BIOGRAFI ABU DZAR AL GHIFARI

– Tugas Mulazamah: Laily Khoirunnisa’ –

BIOGRAFI ABU DZAR AL GHIFARI

“Bumi tidak membawa dan langit tidak memayungi seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar.”
(Muhammad Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam)

Beliau adalah mualaf yang kemudian dimuliakan oleh Allah dengan Islam lalu menjadi salah seorang sahabat mulia Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam. Namanya adalah Jundub bin Junadah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wan Nihayah. Ia berasal dari suku al-Ghifar, dari keturunan bani Kinanah. (Buletin An Nur, 14 Februari 12)

Di lembah Waddan, lembah yang menghubungkan Makkah dengan dunia luar, di sanalah kabilah Ghifar tinggal. Kabilah Ghifar hidup dari pemberian ala kadarnya, belas kasihan dari kafilah-kafilah dagang Quraisy yang berangkat pulang pergi dari Makkah ke Syam. Dan terkadang membegal kafilah-kafilah tersebut jika mereka tidak mau memberi apa yang mereka inginkan.

Abu Dzar mempunyai kelebihan dalam bentuk keteguhan hati, kematangan akal dan pemikiran yang jauh ke depan. Dada Abu Dzar merasa sangat sempit terhadap berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya selain Allah. Dia tidak menerima apa yang dia lihat pada bangsa Arab, akidah yang rusak dan agama yang buruk.

Abu Dzar berharap akan hadirnya seorang nabi baru yang mengisi akal manusia dan hati mereka dengan hidayah dan membebaskan mereka dari kegelapan menuju cahaya.

Akhirnya Abu Dzar yang sedang berada di daerah pedalamannya mendengar berita-berita tentang diutusnya seorang nabi baru di Makkah, maka dia berkata kepada Anis saudaranya, “Pergilah, tidak ada bapak bagimu, ke Makkah, carilah berita tentang seorang laki-laki yang mengaku dirinya sebagai nabi dan bahwa dia menerima wahyu dari langit, dengarkan ucapannya dan sampaikan kepadaku.”

Anis berangkat ke Makkah, dia bertemu dengan Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, mendengar darinya kemudian pulang ke kampung halamannya, Abu Dzar menyambutnya dengan sepenuh hati, Abu Dzar pun bertanya dengan penuh semangat tentang berita nabi yang baru tersebut.

Anis berkata, “Aku melihat seorang laki-laki, demi Allah, yang mengajak kepada akhlak-akhlak yang mulia dan mengucapkan kata-kata yang indah tetapi bukan syair.”

Abu Dzar bertanya, “Lalu apa kata orang-orang tentangnya?”

Anis menjawab, “Mereka mengatakan bahwa dia tukang sihir, dukun dan penyair.”

Abu Dzar berkata, “Demi Allah, kamu tidak bisa menghilangkan dahagaku, kamu tidak bisa memenuhi kebutuhan batinku. Apakah kamu sanggup untuk mencukupi kebutuhan keluargaku selama aku berangkat untuk menemuinya dan melihat pengakuannya sebagai seorang nabi?”

Anis menjawab, “Baiklah, tetapi berhati-hatilah dari orang-orang Makkah.”

Abu Dzar menyiapkan bekalnya, dia membawa kantong air minumnya yang berukuran kecil, dia menuju Makkah ingin berjumpa dengan Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam dan mengetahui lebih dalam tentang pribadi dan risalahnya.

Abu Dzar tiba di Makkah dengan penuh rasa was-was dan kekhawatiran karena dia takut kepada penduduknya, Abu Dzar telah mendengar kemarahan orang-orang Quraisy demi membela tuhan-tuhan mereka dan perlakuan buruk mereka terhadap siapa pun yang berminat untuk mengikuti Muhammad.

Oleh karena itu Abu Dzar tidak bertanya kepada siapa pun tentang Muhammad, karena dia tidak tahu apakah orang yang ditanya kawan atau lawan?

Malam pun tiba, Abu Dzar beristirahat di masjid, Ali bin Abu Thalib melewatinya, Ali mengetahui bahwa dia adalah orang asing. Ali bertanya, “Kemarilah bersamaku wahai orang asing.” Abu Dzar mengikutinya dan malam itu dia bermalam bersama Ali. Di pagi hari Abu Dzar membawa kantong airnya dan kantong perbekalannya lalu kembali ke masjid, keduanya sama-sama diam, salah seorang dari mereka tidak bertanya apa pun kepada yang lain.

