Al Kalam : Al Qur’an Tajwid Digital untuk Para Pecinta FirmanNya

Qadarallah, baru-baru ini saya mencoba software Al Qur’an digital bernama Al Kalam. Dan Subhanallah.. Banyak kebutuhan yang saya inginkan ada pada Al Kalam. Al Kalam cocok untuk :

  1. Pembelajar ilmu tajwid
  2. Pendengar setia muratal Al Qur’an dari syaikh-syaikh terkenal
  3. Wanita yang sedang berhalangan : dengan Al Kalam dalam bentuk digital tanpa menyentuh mushaf. Jadi bisa menyimak sambil mendengarkan bacaan para Qori’ dan mempelajari terjemah, tafsir, dan tajwid.

Software Al Kalam pertama kali diakses dari DVD. Begini tampilan awalnya.

tampilan_awal_alkalam

Anda bisa mengaksesnya dari DVD, atau menginstallnya ke hardisk.

Ada beberapa hal yang saya suka dari Al Kalam :

  1. Al Kalam = Al Qur’an Tajwid
  2. Bisa menyimak sambil mendengarkan para Qori’
  3. Petunjuk tajwid yang user friendly (Mouseover tiap tajwid)
  4. Bisa memilih Qori’ dari 4 Qori’ terkenal (dan saya sangat suka qori’2 tsb =D)
  5. Bisa melihat terjemahan Al Qur’an juga
  6. Ada tafsir nya (Tafsir Ibnu Abbas)
  7. Saat Al Qur’an saya tutup, lalu saya buka lain waktu. Saya diarahkan pada halaman yang terakhir saya baca ;).
  8. Ada Kaca pembesar untuk pembaca yang merasa tulisan ayatnya terlalu kecil =D

Untuk lebih jelas bagaimana cara mendapatkannya silakan berkunjung ke situs www.al-kalam.info

Advertisements

1 Year Anniversary :: Life Without Facebook (FB)

Subhanallah.. Sudah genap satu tahun saya meninggalkan FB!!! Unbelieveable.. (`∇´)

Jujur, butuh tekad yang besar bagi saya untuk melakukannya. Apalagi saat itu, banyak orang yang lagi seneng-senengnya sama situs jejaring sosial itu dan berhijrah meninggalkan FS.

Keputusan ini pun saya ambil jauh dari saat para ulama ribut soal hukum halal-haramnya. Tapi saya yakin, bukan hanya saya yang mengambil keputusan yang sama. Kontroversi FB waktu itu memang cukup ‘panas’ dan berhasil membuat tidur saya tak tenang. Alhamdulillah, akses internet bebas saat magang, jadi solusi untuk menyelidikinya lebih jauh.. Dan kemudian… Tadaaaa.. ٩(o)۶

Saya pun memutuskan untuk memulai hidup tanpa FB ! ヽ(゚ω )ノヽ( ω゚)ノヽ(゚ω )ノ

Ups.. jangan salah! Tulisan ini saya buat tidak untuk mendiskreditkan FB. Apalagi saya termasuk orang yang berpikiran bahwa FB hanyalah alat. Tulisan ini hanya flashback saja dari kehidupan saya tanpa FB dan sedikit bayangan bagaimana jika saya saat ini masih kecanduan FB seperti teman-teman. Tentu saja, jika saya masih pakai FB, pasti bakal kecanduan,, maklumlah.. Anak muda.. He3.. (((*´ε *)

No FB = less Friend ll(p_ q#)llll

Cukup sedih ketika saya harus merelakan diri untuk tidak keep contact dengan teman-teman baik yang sering saya temui di kampus, teman” masa lalu, maupun teman” baru. Yup, memang tidak dapat dipungkiri..

`。゜。No FB = less Friend.

Itu perasaan pertama saat memulai hengkang dari situs jejaring nomor 1 itu. Huphf.. Tapi apa artinya teman jika ia hanya menuntut frekuensi komunikasi. Lagipula, masih ada media lain bukan?

