Motivasi Untuk Ibu Rumah Tangga Sholihah

“Tulisan ini benar2 menginspirasi saya. Dan saya yakin banyak ibu2 rumah tangga merasakan hal yang sama. Ketika ego bahkan cita-cita harus dikorbankan demi keluarga. Ahh.. Menjalaninya tak mudah.. Perlu perjuangan untuk senantiasa ikhlas tanpa keluhan ketika kita sering dihadapkan pada jurang kejenuhan. Mari kita merenung sejenak kemudian me-refresh niat amalan kita. Bismillah…”

—— oo —–

Seorang ummahat punya resep jitu menghalau jenuh: “ Me-time saya ya tilawah. Kadang sambil lihat anak-anak mainan, kadang sendirian di kamar. Atau, tahajud. Curhat semuanya sama Allah,” ujar seorang ummahat yang anaknya masih kecil-kecil.

Seperti ibu lain, beliau juga pernah stres. Jenuh dengan rutinitas yang itu-itu saja: masak-mandiin anak-nyuapi-nyusui-nyeboki-nyuci-beres-beres dan setumpuk pekerjaan rumah tangga yang tak habis-habis.

“Makanya saya curi-curi waktu buat dzikir. Sambil motong sayur, cuci piring, jalan ke pasar, nyapu, ngepel, bikin minum, antri di bank, nunggu mau nyebrang jalan, beresin mainan anak-anak, nyuapi anak, nyusui. Sering kalau ngeloni anak, saya belum ngantuk, tapi lampu sudah mati. Ya saya dzikir aja sampai ketiduran. Pokoknya berusaha memperbanyak dzikir dan istighfar, selama bukan di tempat yang dilarang. Awalnya sih, karena pingin menyibukkan pikiran. Supaya nggak mikir macem-macem. Juga supaya nggak gampang spaneng sama anak-anak. Tapi lama-lama, malah jadi kebiasaan.
Berasa ada yang kurang kalau lagi ngapa-ngapain tapi nggak nyambi dzikir atau istighfar. Janji Allah sungguh benar: Dengan mengingat-Nya, hati akan menjadi tenang…”

Penyemangat Belajar

Saya bukan ibu teladan ataupun guru yang sempurna. Masih banyak lubang di sana-sini, masih bertumpuk kesalahan yang perlu diperbaiki, masih terus belajar beradaptasi karena kini tak lagi punya penghasilan sendiri. Dan karena baru belajar agama setelah dewasa, saya sangat fakir ilmu.

Ada kalanya hari-hari tanpa cuaca datang tanpa diundang. Saat saya merasa begitu dependen, nggak berarti, nggak ngapa-ngapain, nggak eksis, nggak punya aktualisasi diri, nggak punya sumbangsih.

Ketika suara-suara sombong berbisik di telinga: ‘You’re better than this, Retnadi” sementara tangan saya sibuk menyuapi, menceboki, dan melakukan pekerjaan remeh-temeh lainnya.
Salah satu penyejuk hati ini adalah: puisi Mbak Kiki Barkiah.

Untukmu Para Ibu yang Di Rumah
Oleh: Kiki Barkiah

Untukmu para ibu yang di rumah
Mengapa engkau masih galau dan gundah
Atas pilihan yang dianjurkan oleh syariah
Agar engkau tetap berada di rumah
Mengapa pula engkau harus iri dan cemburu
Atas selisih puluhan lembar ratusan ribu
Sedang kau memiliki begitu banyak waktu
Merawat mereka langsung dengan tanganmu
Serta menurunkan berjuta ilmu

Mengapa perasaanmu masih terasa berat
Atas perintah Allah untuk selalu taat
Pada suamimu yang meminta dengan sangat
Agar engkau dapat fokus merawat
Padahal dengannya surga menjadi begitu dekat

Andai kau tahu bahwa peluang surgamu tidak jauh
Cukup bekerja ikhlas dan tanpa banyak mengeluh
Mendidik generasi yang berjiwa tangguh
Memberi nutrisi pada jiwa dan tubuh
Insya Allah kepuasan hatimu diisi Allah secara penuh

Memang betul kau berharap sebuah eksistensi
Merasa melakukan pekerjaan yang tak bergengsi
Seputar masak, sapu pel dan menyuci
Aaaah…. Itu karena kau tak menyadari
Ayunan sapumu berpahala seri
Dengan suami yang mencari rezeki
Yang berkemeja rapi dan berdasi

Aaaah….. Itu karena kau belum mengenal
Bahwa pilihanmu dibalas Allah dalam banyak hal
Pada sisi-sisi lain yang tak mampu kau hafal
Kecuali kelak pekerjaan ini engkau tinggal
Aku mengerti kadang engkau resah
Dengan sekian lembar ijazah
Yang kau raih dengan susah payah

Aaaah…… Andai kau mengerti
Ilmumu begitu sangat berarti
Dalam mendidik generasi
Yang berkualitas dan bervisi