Kemudian Abu Dzar menghabiskan hari keduanya tanpa mengetahui apa pun dari berita Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam. Sore pun tiba, dia kembali mengambil tempat istirahat di masjid, Ali bin Abu Thalib kembali melewatinya, maka Ali berkata kepadanya, “Mengapa laki-laki ini belum juga menemukan rumah yang ia cari?”

Ali pun membawa dia ke rumahnya dan malam itu Abu Dzar menginap di rumahnya, salah seorang dari keduanya tidak bertanya kepada kawannya. Di malam ketiga Ali bertanya kepada kawannya ini, “Mengapa engkau tidak menceritakan kepadaku, apa yang membuatmu datang ke Makkah?”

Abu Dzar menjawab, “Jika kamu mau berjanji kepadaku menunjukkan kepada apa yang aku cari maka aku akan berbicara.” Maka Ali pun memberinya janji atas apa yang dia harapkan.

Abu Dzar berkata, “Aku datang ke Makkah dari tempat yang jauh karena ingin bertemu dengan nabi baru dan mendengar sebagian dari ucapannya.”

Wajah Ali pun berbinar, dia berkata, “Demi Allah, beliau adalah utusan Allah yang sebenarnya, dia adalah… dia adalah… Besok pagi ikutilah aku kemana aku berjalan, jika aku melihat sesuatu yang aku khawatirkan atasmu maka aku akan berdiri seolah-olah aku menumpahkan air, jika aku berjalan maka ikutilah aku sehingga kamu masuk ke tempat aku masuk.”

Malam itu Abu Dzar tidak bisa memejamkan matanya karena memendam kerinduan ingin segera bertemu dengan Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, dia sangat ingin segera mendengar sebagian dari apa yang diwahyukan kepada beliau.

Pagi tiba, Ali berjalan membawa tamunya ke rumah Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, Abu Dzar berjalan di belakangnya membuntutinya tanpa menoleh kemanapun sehingga keduanya masuk kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam. Abu Dzar berkata, “Assalamu’alayka yaa Rasulullah.”

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam menjawab, Wa’alaika salamullah wa rahmatuhu wa barakatuhu.”

Abu Dzar adalah orang pertama yang mengucapkankan salam Islam kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, kemudian setelah itu salam tersebut menyebar dan digunakan di antara kaum muslimin.

Abu Dzar Termasuk Golongan Orang yang Pertama Masuk Islam

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam duduk di depan Abu Dzar mengajaknya untuk masuk Islam, beliau membacakan al Quran kepadanya, maka tidak perlu waktu lama bagi Abu Dzar untuk mengumumkan kalimatul haq dan masuk ke dalam agama baru sebelum ia meninggalkan tempatnya, Abu Dzar adalah orang keempat atau kelima yang masuk Islam.

Abu Dzar menceritakan sisa kisah perjalanannya dalam Islam kepada kita, katanya:

Setelah itu aku tinggal bersama Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam di Makkah, beliau mengajarkan Islam kepadaku dan membacakan sebagian dari al Quran. Beliau bersabda kepadaku, “Jangan katakan kepada siapa pun di Makkah bahwa kamu telah masuk Islam, karena akhu khawatir mereka akan membunuhmu.”

Aku menjawab, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meninggalkan Makkah sebelum aku datang ke masjid dan aku mengumumkan dakwah kebenaran ini di depan orang-orang Quraisy.” Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam hanya diam dan tidak melarangnya.

Maka aku datang ke masjid, saat itu orang-orang Quraisy sedang berbincang satu sama lain, aku berdiri di tengah-tengah mereka, aku berteriak dengan suara lantang, “Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya aku telah bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq untuk disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

 Begitu kata-kataku menyentuh pendengaran mereka, mereka menjadi tercengang dan merasa keheranan. Mereka bangkit dari tempat duduk mereka seraya berkata, “Tangkap orang shabi‘ (orang yang meninggalkan agamanya) itu.” Maka mereka menuju kepadaku dan memukuliku sampai aku hampir mati, namun al-Abbas bin Abdul Muthalib paman Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam menolongku, dia merangkulku untuk melindungiku dari pukulan mereka, kemudian dia menghadap kepada mereka dan berkata, “Celaka kalian! Kalian ingin membunuh seorang laki-laki dari Ghifar, padahal daerah mereka adalah jalan bagi kafilah dagang kalian.” Lantas mereka meninggalkanku.

