[Kitabul Iman] Pengenalan tentang Bagaimana Melihat Allah?

*🌼🍃RENUNGAN PAGI🍃🌼*
📗 KITAB KE-1: KITABUL IMAN (KEIMANAN).

📝 Bab ke-81: Pengenalan tentang Bagaimana Melihat Allah?

hadist no 302
🍃 Dan telah menceritakan kepada kami, Suwaid bin Said, ia berkata telah menceritakan kepadaku, Hafsh bin Maisaroh, dari Zaid bin Aslam, dari Atha’ bin Yasaar, dari Abu Sa’id al-Khudriy –semoga Allah meridhainya- , bahwa sekelompok manusia di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berkata:

Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”

Rasulullah bersabda: “Ya“.

Nabi bertanya: “Apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat matahari saat tengah hari yang jernih tidak ada awan sama sekali? Apakah kalian berdesak-desakan saat melihat bulan purnama di langit yang jernih tak ada awan sama sekali?”

Mereka berkata: “Tidak, wahai Rasulullah”.

Nabi menyatakan: “Kalian tidaklah berdesak-desakan saat melihat Allah Tabaaroka Wa Ta’ala pada hari kiamat, sebagaimana tidak berdesak-desakannya kalian ketika melihat salah satu dari keduanya (matahari dan bulan) pada hari kiamat. Pada saat dikumandangkan seruan agar setiap umat mengikuti sesembahannya (waktu di dunia). Tidaklah tersisa para penyembah selain Allah seperti patung dan berhala kecuali mereka berjatuhan di anNaar. Hingga tinggal orang-orang yang menyembah Allah termasuk orang yang baik, fajir, dan yang tersisa dari Ahlul Kitab”.

Orang-orang Yahudi itu dipanggil dan ditanyakan kepada mereka:
Apa yang kalian sembah?”

Mereka berkata: “Kami dulu menyembah Uzair anak Allah.
Dikatakan kepada mereka: “kalian dusta! Allah sama sekali tidak memiliki istri atau anak. Apa yang kalian inginkan?”
Mereka berkata: “Kami haus wahai Rabb kami, berikan kami minum.”
Kemudian diisyaratkan kepada mereka agar mereka turun (untuk mengambil minuman) ternyata mereka digiring menuju anNaar, yang penampakannya seperti fatamorgana, yang justru meluluhlantakkan (menghancurkan) mereka hingga mereka berjatuhan ke anNaar.

Kemudian anNashara dipanggil, ditanyakan kepada mereka:
Apa yang kalian sembah?”
Mereka berkata: “Kami menyembah Isa putra Allah.”
Dikatakan kepada mereka: “Kalian dusta! Allah tidaklah memiliki istri maupun anak”.
Dikatakan kepada mereka: “Apa yang kalian inginkan.”

Mereka berkata: “kami haus wahai Rabb kami, berikan kami minum.”

Kemudian diisyaratkan kepada mereka agar mereka turun (untuk mengambil minuman) ternyata mereka digiring menuju anNaar, yang penampakannya seperti fatamorgana, yang justru meluluhlantakkan (menghancurkan) mereka hingga mereka berjatuhan ke anNaar.

Hingga tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala apakah ia orang baik atau fajir, datanglah Rabb semesta alam Subhaanahu Wa Taala terlihat oleh mereka dalam bentuk yang paling rendah.

Allah berfirman: “Apa yang kalian tunggu. Setiap umat telah mengikuti apa yang mereka sembah.”

Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, kami telah memisahkan diri dari manusia di dunia (untuk bisa menjalankan perintahMu, padahal kami sangat butuh kepada mereka, tapi kami tidak bergabung (berteman dekat dengan mereka)”.

Allah (yang terlihat dalam bentuk seperti itu) berkata: “Akulah Rabb kalian.”

Mereka berkata: “Kami berlindung kepada Allah darimu, kami tidak mensekutukan Allah dengan suatu apapun. Mereka mengucapkan hal itu dua kali atau tiga kali. Hingga sebagian mereka hampir saja akan berbalik”.

Allah berfirman: “Apakah antara dia dengan kalian ada tanda-tanda yang dengannya kalian mengenalNya?”

Mereka menjawab: “Ya“.

Kemudian disingkaplah Betis, maka tidaklah tersisa orang yang dulunya sujud dengan ikhlas karena Allah kecuali Allah izinkan ia bisa bersujud saat itu. Dan tidaklah tersisa setiap orang yang dulu di dunia sujud karena takut (kehilangan manfaat duniawi) atau riya’ (ingin dipuji) kecuali Allah jadikan punggungnya bagaikan satu bagian utuh (yang tidak bisa ditekuk), setiap kali ia akan sujud, ia kembali terdongak pada tengkuknya. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka. Allah telah berubah bentuk tidak seperti pertama yang mereka saksikan sebelumnya.

Allah berfirman: “Aku adalah Rabb kalian”.

Mereka berkata: “Engkau adalah Rabb kami.”

Kemudian dibentangkan jembatan di atas Jahannam. Dihalalkan pemberian syafaat.

Para Nabi mengatakan: “Ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.”

Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, (seperti) apa jembatan itu?”

