Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

Pencari Ilmu Jalan Pintas

Dilema ini terus membayangiku beberapa tahun lalu. Jalan pencarian ilmu yang seharusnya mendekatkan ke syurga, dihadapkan pada jalan” pintas yang menjanjikan kemudahan dan hasil akhir yang indah, namun semu. Maklum, karena kuliah di jurusan IT, proses ujian pun menunjang sekali tindak kecurangan, bahkan dapat dilakukan via chat box.

Mulanya, aku tergoda juga. Sampai saat datang seseorang yang mengingatkanku, akan ayat Allah :

Az Zumar:60. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?

Lalu? Bukankah curang&menyontek sama dengan berbohong? Berbohong pada diri sendiri, guru, teman, bahkan orang tua.

Nyontek&curang=tidak jujur=dusta=dosa= muka hitam di hari kiamat => bisa” masuk Jahannam.. Naudzubillah!

Bermula dari Taubat

Sebenarnya, judul tulisan ini sudah lama terlintas di benak. Saat itu, aku memang mengalami masa-masa transisi alias hijrah (menjadi pribadi yang lebih baik). Maklum, aku baru bertekad untuk jujur+ikhlas dalam menuntut ilmu. Banyak rangkaian kalimat yang terbersit.. Tapi tak sempat tertulis karena kacaunya pikiran dan galaunya hati saat itu. Setiap kali ujian semester pun, ingin sekali aku menuangkan semua perasaan ini, namun urung. Hal ini karena semata-mata, mencoba jujur dalam mendapat nilai tidaklah mudah. Dengan tekad keras, aku tetap semangat menghapal dan memahami materi, sambil mengesampingkan kesedihan hati.

Ujian Taubatku

Entah mengapa, aku tidak menemukan seorang pun yang beri’tikad sama dari sekian banyak teman-teman di kelas. Saat kuingin diskusi atau bertanya kesulitan dari materi, aku bingung dan tak tahu harus kemana mengungkapkan semua itu. Semua serba sibuk… mereka sangat sibuk dengan kertas-kertas kecil dan hape-hape canggih mereka.

Kerap kali kami berdebat masalah kecurangan yang mereka selalu halalkan. Berbagai alasan pembenaran dan cacian pun cukup membuat kesal. Belum lagi, pandangan marah dan singgungan buruk yang muncul karena aku tak mau membantu mereka dalam kecurangan (seperti menyalurkan kertas contekan, dll). Entah kenapa, napasku jadi sesak dan hati terasa sempit sekali. Bismillah.. Ini cuma ujian dunia.. Setidaknya nanti aku dapat mempertanggungjawabkan semua ini di hadapan Allah karena kejujuran ini.

Curhat Seorang Akhwat

Dia sudah menjadi akhwat di usianya yang ke-17. Subhanallah, hidayah dan cobaan berat datang padanya pada usia semuda itu. Namun, bukankah semakin dalam iman yang dimiliki seseorang, maka cobaan yang dihadapinya semakin berat. Itulah yang banyak dihadapi oleh orang-orang yang berusaha untuk terus istiqomah.

Qadarallah, kami dipertemukan sejak awal untuk selalu sharing masalah pribadi dan ilmu agama, serta thalibul ilmi bersama. Itu yang membuatku sangat mencintainya karena Allah ta’ala. Jum’at lalu, ia minta masukan dan bantuan terhadap masalahnya sebagai pencari ilmu tingkat Sekolah Menengah. Kejadian ini membangunkan semangat diri untuk merajut kata yang akhirnya menjadi kalimat yang Anda baca saat ini.

Ia Di antara Pilihan menjadi Seorang Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

Tidak kaget diriku, saat dia bercerita tentang kecurangan sistem ujian yang terencana di sekolahnya. Sudah pernah kudengar hal yang sama dari pelakunya sendiri -yang adalah kakak seniornya yang sudah lulus-, dan ceritanya cukup mendetail.

Kecurangan yang juga salah satunya juga dipelopori oleh guru mereka sendiri itu membuatnya bimbang. Yang aku herankan, kok ada yang oknum yang rela mengirim jawaban soal ke hape setiap siswa. Heran.. Mengapa tidak langsung saja memanipulasi nilai tanpa ada ujian agar tidak repot.

Saat I’tikad baik akhwat itu muncul, dengan memilih berniat berbuat jujur… ternyata hasilnya tidak memuaskan seperti yang didapat para pencari jalan pintas. Les di guru mata pelajaran pun tidak memecahkan kesulitannya karena alasan” tertentu dan cenderung di saat terakhir les ada bocoran soal dan lain-lain.

Demi Kelulusanmu Nanti… Sedikit Saja Tidak Apa-Apa

Badai cobaan masih terus menerpanya, saat beberapa pihak yang menyayanginya menyarankan dia untuk sesekali melihat jawaban bocoran demi lulusnya dia kelak. Huphf.. Apakah itu benar jalan keluar?? Dia pun memutuskan untuk berusaha lebih dan lebih keras lagi masalah pelajaran, meskipun sistem penilaian dan ujian yang ada sedikit tidak fair.