Aku tersadar, aku datang kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, manakala beliau melihat apa yang terjadi pada diriku, beliau bersabda, “Bukankah aku telah melarangmu untuk tidak mengumumkan keislamanmu?”

Aku menjawab, “Sebuah keinginan dalam jiwaku yang telah aku tunaikan.”

Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pulanglah kepada kaummu, sampaikan apa yang engkau lihat dan apa yang engkau dengar kepada mereka, ajaklah mereka kepada Allah, semoga Allah memberi manfaat kepada mereka melalui dirimu dan memberimu pahala karena mereka. Jika kamu mendengar bahwa aku sudah meraih kemenangan maka datanglah kepadaku.” (Sumber: ‘Mereka adalah Para Shahabat’, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, At-Tibyan)

Jasa Abu Dzar Al Ghifari

Setelah ia memeluk Islam nampaklah cermin kebaikan pribadinya, sebagai seorang muslim. Ia dikenal tidak pernah meninggalkan jihad bersama Rasulullah semenjak datang di kota Madinah, kecuali atas perintah Rasulullah sendiri. Dikisahkan oleh para ahli sejarah bahwa ia tidak mengikuti dua peperangan, yakni Dzaturriqa’ dan Bani Mushthaliq, karena ia menjadi Amir (pemimpin) di kota Madinah atas perintah Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam. (Shiratun Nabawiyah, Ibnu Hisyam, III: 285) 

Abu Dzar menunaikan amanat Rasulullah untuk mendakwahi kaumnya hingga masuk islam sebagian besar dari bani Ghifar dan bani Aslam. Abu Dzar berkata,

Aku pun pulang, ketika aku tiba di kampung halamanku, Anis saudaraku menyambutku, dia berkata, “Apa yang kamu lakukan?”

Aku menjawab, “Aku telah masuk Islam dan aku telah membenarkannya.. 

Tidak lama kemudian Anis pun masuk Islam, dia berkata, “Aku tidak mempunyai kebencian kepada agamamu, aku juga masuk Islam dan membenarkannya.”

Kemudian kami menemui Ibu kami, kami mengajaknya kepada Islam, dia berkata, “Aku tidak membenci agama kalian berdua.” Lantas ibu kami juga masuk Islam.

Mulai hari itu sebuah keluarga muslim bergerak untuk memulai dakwah kepada Allah di kabilah Ghifar, keluarga tersebut tidak pernah lelah dan tidak pernah jenuh, sehingga tidak sedikit orang-orang Ghifar yang masuk Islam dan shalat pun didirikan di tengah-tengah mereka.

Sebagian orang dari mereka berkata, “Kita tetap memegang agama kita sehingga Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, pada saat itu kita akan masuk Islam.” Maka ketika Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, mereka pun masuk Islam dan Nabi bersabda tentang mereka, “Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka. Aslam, semoga Allah menyelamatkan mereka.”

Abu Dzar tinggal di kampung halamannya sampai perang Badr, Uhud, dan Khandaq berlalu, kemudian dia datang ke Madinah dan memutuskan untuk menyertai Rasulullah dan meminta izin untuk berkhidmat kepada beliau. Beliau pun mengizinkannya dan dia pun meraih nikmat besar sebagai sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam dan kebahagiaan agung bisa berkhidmat kepada beliau.

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam senantiasa memuliakan dan menghormati Abu Dzar, setiap kali beliau bertemu dengan Abu Dzar beliau menjabat tangannya dan beliau tersenyum dan menunjukkan wajah yang berseri-seri. (Sumber: ‘Mereka adalah Para Shahabat’, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, At-Tibyan)

Keteladanan Abu Dzar

Kebaikan yang merupakan cermin pada pribadi Abu Dzar adalah tutur katanya yang jujur. Abu Dzar berkata, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku, “Tidak pernah ada di bawah kolong langit dan di atas bumi ini orang yang lebih jujur dan lebih menepati janji daripada Abu Dzar, mirip dengan Isa bin Maryam”. Mendengar pujian ini, Umar bin al-Khaththab berkata (seperti orang yang iri), ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenalnya seperti itu? Beliau menjawab, “Benar, kenalilah dia seperti itu” (HR. at-Tirmidzi, no.3802)