Jika masih ada FB, pasti saya sekarang akan semakin disibukkan dengan teman-teman. Ada gossip si A, skandal si B, musibah si C, fitnah dengan karena si D, acara reuni E, temu kangen F, jalan” dan nge-mall bareng G, dsb. Fiuh, namun alhamdulillah.. Walaupun lepas FB, kabar-kabar penting masih sampai juga pada saya lewat media lain. ^ ^

Less friend = life more

Ada 4 sebab penyakit hati, yaitu banyak bergaul. Bergaul boleh, dengan batasan menghargai privasi orang lain. Di FB, seseorang terfasilitasi untuk mempublikasi privasi dan mencari tahu berbagai informasi dari orang lain. That’s why, tanpanya, saya merasa lebih hidup dan dapat fokus dengan target daripada disibukkan oleh hal-hal remeh di FB yang cukup membuat gatal tangan untuk mengklik link demi link. Jika menuruti nafsu saja, akan semakin tidak terasa waktu yang terbuang. Hidup pun jadi kurang produktif. (>_<)

Hadiah Ramadhan dari ♥♥Allah♥♥

Sayangnya, karena sekian lama berpisah karena magang, saya merasa teman-teman jadi sulit diajak untuk me-refresh dakwah maupun sekedar datang thalibul ilmi. Apa dampak FB ya? Wallahua’lam…

Kesendirian dan kekeringan iman itupun terobati dengan terkabulnya do’a saya sebagai hadiah Ramadhan dari Allah. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan orang-orang yang berjuang di masjid demi tegaknya syi’ar Islam. Dengan mereka, saya terlibat acara amal dan kegiatan Ramadhan lainnya. Teman saya jadi bertambah baaanyaak (。>0<。).

Subhanallah.. ternyata, rumusnya juga bisa begini :

.+: Life more = new friends ^ ^.+:

Life more = knowing reality

Dari waktu yang tidak untuk FB, saya hidup dengan lebih mengenal kenyataan. Saat baksos misalnya. Rasanya seperti artis saat turun dari mobil. Padahal pakaian ini biasa-biasa saja. Saya melihat sendiri ternyata masih ada orang yang kesulitan mendapatkan air. Sekolah pun sedikit. Anak-anak desa yang masih SD itu terdiam saat ditanya apa yang akan mereka lakukan selepas SD. Saya penasaran. Saya tidak menemukan bangunan SMP sepanjang perjalanan. Rumah saja jarang.

Orang-orang yang beramal dan mengamati kenyataan juga banyak berbagi cerita. Tangis di hampir setiap pertemuan, meluluhkan hati kami. Sungguh, pada diri manusia ini banyak yang perlu diperbaiki. Tetapi manusia itu sombong, sekedar bersyukur saja suliiit sekali bagi mereka.

Ada lagi kisah tentang seorang anak yang harus menyetorkan uang 75 ribu per hari pada orang tuanya. Kalau tidak, ia tidak boleh masuk rumah. Hingga akhirnya ia terlibat traficking. Lalu, kisah tentang pemuda yang dibuang orang tuanya sejak kecil. Kini, ia telah menjadi manusia yang sepenilaian saya lebih mulia dari manusia yang beruntung karena akhlaq dan amalnya. Wallahua’lam, hanya Allah yang Maha Mengetahui Isi Hati.

Masih banyak lagi pelajaran hidup yang saya dapat selama setahun. Yang mungkin tidak akan saya dapat tanpa mengorbankan sedikit ego untuk kesenangan diri belaka. Semua ini, membuat saya merasa lebih bersyukur, dan terus termotivasi untuk beramal baik lagi.

Jika saat itu tempat berlabuh saya hanya di warung hotspot untuk akses FB sepuasnya, mungkin saya akan merasa hidup saya sempit. Bagaimana tidak, saat mata memandang ke kanan situs, ada foto si A dengan berbagai pose yang cantik karena sering perawatan di salon mahal. Saat mata beralih ke kiri, ada foto-foto si B saat di bersenang-senang di luar negeri. Yang lainnya, sedang makan enak di restoran mahal, foto dengan pacar cakep ato artis kenamaan, dll.