Ya Allah, bantulah dia.. Dan mudahkan diri hamba untuk membantunya..

Mengapa ini terjadi? Padahal…

Untaian kalam ilahi dalam surat al Mujaadilah:11 cukup menjadi bukti tingginya kedudukan orang-orang yang berilmu di sisi Allah سبحانه و تعالى. Tetapi tak hanya itu… Di dunia fana ini, title ‘intelect‘ dalam ilmu apapun dihargai tinggi di hadapan manusia, baik secara materiil dengan semakin mahalnya gaji/upah, maupun non materiil, seperti meningkatnya prestige (wibawa, martabat) para penyandangnya.

Ukuran kualitas keintelekan (seperti gelar, penghargaan, sertifikat, nilai ujian) dunia pun dikejar. Hal ini diperparah dengan tekanan kebanyakan orang tua sekarang yang memimpikan anak-anak mereka menjadi bagian dari kaum intelektual. Memang, sah-sah saja keinginan mereka.. Namun, jika pada akhirnya tujuan mereka dan sang anak hanya sekedar materi dan prestige di dunia semata, anugerah berupa derajat yang tinggi di sisi Allah سبحانه و تعالى tak lagi berlaku.. Bahkan, bisa mendatangkan adzab karena lunturnya keikhlasan dan tenggelamnya diri ke dalam hawa nafsu.

Saat Pribadi Harus Memilih..

Mengajarkan ilmu dan memfasilitasi anak untuk mencari ilmu memang kewajiban orang tua. Di jaman sekarang ini, saking inginnya orang tua melihat anaknya berhasil dan sekolah tinggi, tak sedikit yang rela membanting tulang mengais rezeki, untuk memenuhi materi pendidikan anak. Fasilitas anak untuk sekolah tinggi pun dipenuhi, mulai dari biaya kos/hidup yang layak, kendaraan, komputer/laptop, buku, internet dsb. Orang tua seperti ini adalah anugerah. Namun, jika mereka juga mendukung anaknya mencari ‘jalan pintas’, di sinilah pribadi harus memilih :

Teguh sebagai pencari ilmu di jalan yang terjal dan mengambil resiko kesedihan orang tua akan bayangan kegagalan.. Karena menjalaninya tidaklah mudah..

Atau..

Ikut dalam rombongan pencari jalan pintas yang cukup mulus, dengan resiko kegagalan terlihat lebih sedikit namun Allah tidak ridha padanya.


Beda Mereka..

Batasan ruang lingkup : sekolah/kuliah

Parameter Pencari Ilmu Pencari Jalan Pintas
Proses masuk sekolah/kuliah Masuk dengan nilai murni 100% mikir sendiri dan memenuhi standart diterima Nilai antara diterima dan tidak. Diterima pun dengan ‘sedikit’ uang sogok atau karena ada link pihak internal.
Absensi
  • Tanda tangan 100% asli
  • Ikut dari awal hingga akhir
  • Sering nitip ttd ke temen
  • Hadir demi absen
  • Setelah absen suka ngacir
Waktu Kehadiran Datang tepat waktu, maksimal terlambat/tidak hadir karena udzur Datang telat tanpa dosa
Peralatan dan perlengkapan belajar Memenuhi standart untuk mengikat ilmu Minta/pinjam teman (dengan resiko tidak kembali/hilang/terbawa selamanya)
Catatan Ada dan cukup rapi Catatan tidak punya (maksimal fotokopi punya teman pas mau ujian)
Ketika pengajar menerangkan
  • Menyimak dan memahami
  • Aktif bertanya
  • Mendengarkan
  • Minimal tidak rame
  • Bosen
  • Ngelamun
  • Ngobrol dengan temen (langsung ngomong atau via kertas)
  • Chatting/ngenet pake hape mahal
  • Tidur
  • Dan aktivitas” lain selain memperhatikan pengajar..
Tugas 99% mikir sendiri, 1% diskusi/konsultasi/minta bantuan ke yang lebih ngerti
  • Sering lupa
  • Ingetnya pas deket deathline
  • Copy paste temen
Ujian Berbekal memori otak SEJUTA GIGABYTE, dengan spesifikasi :

  • Memori materi penjelasan pengajar
  • Memori catatan materi tulisan sendiri
  • Pemahaman
  • Pengalaman kerja tugas
  • PeDe!!
Berbekal kertas” kecil (ngopi temen) plus hape canggih dengan spesifikasi :