Abu Dzar senang memberi nasihat yang baik. Apa nasihat-nasihat yang pernah beliau tuturkan? Berikut ini kami nukilkan untuk Anda beberapa untaian nasihat yang sangat berharga yang keluar dari seorang yang jujur kata-katanya ini, yang termaktub di dalam kitab-kitab para ulama, seperti kitab
 Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim al-Ashbahani, kitab al-Mushannaf fii al-Ahaadiitsi wal Aatsaar karya Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah al-Kufii, kitab az-Zuhdu karya Imam Ahmad bin Hanbal dan kitab Fathul Baari Syarah Shahih al-Bukhari karya Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadl al-‘Asqalani asy-Syafi’i. 

Abu Dzar pernah berdiri di sisi Masjid dan berkata, “Wahai manusia, saya lelaki bernama Jundub dari al-Ghifar, marilah mendekat kepada saudara yang suka memberi nasihat lagi pengasih ini.” Maka orang-orang pun mengerumuninya. Ia bertanya; “Bagaimana pendapat kalian kalau salah seorang di antara kalian ada yang hendak bepergian, apakah ia akan mempersiapkan perbekalan yang baik baginya dan membawa keselamatannya?” Mereka menjawab, “Tentu saja.” Ia berkata lagi; “Perjalanan menuju hari Kiamat adalah perjalanan kalian yang terjauh. Ambillah perbekalan yang berguna untuk perjalanan kalian.” Mereka bertanya, “Apa perbekalan yang berguna bagi kami? Ia menjawab, “Berhajilah untuk menghadapi perkara yang amat besar (Kiamat), berpuasalah di hari yang sangat panas demi menghadapi hari Kebangkitan, shalatlah dua rakaat di kegelapan malam, untuk menghadapi kejamnya alam kubur, mengucapkan kata-kata yang baik, meninggalkan kata-kata yang jelek untuk menyongsong hari yang besar, bersedekahlah dengan harta kalian, semoga dengan itu kita bisa selamat di saat yang sulit nanti. Jadikanlah dunia ini dalam dua majelis, Satu majelis untuk akhirat dan majelis lain untuk mencari rizki yang halal. Sedangkan majelis selain yang dua itu adalah berbahaya bagimu dan tidak berguna bagimu, maka janganlah engkau menginginkannya. Jadikanlah harta itu dalam dua hal, Satu dirham untuk dibelanjakan oleh anak istrimu dengan cara yang halal, dan satu dirham lain untuk akhiratmu. Sementara selain itu berbahaya dan tidak berguna bagimu, maka janganlah kalian menginginkannya. Lalu, Abu Dzar berteriak keras, “Wahai manusia, sungguh kalian dibinasakan oleh ketamakan yang tidak pernah kalian puas selama-lamanya.” (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashbahani, I:165) 


Abu Dzar berkata, “Seorang teman yang saleh itu lebih baik daripada kesendirian. Namun kesendirian lebih baik daripada ditemani oleh teman yang jahat. Orang yang menyampaikan kebaikan itu lebih baik daripada orang yang diam. Namun orang yang diam lebih baik daripada orang yang menyampaikan kejahatan. Menjaga amanah itu lebih baik daripada mendiamkannya. Namun mendiamkan amanah itu lebih baik daripada berburuk sangka”
(al-Mushannaf fi al-Ahaaditsi wal Atsaar, Ibnu Abi Syaibah, XV:123)


Abu Dzar berkata, “Maukah engkau kuberitahukan tentang hari yang aku amat membutuhkan, yakni hari ketika aku dikuburkan, itulah hari aku sangat membutuhkan”

(al-Mushannaf fi al-Ahaaditsi wal Atsaar, Ibnu Abi Syaibah, VII:164) 

Abu Dzar berkata, “Pemilik dua dirham lebih besar hisabnya di hari Kiamat daripada pemilik satu dirham” (az-Zuhd, Imam Ahmad, hal. 214 )

Abu Dzar berkata kepada istrinya, “Wahai Ummu Dzar, sesungguhnya di hadapan kita ada aral melintang, orang yang membawa beban ringan lebih baik daripada yang membawa beban berat”(az-Zuhdu, Imam Ahmad, hal. 215)

