak.

Bahaya Televisi terhadap Anak

Selama menelaah buku-buku yang berbicara seputar pengaruh televisi terhadap anak, saya menemukan banyak penelitian yang menjelaskan bahaya televisi yang diklasifikasikan dalam beberapa bagian, diantaranya:
bahaya dari sisi keberagaman anak, bahaya dari sisi perilaku anak, bahaya dari sisi kesehatan, dan bahaya dari sisi kemasyarakatan. Berikut ini beberapa bahaya yang paling tampak.

  1. Televisi dan Agama

    • Tidak sedikit program televisi yang menyuguhkan acara anak yang merupakan hasil impor dari negara-negara Barat, yang dapat merusak fitrah keimanan anak kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terlebih lagi, ada program acara anak yang menceritakan adanya tuhan dengan nama tertentu, seperti bernama “Tuhan” Zella (Godzila) sang penyelamat manusia dari kejahatan. Ada cerita tentang peperangan di luar angkasa; menggambarkan adanya musuh manusia di planet lain yang dapat menghancurkan bumi. Acara tersebut menggambarkan alam semesta dan kehidupan seakan-akan sebuah dongeng, jauh dari gambaran islami tentang alam semesta, kehidupan, dan manusia. Kebanyakan program acara tersebut menceritakan tentang alam semesta yang besar tanpa ada kendali dari kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.
    • Bila kita perhatikan program acara tersebut, kita dapat menemukan bahwa sebagian besar acara anak itu tidak sesuai dengan ajaran agama kita.
  2. Acara ini justru menceritakan bahwa alam semesta ini dikendalikan oleh dua kekuatan: kekuatan jahat dan kekuatan bagi yang saling berebut kekuasaan, padahal sebenarnya hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang kuasa mengatur dan mengendalikan segala sesuatu di alam semesta ini. Contoh (buruk yang bertentangan dengan prinsip keimanan ini adalah) film yang menggambarkan akal di sentral alam semesta ini dan akal itulah sumber peraturan alam semesta ini[1].

    Contohnya, acara anak “Hai Simsim, bukalah!” Acara ini merupakan terjemahan dari film Amerika. Meskipun program acara ini lebih sedikit efek negatifnya bagi anak, tetapi memiliki beberapa unsur negatif. Akibat pengaruh negatif program acara anak ini, salah seorang anak yang menonton acara tersebut bersujud kepada boneka agar mengabulkan semua permintaannya![2]

  3. Televisi dan Perilaku Anak

    • Secara umum, televisi dapat membuat anak –dengan menyempatkan diri untuk menontonnya- berkepribadian negatif, menyebabkan anak menjadi bodoh, kurang peduli, kurang peka, dan dapat menyebabkan anak melakukan tindak anarkis, jauh dari sifat kasih sayang[3].
    • Anak menjadi korban iklan perdagangan yang acapkali mengandung norma-norma negatif bagi para pemirsanya, seperti sifat tamak, mubadzir, saling membanggakan diri, tidak peduli suka menguasai, bertindak anarkis, dan berusaha untuk menarik perhatian lawan jenis. Banyak iklan yang menayangkan orang telanjang, padahal iklan seperti ini mendapatkan kritik di negara-negara Barat sendiri![4] Terlebih lagi iklan-iklan seperti itu menarik simpati anak untuk membeli produk yang terkadang berbahaya bagi kesehatan anak![5]
    • Penayangan informasi internasional maupun nasional tentang para artis dan atlet sebagai bintang dan pahlawan, hal ini dapat mendorong anak untuk mengagumi dan mengidolakan mereka dan tidak mengetahui para bintang dan pahlawan sebenarnya, orang-orang yang terkemuka dalam sejarah, ilmu pengetahuan, dan perjuangan, khususnya di negerinya sendiri, juga dalam sejarah Islam.[6]
    • Para dokter ahli menilai bahwa televisi merupakan sumber bahaya bagi perilaku anak yang memiliki kecenderungan seksual.[7] Televisi juga berperan sebagai pembangkit diri naluri seksual pada anak.[8]
    • Televisi dapat mencetuskan sifat anarkis (kekerasan) pada jiwa anak atau menambah kenakalan anak. Ada penelitian yang menjelaskan bahwa 70% orang tua mencela tindakan anarkis anak yang disebabkan oleh cerita-cerita dan tayangan kriminal secara brutal di televisi atau disiarkan di radio.[9] Tayangan tentang tindakan kriminal dan brutal tersebut mendorong anak yang tidak memiliki kecenderungan bersikap anarkis untuk mencoba dan menirunya, juga dapat menambah kenakalan pada anak yang memiliki kecenderungan sikap anarkis.[10] Anak yang sering menonton acara televisi yang mengandung unsur tindakan anarkis, kecenderngannya untuk bertingkah nakal menjadi lebih tinggi daripada anak yang tidak menontonnya.[11]
  4. Televisi dan Bahaya Kesehatan Anak

    • Duduk dalam waktu lama di depan televisi dapat menyebabkan bahaya di punggung, sama seperti bahayanya membawa barang berat.
    • Berlebihan dalam mengisi muatan informasi pada susunan saraf anak dengan kondisi cahaya yang menyilaukan akan menyebabkan anak mengidap penyakit yang dikenal dengan sebutan epilepsi televisi. Penyakit itu akan menjadi bertambah parah bila anak masih sangat kecil![12]
    • Televisi dapat mempersempit waktu anak untuk bermain, khususnya permainan yang melatih kemampuan daya kreativitas, dan mempersingkat waktu tidur anak.[13] Juga berdampak negatif bagi indera pendengaran dan penglihatan anak.[14]
    • Menurut kesehatan, anak kecil di bawah usia dua tahun sangat berbahay menonton televisi.
  5. Bahaya Televisi terhadap Daya Berpikir Anak