Memang manusia disyari’atkan untuk menunjukkan ni’mat Allah. Tetapi, kalo kasusnya seperti ini, lebih tampak sebagai ajang pamer. Susah untuk tidak sombong dengan semua itu. (_-)

Saya tidak cantik. Saya tidak kaya. Tapi di semua sudut FB, orang-orang terlihat tidak mempunyai masalah dengan uang. Sedangkan saya, untuk memajang foto kece berkacamata hitam lagi duduk di dalam mobil saja ga mungkin banget. Tampang kurang, mobil ga ada, bahkan kamera buat jeprat jepret pun belom dikasih Allah. (_ _;)=3

Tapi alhamdulillah, saya sama sekali tidak berambisi seperti mereka. Kalo iya, bisa-bisa kaya cewek” ABG di koran itu, gabung dengan usaha prostitusi via FB demi uang. Naudzubillah..

Fitnah Berkurang

Ini adalah dampak yang paling saya suka. Teman-teman memang gatal untuk membiarkan seorang gadis seumuran saya berstatus jomblo. Dengan alasan yang tidak masuk akal, biasanya ada saja gossip miring saya dengan cowok X yang cukup bikin keki. Nah, alhamdulillah,, tanpa FB, pintu masuknya jalan itu pun tertutup rapat. =)

Real life = real love

Buat anak muda, eksis di dunia maya, mungkin tidak lengkap tanpa cinta dunia maya, yang terkadang maya. Sedangkan saya tanpa FB, Alhamdulillah telah menemukan the real lovedi dunia nyata. Bahkan tidak cuma 1. Σ( ̄ロ ̄lll) Ups, jangan salah.. the real love di sini bukan sesuatu yang membuat saya melepas status jomblo. Karena the real love itu adalah cinta karena Allah. Ciri-cirinya :

  • tidak bertambah dengan adanya pemberian
  • tidak berkurang dengan tiadanya pemberian
  • tidak bertambah dengan seringnya ketemuan
  • tidak berkurang dengan perpisahan
  • bukan karena kepentingan

Indah bukan?? (*´v*)

Mereka mengamalkan anjuran mengungkapkan cinta karena Allah. Tidak hanya itu, kami juga saling memberi nasehat dan saling mendo’akan. ヽ(゚ω゚ )ノヽ( ゚ω゚)ノヽ(゚ω゚ )ノ

Semoga Allah selalu merahmati mereka…  Sesungguhnya kami sangat berharap akan naungan Allah kelak ketika nanti matahari berada di atas kepala-kepala manusia dan tiada naungan lain selain dariNya.

゚.+:。 .+:。゚.+:。 .+:。゚.+:。 .+:。゚.+:。 .+:。

Phew.. Cukup banyak juga hal-hal positif yang saya dapat selama setahun, namun bisa jadi banyak juga yang terlewat tanpa ada FB dalam hidup saya (*^-^). Dan saya harap, para facebooker yang masih aktif dapat mengisi aktifitas positif di FB (o ̄∇ ̄)/. Karena saya yakin, tidak hanya pena atau tindakan nyata saja yang mampu memberi kebaikan.

Jadikan FB di tangan Anda memberi perubahan positif!!! (o ̄∇ ̄)/

Atau setidaknya menangkal hal-hal negatif. (`∇´)

Regards,

LayLay

Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

Pencari Ilmu Jalan Pintas

Dilema ini terus membayangiku beberapa tahun lalu. Jalan pencarian ilmu yang seharusnya mendekatkan ke syurga, dihadapkan pada jalan” pintas yang menjanjikan kemudahan dan hasil akhir yang indah, namun semu. Maklum, karena kuliah di jurusan IT, proses ujian pun menunjang sekali tindak kecurangan, bahkan dapat dilakukan via chat box.

Mulanya, aku tergoda juga. Sampai saat datang seseorang yang mengingatkanku, akan ayat Allah :

Az Zumar:60. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?

Lalu? Bukankah curang&menyontek sama dengan berbohong? Berbohong pada diri sendiri, guru, teman, bahkan orang tua.