 
Abu Dzar berkata, “Beri kabar orang-orang yang menumpuk harta itu bahwa mereka akan dibakar dengan batu panas di Neraka Jahannam, lalu batu itu akan diletakkan di bagian puting susu salah seorang di antara mereka sehingga keluar dari ujung tulang pundaknya, lalu diletakkan di tulang pundaknya hingga keluar bergoyang-goyang dari puting susunya.”
(Fathul Bari, Ibnu Hajar, III : 219) 


Abu Dzar berkata, “Tidakkah engkau melihat orang banyak? Betapa banyak mereka, namun tidak ada sedikitpun kebaikan, kecuali orang yang bertakwa, atau orang yang bertaubat”
(az-Zuhd, Imam Ahmad, hal. 214)

 
Abu Dzar berkata, “Mereka semua dilahirkan untuk mati, dimakmurkan untuk menghadapi kehancuran, bersikap tamak memperebutkan yang fana dan meninggalkan yang kekal selamanya. Sungguh amat bagus dua hal yang dibenci manusia,‘Kematian dan kemiskinan.’”
(Hilyatul Auliya’, I:163 )

[Sumber: Abu Dzar al-Ghifari & Wasiat Rasulullah, Darul Haq, Jakarta dengan beberapa tambahan (Buletin An-Nur)] 

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Pada Abu Dzar Al-Ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.


Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agarmemperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

Dishahîhkan oleh Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 2166).
(Artikel:  http://almanhaj.or.id/ pada bab hadits)

Abu Dzar Sepeninggal Rasulullah dan Akhir Hayat Beliau

Manakala Rasulullah berpulang kehadirat Allah, Abu Dzar tidak kuasa untuk tetap tinggal di Madinah al Munawwarah setelah ia ditinggal oleh orang yang dimuliakannya sementara majelis-majelis beliau sepi dari petuah0petuahnya, Abu Dzar pindah ke Syam dan dia tinggal di sana selama khilafah ash-Shidiq dan al-Faruq.

Di masa khilafah Utsman bin Affan, Abu Dzar tinggal di Damaskus, dia melihat kaum muslimin mulai tergiur oleh dunia dan tenggelam di dalam kenikmatannya, hal ini membuatnya tercengang dan mendorongnya untuk menjauhinya. Di saat itu Utsman bin Affan memintanya untuk pulang ke Madinah, Abu Dzar datang, namun ridak lama berselang Abu Dzar merasa sempit dengan kecenderungan masyarakat kepada duniadan masyarakat pun merasa sempit dengan sikap kerasnya dan kritik pedasnya terhadap mereka, maka Utsman pun memintanya untuk pindah ke Rabadzah, sebuah perkampungan kecil di tepi Madinah, Abu Dzar pergi ke sana dan tinggal di suatu tempat yang jauh dari hunian manusia dengan sikapnya yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan mereka dalam perkara harta dunia, berpegang kepada apa yang dipegang Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam dan kedua sahabatnya, yaitu mementingkan akhirat yang langgeng di atas dunia yang fana.

Suatu ketika seorang laki-laki masuk ke dalam rumah Abu Dzar, dia melihat sudut-sudutnya, dia tidak menemukan perabot apapun. Dia berkata, “Wahai Abu Dzar, dimana perabotmu?”

Abu Dzar menjawab, “Kami mempunyai perabot di sana -maksudnya di akhirat- kami mengirimkan perabot terbaik kami padaNya”

Laki-laki itu mengerti maksud Abu Dzar, dia berkata, “Akan tetapi kamu tetap memerlukan perabot selama kamu di dunia ini.”

Abu Dzar menjawab, “Tetapi pemilikNya tidak membiarkan kita di sini.”

Gubernur Syam mengirimkan 300 dinar untuknya dan berkata kepadanya, “Gunakan ia untuk memenuhi kebutuhanmu”

Maka Abu Dzar mengembalikannya dan berkata, “Apakah gubernur tidak menemukan orang yang lebih rendah dariku di sisi Allah?”

Di tahun 32 Hijriah, Allah Ta’ala memanggil seorang ahli ibadah sekaligus ahli zuhud di mana Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda tentangnya, “Bumi tidak membawa dan langit tidak memayungi seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar.” (Sumber: ‘Mereka adalah Para Shahabat’, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, At-Tibyan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s