  6. Sebagian besar acara televisi untuk anak-termasuk acara program pendidikan-tidak mampu mengembangkan potensi kecerdasan anak karena mayoritas acara tersebut menyuguhkan jawabab/solusi praktis. Hal ini melemahkan potensi anak untuk berpikir.[15]

  7. Televisi dan Keluarga

  8. Televisi dapat menjauhkan hubungan di antara individu keluarga. Sebagian keluarga ada yang tidak berkumpul bersama kecuali ketika menonton sinetron dan film. Kebersamaan seperti ini tidak mengandung unsur interaksi antarindividunya, juga membuat anak tidak leluasa dalam berbuat dan bersikap dengan kedua oran tua tercinta.

Prinsip-prinsip yang Ditawarkan untuk Menjauhkan Anak dari Bahaya Televisi

  • Jauhkan mengizinkan anak menonton televisi lebih dari satu jam per hari. Adapun anak yan masih menyusui ASI (anak di bawah usia dua tahun), dokter menyarankan agar ketika menyusui, ibu tidak memposisikan anak berhadapan dengan televisi karena pertumbuhan fungsi otak anak masih belum sempurna.[16]
  • Jadikanlah apa yang ditonton anak sebagai kesempatan bagi orang tua untuk menajarkannya; perbuatan mana yang benar dan yang salah.[17]
  • Berikanlah kepada anak kegiatan social di dalam atau di luar rumah dan berikanlah hiburan pengganti.
  • Penting sekali bagi orang tua untuk memberikan contoh kepada anak supaya tidak menonton program acara televisi yang tidak bermanfaat dan bertentangan dengan agama.
  • Janganlah menggunakan televisi sebagai alat untuk menenangkan anak, atau untuk memberikan ganjaran atau hukuman. Menurut persaksian para ibu-yang turut menjawab angket yang disebarkan- ada di antara mereka yang menjadika tontonan televisi sebagai cara untuk memberikan ganjaran atau hukuman bagi anak!
  • Tanamkanlah pada diri anak untuk menghargai waktu melalui ucapan dan praktik agar anak tidak menghabiskan waktu di depan televisi.
  • Pastikanlah anak meminta izin terlebih dahulu sebelum menghidupkan televisi, tentunya setelah orang tua membatasi program acara televisi apa saja yang boleh ditonton anak dan menentukan waktu untuk menonton; selama tidak lebih dari satu jam. Yang terpenting lagi, biasakanlah anak menonton televisi sambil duduk.
  • Berikanlah hadiah per minggu bagi anggota keluarga yang paling jarang menonton televisi dalam seminggu.
  • Hendaknya memperhatikan syarat-syarat kesehatan dalam menonton televisi, seperti minimal jarak antara televisi dan penonton sejauh enam kaki (l.k. dua meter), layar TV sejajar dengan pandangan mata atau di bawahnya, dan ruang tempat menonton haru terang untuk menetralisasi cahaya yang memancar dari layar televisi.

Ditulis ulang dari Ensiklopedi Pendidikan Anak Muslim karya Hidayatullah binti Ahmad,penerbit Fikr.

Penyadur: Muhammad Nur Ichwan

Artikel www.muslim.or.id


[1] Al Ijhazu ‘ala at-Tilfaz hlm. 132-133.[2] Al-Isykaliyah al-Muashirah fi Tarbiyat ath-Thifl al-Muslim, hlm. 25, dengan beberapa penyeusaian.

[3] A-I’lam al-Idzaiy wa at-Tilifizyuniy hlm. 245-246.

[4] Abna-una wa Lughat Kut-Syi wal al Kat-yib hlm. 54-55.

[5] At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 77.

[6] Ahammiyah alI’lam fi al-Islam, majalah Nadwa ath-Thalib hlm. 10; ath-Thifl al-Muslim Baina Manafi’ at-Tilifizyun wa Madharrihi hlm.146 dan seterusnya; Nazharah Islamiyah li al-Insani wa al-Mujtama’I Khila al-Qarni Rabi’i ‘Asyara hlm. 33.

[7] At-Tilifizyun Hal Yutiru al-Athfal, intenet, islam online.

[8] Al-Ijhazi alaa at-Tilfaz hlm. 121.

[9] Al-I’lam wa ar-Risalat at-Tarbiyah hlm. 83-84

[10] At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 91 dengan penyesuaian.

[11] ath-Thifl al-Muslim Baina Manafi’ at-Tilifizyun wa Madharrihi hlm. 125; Tanmiyah al-Maharati al-Ijabiyah hlm. 63.

[12] Athfaluna wa at- Tilifizyun hlm. 10.

[13] Hal Yashbahu at-Tilfaz Badilan li Hikayah al-Jaddah hlm. 34; At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 104; Dalil al-Walidain ila Tansyiati ath-Thifl hlm. 229.

[14] A-I’lam al-Idzaiy wa at-Tilifizyuniy hlm. 343; al-Abts al-Mubasyir hlm. 65.

[15] At-Tilifizyun Jalisun Sayyi-un li al-Athfal, internet; islam online.

[16] At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 195-196

[17] At-Tilifizyunu wa Bina adh-Dhamir, internet, islam online. Ar-Ru’yah al-Islamiyah li ‘Ilam ath-Thifl hlm. 107.