INILAH SOSOK IBU KARTINI SESUNGGUHNYA

Apa yang jadi ‘ritual’ bangsa kita tiap April? Yak, tul, itulah dia : Hari Kartini. Tanggal 21 April adalah hari kelahiran Raden Ajeng Kartini yang sudah ditetapkan Pemerintah menjadi salah satu hari ‘besar’ Nasional. Menjelang tanggal tersebut, sekian acara digeber untuk memperingati pejuang emansipasi wanita ini.

Kartini dianggap sebagai pelopor perjuangan emansipasi. Bahkan belakangan namanya lekat juga dengan kata feminisme.

Apa yang terlanjur lekat dengan sosok Kartini sebenarnya hanyalah sebagian proses hidupnya yang gelisah. Akhir proses Kartini tak banyak terungkap. Pemikiran pada awal prosesnyalah yang terlanjur lantang disuarakan sehingga lekat pada namanya. Padahal, menjelang akhir hayatnya, Kartini menemukan Islam.

KARTINI DULU

Nggak bisa disalahkan kalo ada orang yang beranggapan Kartini memperjuangkan emansipasi, mendobrak adat, berkiblat ke Barat, dan mengkritisi Islam. Pada awalnya, Kartini emang demikian. Ini contoh surat-suratnya yang begitu :

“…Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-baik itu meniru perbuatan orang-orang yang lebih tinggi pula, dialah orang Eropa” [kepada Stella, 25 Mei 1899]

“Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih.” [kepada Ny Ovinksoer, 1900]

KARENA TEMAN DEKATNYA

Nggak heran kalo Kartini punya pemikiran demikian. Gimana lagi? Temen surat-menyurat Kartini kebanyakan adalah orang kafir yang punya tujuan tertentu. Simak nih siapa mereka :

J.H. Abendanon

Abendanon ditugaskan oleh Belanda sebagai Direktur Departemen Pendidikan Agama, dan Kerajinan. Abendanon banyak meminta nasihat dari Snouck Hurgronye. Menurut Hurgronye, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk mengatasi pengaruh Islam. Tidak mungkin membaratkan rakyat, kecuali jika ningratnya telah dibaratkan. Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus di ambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang Islamnya teguh, untuk kemudian dibaratkan. Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati Kartini.

Dr. Adriani

Ia seorang ahli bahasa serta pendeta yang bertugas menyebarkan kristen di Toraja, Sulawesi Selatan.

Stella (Estella Zeehandelaar)

Stella adalah wanita Yahudi, anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu.s

Nellie Van Kol (Ny. Van Kol)

Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan progresif. Dialah orang yang paling berperan dalam mendangkalkan aqidah Kartini. Pada awalnya, ia bermaksud untuk mengkristenkan Kartini, dengan kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari ketidakpedulian terhadap agama.

KENALAN SAMA KYAI SHOLEH DARAT

Selain faktor teman buruk, kaum muslim di sekeliling Kartini juga punya pemahaman yang salah terhadap Islam. Mereka mengajarkan Islam tanpa memahamkan apa yang diajarkan.

“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang yang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yang dibacanya.” [kepada Stella, 6 November 1899]

Waktu itu Belanda membolehkan pengajaran Al-Qur’an dengan syarat nggak diterjemahin. Tentu Belanda tahu, jika orang Jawa paham terjemah Al-Qur’an, mereka sudah angkat senjata melawan penjajah kafir itu.

Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita yang lain dari balik tabir. Kartini tertarik kepada materi yang sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh Kyai Saleh Darat. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya menemui Kyai Saleh Darat.

“Kyai perkenankan saya menanyakan sesuatu, bagaimanakah hukumnya apabila seseorang yang berilmu namun menyembunyikan ilmunya…?”

“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”

“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama (Al-Fatihah), dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Tergugah dengan kritik itu, Kyai Sholeh Darat kemudian menerjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa dalam sebuah buku berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu dihadiahkan kepada Kartini saat beliau menikah dengan R.M Joyodiningrat, Bupati Rembang.

Kyai Sholeh Darat keburu meninggal pada saat baru menerjemahkan satu jilid tersebut. Namun satu jilid itu sudah cukup membuka pikiran Kartini mengenai Islam.

Tahu, nggak? Sebenarnya ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang itu sebenarnya Kartini temukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257, yaitu firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “…minazh-zhulumaati ilan-nuur” yang artinya dari kegelapan-kegelapan (kekufuran) menuju cahaya (Islam).

Oleh Kartini, terjemah ayat tersebut diungkapkan dalam bahasa Belanda dengan Door Duisternis Tot Licht. Belakangan, Armjin Oane, sastrawan Nasrani, menerjemahkan kumpulan surat-surat Kartini. Oleh dia, ungkapan itu diterjemahkan menjadi menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

KARTINI KEMUDIAN

Kartini yang kemudian belajar Islam pun berubah. Pandangannya terhadap Islam menjadi positif. Agaknya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan hidayah Islam kepadanya.

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” [kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh pejuang feminisme dan emansipasi, namun untuk lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai ibu. Kartini menulis, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Tidak hanya itu, pandangannya terhadap Barat pun berubah, Kartini menulis, “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban.” [kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902].

Ia juga menyadari upaya kristenisasi secara terselubung yang dilakukan oleh teman-temannya. Kartini menulis, “Bagaimana pen-dapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi?…Bagi orang Islam, mele-paskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” [ kepada E. E. Abendanon, 31 Januari 1903].

”Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah.” [kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902].

Sudah takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kartini meninggal empat hari setelah melahirkan putranya. Ia meninggal dalam usia muda, 25 tahun. Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam.

Yang kebanyakan orang tahu, Kartini hanyalah sekadar pejuang emansipasi wanita. Banyak orang yang nggak tahu perjalanan Kartini menemukan Islam dan perubahan pola pikirnya.

Sumber : Majalah el-Fata Edisi 04 Volume 08

One thought on “INILAH SOSOK IBU KARTINI SESUNGGUHNYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s