Aku tahu kadang kau rindu seperti mereka
Yang setiap hari pergi berkendara
Keluar rumah untuk bekerja
Dan mengukir sejuta karya

Aaaah…… itu karena kau tidak tahu
Sebagian dari mereka merasa rindu
Mendapat kemewahan seperti dirimu
Yang selalu siap membuka pintu
Seperti engkau menyambut suamimu

Alhamdulillah wa syukurillah
Ketika suamimu hanya memintamu dirumah
Berarti ia siap bekerja keras mencari nafkah
Menyokong semua tanpa berkeluh kesah

Berada di rumah tak berarti tanpa arti
Semoga Allah memberikanmu jalan pengganti
Dalam meraih impian yang kau cari
Dari sudut ternyaman di rumahmu sendiri

Maaf… Lukisan hati ini tak bermaksud membandingkan
Terhadap mereka yang berjasa mengambil peran
Keluar rumah dengan berjuta alasan perjuangan

Tulisan ini dibuat untuk menghibur hati
Para ibu yang merasa kehilangan eksistensi
Bahkan terkadang berkecil hati
Merasa diri begitu tak berarti

Untukmu para ibu yang di rumah
Mari ikhlaskan hatimu dan berpasrah
Agar peluang surga yang ada di rumah
Tak terhapus dengan keluh kesah

***

Still, ada kalanya saya bosan belajar dan mengajar. Ada kalanya saya gagal fokus tujuan mendidik anak, lagi dan lagi. Ada kalanya saya lagi-lagi lupa, peran saya sebagai ibu dan guru anak-anak.

Saat-saat saya menyadari, sungguh, betapa lemahnya iman saya. Betapa mudahnya hati saya terbolak-balik. Alhamdulillah, Allah mengirimkan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana lewat murid-murid saya yang masih balita dan batita ini.
Ketika si balita melihat selembar daun berlubang karena dimakan ulat dan dia mencetus “Mama, daunnya boyong-boyong! Kayak pasukan gajah yang diyempayi batu sama buyung-buyung ababi(l)!”.

Ketika langkah si batita terhenti kala melewati rumah tetangga yang tembok terasnya dipahat lukisan perempuan mandi, dan batita berujar “Mama, oyangnya mayu ya.” Ketika si balita mengingatkan Uti dan Mbahnya “Mbacam, minumnya sambi(l) duduk.”

Ketika si balita dengan sukarela menyerahkan boneka Barbie dan buku Mermaid yang dulu sangat disayanginya dan berujar “Mama, dibuang aja ini Ba(r)bie dan Me(r)maidnya. Mayu. Auya(t)nya keyihatan.”

Atau ketika kami jalan kaki dan menemukan beling di jalan. Si balita menunjuk-nunjuk dan berujar “Kayo kena oyang atau mio, kasihan. Kakinya bisa yuka.” Sehingga kami pun berjongkok di jalan, memunguti serpihan beling.

Atau ketika kami menemukan banyak siput dan keong terdampar di tepi selokan taman usai banjir surut. Dengan peluh bercucuran di tengah terik matahari, si balita memunguti belasan siput dan keong. Memastikan masih ada isinya, lalu melemparnya lagi ke selokan. “Kasian, nanti bisa mati.”

Atau ketika saya yang spaneng membisu dengan muka kenceng. “Mama, kayo mayah-mayah gitu ada setannya. Mama wudhu duyu, teyus be(r)doa. Audzubiyahiminassyaitooniyyojiim.” saran si balita. Di lain hari sarannya adalah: “Yosuyuyoh kan udah pesan ‘Jangan mayah, jangan mayah, jangan mayah’.”

Atau ketika si balita menjelaskan kepada sepupunya, kenapa film kartun yang mereka tonton di laptop suaranya di- mute . Sementara murottal lewat ponsel tidak berhenti diputar. “Kayena suaya te(r)baik adalah suaya A(l)-Qu(r)an…”

Atau ketika kami melewati sebuah rumah megah, dan si balita mencetus “Bajus ya yumahnya, Papa? Tapi masih bagusan yumah di su(r)ga. Batunya aja dayi emas.” Atau ketika si balita menegur saya ketika menjawab pertanyaan batita tentang motor siapakah ini. Dia bilang “Moto(r) Ayoh, Mama. Bukang punya Papa.”

Atau ketika suami berujar: “Kalo jualan lagi, nanti Mama sibuk lagi. Papa seneng sekarang Mama
ngajari anak-anak.”
Semua kebahagiaan sederhana inilah yang mengingatkan saya: Ini, Retnadi.
Untuk inilah kamu ada.

***
Teruntuk: Pak Catur Sukono, Raihana Zahra Ramadhani, Muhammad Fatih Rizki: kado-kado terindah dari Allah untuk saya. Kalian bikin saya semangat untuk jadi istri yang baik, ibu yang baik, muslimah
yang baik. Semoga kelak Allah mengumpulkan kita di surga ya, aamiin. Jazaakumullaahu khayran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s