Nyontek&curang=tidak jujur=dusta=dosa= muka hitam di hari kiamat => bisa” masuk Jahannam.. Naudzubillah!

Bermula dari Taubat

Sebenarnya, judul tulisan ini sudah lama terlintas di benak. Saat itu, aku memang mengalami masa-masa transisi alias hijrah (menjadi pribadi yang lebih baik). Maklum, aku baru bertekad untuk jujur+ikhlas dalam menuntut ilmu. Banyak rangkaian kalimat yang terbersit.. Tapi tak sempat tertulis karena kacaunya pikiran dan galaunya hati saat itu. Setiap kali ujian semester pun, ingin sekali aku menuangkan semua perasaan ini, namun urung. Hal ini karena semata-mata, mencoba jujur dalam mendapat nilai tidaklah mudah. Dengan tekad keras, aku tetap semangat menghapal dan memahami materi, sambil mengesampingkan kesedihan hati.

Ujian Taubatku

Entah mengapa, aku tidak menemukan seorang pun yang beri’tikad sama dari sekian banyak teman-teman di kelas. Saat kuingin diskusi atau bertanya kesulitan dari materi, aku bingung dan tak tahu harus kemana mengungkapkan semua itu. Semua serba sibuk… mereka sangat sibuk dengan kertas-kertas kecil dan hape-hape canggih mereka.

Kerap kali kami berdebat masalah kecurangan yang mereka selalu halalkan. Berbagai alasan pembenaran dan cacian pun cukup membuat kesal. Belum lagi, pandangan marah dan singgungan buruk yang muncul karena aku tak mau membantu mereka dalam kecurangan (seperti menyalurkan kertas contekan, dll). Entah kenapa, napasku jadi sesak dan hati terasa sempit sekali. Bismillah.. Ini cuma ujian dunia.. Setidaknya nanti aku dapat mempertanggungjawabkan semua ini di hadapan Allah karena kejujuran ini.

Curhat Seorang Akhwat

Dia sudah menjadi akhwat di usianya yang ke-17. Subhanallah, hidayah dan cobaan berat datang padanya pada usia semuda itu. Namun, bukankah semakin dalam iman yang dimiliki seseorang, maka cobaan yang dihadapinya semakin berat. Itulah yang banyak dihadapi oleh orang-orang yang berusaha untuk terus istiqomah.

Qadarallah, kami dipertemukan sejak awal untuk selalu sharing masalah pribadi dan ilmu agama, serta thalibul ilmi bersama. Itu yang membuatku sangat mencintainya karena Allah ta’ala. Jum’at lalu, ia minta masukan dan bantuan terhadap masalahnya sebagai pencari ilmu tingkat Sekolah Menengah. Kejadian ini membangunkan semangat diri untuk merajut kata yang akhirnya menjadi kalimat yang Anda baca saat ini.

Ia Di antara Pilihan menjadi Seorang Pencari Ilmu atau Pencari Jalan Pintas

Tidak kaget diriku, saat dia bercerita tentang kecurangan sistem ujian yang terencana di sekolahnya. Sudah pernah kudengar hal yang sama dari pelakunya sendiri -yang adalah kakak seniornya yang sudah lulus-, dan ceritanya cukup mendetail.

Kecurangan yang juga salah satunya juga dipelopori oleh guru mereka sendiri itu membuatnya bimbang. Yang aku herankan, kok ada yang oknum yang rela mengirim jawaban soal ke hape setiap siswa. Heran.. Mengapa tidak langsung saja memanipulasi nilai tanpa ada ujian agar tidak repot.

Saat I’tikad baik akhwat itu muncul, dengan memilih berniat berbuat jujur… ternyata hasilnya tidak memuaskan seperti yang didapat para pencari jalan pintas. Les di guru mata pelajaran pun tidak memecahkan kesulitannya karena alasan” tertentu dan cenderung di saat terakhir les ada bocoran soal dan lain-lain.