Nabi menyatakan: “tempat yang licin membuat mudah tergelincir. Pada jembatan itu terdapat penyambar-penyambar dan pengait-pengait berduri.” – di Najd terdapat pohon berduri yang disebut as-Sa’daan (sebagai permisalan yang mudah dipahami saat itu, pent) -.
Kemudian orang-orang beriman melewati jembatan itu dengan cepat, ada yang bagaikan kerdipan mata, ada yang seperti al-Buraaq, ada yang seperti angin, ada yang seperti burung, ada yang seperti kuda pacu yang cepat.
Maka (jadilah keadaan orang saat itu ada 3 bagian),
💠(pertama) ada yang selamat utuh tubuhnya,
💠(kedua) ada yang terkoyak tapi kemudian dilepaskan (hingga bisa melewati jembatan), dan ada yang terpelanting jatuh ke dalam Jahannam. Hingga orang-orang beriman selamat dari anNaar.

Demi (Allah) yang jiwaku berada di TanganNya, tidak ada seorangpun dari kalian yang lebih dahsyat permohonan untuk menyelamatkan orang beriman lain pada hari kiamat dibandingkan permohonannya kepada Allah agar saudaranya yang beriman yang berada di anNaar bisa diangkat (diselamatkan).

Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, mereka dulu berpuasa bersama kami, sholat bersama kami, dan berhaji bersama kami.”

Kemudian dikatakan kepada mereka: “Keluarkanlah orang yang kalian kenal. Diharamkan api membakar (bekas sujud) mereka”.

Kemudian mereka mengeluarkan sejumlah banyak orang dari anNaar. Api ada yang membakar separuh betisnya hingga lututnya.

Kemudian orang-orang beriman itu berkata: “Wahai Rabb kami, tidak ada lagi orang-orang yang Engkau perintahkan (untuk dikeluarkan)”.

Kemudian Allah berfirman: “Kembalilah kalian, siapa saja yang di hatinya ada kebaikan (meski) sebesar dinar, keluarkanlah darinya. Kemudian orang-orang beriman itu mengeluarkan sejumlah besar orang darinya”.

Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan seorangpun yang Engkau perintahkan“.

Kemudian Allah berfirman: “Kembalilah kalian, siapa saja yang di hatinya ada kebaikan (meski) sebesar separuh dinar, keluarkanlah darinya”.
Kemudian orang-orang beriman itu mengeluarkan sejumlah besar orang darinya.

Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan seorangpun yang Engkau perintahkan”.

Kemudian Allah berfirman: “Kembalilah kalian, siapa saja yang di hatinya ada kebaikan (meski) sebesar semut, keluarkanlah darinya”.

Kemudian orang-orang beriman itu mengeluarkan sejumlah besar orang darinya.

Kemudian orang-orang beriman itu mengeluarkan sejumlah besar orang darinya.

Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan seorangpun yang di hatinya ada kebaikan”.

Abu Said –semoga Allah meridhainya- berkata: “Jika kalian tidak percaya dengan penyampaian hadits dariku ini maka bacalah firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

🍃 Sesungguhnya Allah tidaklah mendzhalimi (siapapun) meski seberat semut. Jika terdapat kebaikan, Allah akan melipatgandakannya dan Allah akan berikan di sisiNya pahala yang agung (Surga). (Q.S anNisaa’ ayat 40).

📖 Kemudian Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Para Malaikat telah memberi syafaat, para Nabi telah memberi syafaat, kaum beriman telah memberi syafaat, tidaklah tersisa kecuali (Allah) Yang Paling Penyayang.”

Kemudian Allah mengambil satu genggaman di anNaar, darinya dikeluarkan suatu kaum yang belum pernah berbuat kebaikan sama sekali. Mereka telah menjadi arang. Kemudian mereka dilemparkan ke sungai di permulaan Surga yang disebut dengan Sungai Kehidupan. Kemudian mereka keluar seperti keluarnya biji di tepi aliran air. Tidakkah kalian melihat ia menjadi seperti batu atau pohon yang jika diterpa panas matahari berwarna kuning atau hijau. Jika berada di tempat teduh ia menjadi putih.

Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan dulu anda menggembalakan (kambing) di pedalaman”.

Nabi (melanjutkan ucapannya): “Kemudian mereka keluar bagaikan permata, pada leher mereka terdapat tanda yang diketahui oleh penduduk Surga bahwa mereka ini adalah orang-orang yang dibebaskan oleh Allah (dari anNaar) yang Allah masukkan ke dalam Surga tanpa amal (kebaikan) yang pernah mereka perbuat”.

Kemudian Allah berfirman kepada mereka: “Masuklah kalian ke dalam Surga. Apa yang kalian lihat, itu untuk kalian”.

Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada kami (pemberian) yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun (yang lain) di seluruh alam semesta”.

Allah berfirman: “kalian akan mendapatkan dariKu yang lebih utama dari ini”.

Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, kenikmatan apa lagi yang lebih utama dari ini?”

Allah berfirman: “KeridhaanKu dan Aku tidak akan murka kepada kalian setelah ini selama-lamanya”.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📚 Dikutip dari Buku “Terjemah Shahih MUSLIM (Abul-Husain Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi Rahimahullah)”. Jilid 1

☀️ Penerbit : Cahaya Sunnah- Bandung

▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah

=====================

Advertisements

One thought on “[Kitabul Iman] Pengenalan tentang Bagaimana Melihat Allah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s