  • Kamera 2MP ke atas:untuk kejelasan file gambar contekan
  • Fasilitas menyimpan&membaca text file, ppt, atau doc : pembuka file contekan
  • Bluetooth : agar tinggal transfer file contekan dari temen
  • Pulsa : komunikasi selama ujian
Selesai Ujian
  • Check jawaban yang ragu-ragu
  • Diskusi jawaban dengan temen
  • Heboh karena salah/lupa/ga teliti
  • Tawakkal ‘alallah
  • Heboh kasus ketauan pengawas, dll
  • Ngomongin pengawas begini begitu
  • Evaluasi teknik curang
  • Hang out+seneng” sama temen”
Ujian akhir 100% usaha pemikiran sendiri Curang, hasil ‘jahit’ dengan modal duit
LULUS/TIDAK LULUS LULUS:

  • Dengan izin Allah
  • Karena kerja keras dan doa
  • Kemampuan terasah
  • Dan faktor penunjang lain

TIDAK LULUS :

  • Dengan izin Allah
  • Kurang maksimal
  • Terbelit masalah” seperti : fasilitas, referensi, dll
LULUS:

  • Dengan izin Allah
  • Beruntung ga ketauan curang
  • Fasilitas dan uang memadai
  • Dan faktor penunjang lain

TIDAK LULUS :

  • Dengan izin Allah
  • Ketauan curang
  • Sumber kecurangan yang salah, dll

Jika Anda memenuhi :

Kriteria PENCARI ILMU + IKHLAS = DERAJAT TINGGI di sisi Allah😉

Kriteria PENCARI JALAN PINTAS = MUKA HITAM di hari kiamat

Tetapi, jika Anda mempunyai beberapa kriteria PENCARI JALAN PINTAS dan tidak ingin menjadi seperi rumus di atas, maka ikuti prosedur taubat() berikut:

If taubat(PENCARI_JALAN_PINTAS) = TRUE THEN

setNiat = “Ikhlas lillah”Do

setAction = "tidak mengulangi lagi"

Loop Until MATI
ELSE

MUKA HITAM di hari kiamat

ENDIF

4 thoughts on “Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

  1. f4lcon says:

    I like this articel….

    *Sepertinya Penulis Banget nih….. ^_^

    n i like this too :

    ” If taubat(PENCARI_JALAN_PINTAS) = TRUE THEN

    setNiat = “Ikhlas lillah”

    Do

    setAction = “tidak mengulangi lagi”

    Loop Until MATI
    ELSE

    MUKA HITAM di hari kiamat

    ENDIF ” ==> emng betul2 programmer nih, subahanallah. ^^

    #/bin/bash
    niat = mantap
    if [ $niat ] then
    echo “Allah akan memberi jalan n petunjuknya”;
    else
    echo “perlu di perbaiki niatnya”;
    endif

    *hehe, ^_^

    Like

  2. sth_rei says:

    Hooo, ternyata ada dunia seperti itu,,

    Alhamdulillah teman2ku orang yang sederhana2, dengan pola pikir yang sederhana pula. Ujian cukup belajar sekerasnya, persoalan nilai, dipasrahkan sepenuhnya pada Allah SWT (sambil berharap dosennya ber-mood baik, he3). Bila nilai tak memuaskan, cukup ulangi di tahun berikutnya (atau tidak usah diulang bila ga mau,,).

    Bisa jadi salah satu penyebabnya karena pada tahun pertama ada dosen bernama Dr. Yateman Arryanto (pakar zeolit Indonesia) yang menantang mahasiswa untuk berjanji “selama kuliah tidak akan menyontek” (saat itu hanya ada seorang teman yang berani berjanji). Tapi dampaknya dahsyat, setiap kuliah, beliau selalu menyatakan idealismenya dalam menyikapi dunia.

    “Mahasiswa itu bukan ada untuk mencari nilai, setinggi-tinggi nilainya, tapi ilmunya tidak ada adalah suatu kesia-siaan”. Ini menyinggung bukan hanya pada sistem contek-menyontek demi nilai bagus dengan jalan pintas, tapi juga sistem kebut semalam yang memorinya hanya bertahan sebentar– setelah ujian lupa,,, =3=.

    Bagaimanapun, sistem contek-menyontek itu hadir karena sistem pendidikan di Indonesia itu menciptakan robot, hanya mengulang apa yang sudah diajarkan–jadinya tinggal ngrepek, selesailah tugas. Sampai2 ada calon profesor yang ternyata karya ilmiahnya adalah hasil plagiat..

    Tapi sepertinya Laily sudah melewati masa yang berat itu? “sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan”

    Like

    • Subhanallah… UGM emang T-O-P! He3..
      Mudah-mudahan lahir Pak Dr. Yateman Yateman yang laen ^ ^
      .
      Salut buat :

      … (saat itu hanya ada seorang teman yang berani berjanji) …

      Moga Allah memberinya petunjuk.. ^ ^
      Ini nih yang banyak dilupain…

      “Mahasiswa itu bukan ada untuk mencari nilai, setinggi-tinggi nilainya, tapi ilmunya tidak ada adalah suatu kesia-siaan”

      Alhamdulillah… sudah melewati kesulitan itu.. tinggal usaha nambah pengikutnya yang sulit.. he3…

      “sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan”

      That’s rite.. Dan Sesungguhnya janji Allah itu benar =)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s