Demi Kelulusanmu Nanti… Sedikit Saja Tidak Apa-Apa

Badai cobaan masih terus menerpanya, saat beberapa pihak yang menyayanginya menyarankan dia untuk sesekali melihat jawaban bocoran demi lulusnya dia kelak. Huphf.. Apakah itu benar jalan keluar?? Dia pun memutuskan untuk berusaha lebih dan lebih keras lagi masalah pelajaran, meskipun sistem penilaian dan ujian yang ada sedikit tidak fair.

Ya Allah, bantulah dia.. Dan mudahkan diri hamba untuk membantunya..

Mengapa ini terjadi? Padahal…

Untaian kalam ilahi dalam surat al Mujaadilah:11 cukup menjadi bukti tingginya kedudukan orang-orang yang berilmu di sisi Allah سبحانه و تعالى. Tetapi tak hanya itu… Di dunia fana ini, title ‘intelect‘ dalam ilmu apapun dihargai tinggi di hadapan manusia, baik secara materiil dengan semakin mahalnya gaji/upah, maupun non materiil, seperti meningkatnya prestige (wibawa, martabat) para penyandangnya.

Ukuran kualitas keintelekan (seperti gelar, penghargaan, sertifikat, nilai ujian) dunia pun dikejar. Hal ini diperparah dengan tekanan kebanyakan orang tua sekarang yang memimpikan anak-anak mereka menjadi bagian dari kaum intelektual. Memang, sah-sah saja keinginan mereka.. Namun, jika pada akhirnya tujuan mereka dan sang anak hanya sekedar materi dan prestige di dunia semata, anugerah berupa derajat yang tinggi di sisi Allah سبحانه و تعالى tak lagi berlaku.. Bahkan, bisa mendatangkan adzab karena lunturnya keikhlasan dan tenggelamnya diri ke dalam hawa nafsu.

Saat Pribadi Harus Memilih..

Mengajarkan ilmu dan memfasilitasi anak untuk mencari ilmu memang kewajiban orang tua. Di jaman sekarang ini, saking inginnya orang tua melihat anaknya berhasil dan sekolah tinggi, tak sedikit yang rela membanting tulang mengais rezeki, untuk memenuhi materi pendidikan anak. Fasilitas anak untuk sekolah tinggi pun dipenuhi, mulai dari biaya kos/hidup yang layak, kendaraan, komputer/laptop, buku, internet dsb. Orang tua seperti ini adalah anugerah. Namun, jika mereka juga mendukung anaknya mencari ‘jalan pintas’, di sinilah pribadi harus memilih :

Teguh sebagai pencari ilmu di jalan yang terjal dan mengambil resiko kesedihan orang tua akan bayangan kegagalan.. Karena menjalaninya tidaklah mudah..

Atau..

Ikut dalam rombongan pencari jalan pintas yang cukup mulus, dengan resiko kegagalan terlihat lebih sedikit namun Allah tidak ridha padanya.


Beda Mereka..

Batasan ruang lingkup : sekolah/kuliah

Parameter Pencari Ilmu Pencari Jalan Pintas
Proses masuk sekolah/kuliah Masuk dengan nilai murni 100% mikir sendiri dan memenuhi standart diterima Nilai antara diterima dan tidak. Diterima pun dengan ‘sedikit’ uang sogok atau karena ada link pihak internal.
Absensi
  • Tanda tangan 100% asli
  • Ikut dari awal hingga akhir
  • Sering nitip ttd ke temen
  • Hadir demi absen
  • Setelah absen suka ngacir
Waktu Kehadiran Datang tepat waktu, maksimal terlambat/tidak hadir karena udzur Datang telat tanpa dosa
Peralatan dan perlengkapan belajar Memenuhi standart untuk mengikat ilmu Minta/pinjam teman (dengan resiko tidak kembali/hilang/terbawa selamanya)
Catatan Ada dan cukup rapi Catatan tidak punya (maksimal fotokopi punya teman pas mau ujian)
Ketika pengajar menerangkan
  • Menyimak dan memahami
  • Aktif bertanya
  • Mendengarkan
  • Minimal tidak rame
  • Bosen
  • Ngelamun
  • Ngobrol dengan temen (langsung ngomong atau via kertas)
  • Chatting/ngenet pake hape mahal
  • Tidur
  • Dan aktivitas” lain selain memperhatikan pengajar..
Tugas 99% mikir sendiri, 1% diskusi/konsultasi/minta bantuan ke yang lebih ngerti
  • Sering lupa
  • Ingetnya pas deket deathline
  • Copy paste temen
Ujian Berbekal memori otak SEJUTA GIGABYTE, dengan spesifikasi :

  • Memori materi penjelasan pengajar
  • Memori catatan materi tulisan sendiri
  • Pemahaman
  • Pengalaman kerja tugas
  • PeDe!!
Berbekal kertas” kecil (ngopi temen) plus hape canggih dengan spesifikasi :

  • Kamera 2MP ke atas:untuk kejelasan file gambar contekan
  • Fasilitas menyimpan&membaca text file, ppt, atau doc : pembuka file contekan
  • Bluetooth : agar tinggal transfer file contekan dari temen
  • Pulsa : komunikasi selama ujian
Selesai Ujian
  • Check jawaban yang ragu-ragu
  • Diskusi jawaban dengan temen
  • Heboh karena salah/lupa/ga teliti
  • Tawakkal ‘alallah
  • Heboh kasus ketauan pengawas, dll
  • Ngomongin pengawas begini begitu
  • Evaluasi teknik curang
  • Hang out+seneng” sama temen”
Ujian akhir 100% usaha pemikiran sendiri Curang, hasil ‘jahit’ dengan modal duit
LULUS/TIDAK LULUS LULUS:

  • Dengan izin Allah
  • Karena kerja keras dan doa
  • Kemampuan terasah
  • Dan faktor penunjang lain

TIDAK LULUS :

  • Dengan izin Allah
  • Kurang maksimal
  • Terbelit masalah” seperti : fasilitas, referensi, dll
LULUS:

  • Dengan izin Allah
  • Beruntung ga ketauan curang
  • Fasilitas dan uang memadai
  • Dan faktor penunjang lain

TIDAK LULUS :

  • Dengan izin Allah
  • Ketauan curang
  • Sumber kecurangan yang salah, dll

Jika Anda memenuhi :

Kriteria PENCARI ILMU + IKHLAS = DERAJAT TINGGI di sisi Allah 😉

Kriteria PENCARI JALAN PINTAS = MUKA HITAM di hari kiamat

Tetapi, jika Anda mempunyai beberapa kriteria PENCARI JALAN PINTAS dan tidak ingin menjadi seperi rumus di atas, maka ikuti prosedur taubat() berikut:

If taubat(PENCARI_JALAN_PINTAS) = TRUE THEN

setNiat = “Ikhlas lillah”Do

setAction = "tidak mengulangi lagi"

Loop Until MATI
ELSE

MUKA HITAM di hari kiamat

ENDIF

Terapi Disiplin dan Tepat Waktu

Wahai yang mengajari orang lain

Mengapa engkau tidak mengajari dirimu sendiri

Mulailah dari dirimu sendiri dan janganlah menyimpang

Sungguh jika kamu selamat darinya

Maka kamu adalah orang yang bijaksana

Janganlah kamu melarang suatu perilaku

Tetapi kamu melakukan yang semisal dengannya

Adalah aib yang sangat besar

Jika hal itu terjadi..

Tips dan Terapi untuk hidup disiplin dan tepat waktu, baik untuk diri sendiri maupun untuk diterapkan pada kehidupan sosial, di antaranya :

  1. Tarbiyah Imaniyah al-Jaaddah (Serius)
  2. Sesungguhnya pembinaan iman yang serius sudah cukup -dengan izin Allah- untuk mengatasi masalah ini secara total, atau paling tidak dapat memberi andil besar. Akan tetapi, permasalahannya terletak pada kesungguhan itu sendiri. Pemgobatan terhadap sikap meremehkan, lemah semangat, acuh tak acuh dalam bentuk amal nyata sangat diperlukan.

    Janganlah harta dan kemewahan yang kita miliki membuat kita terbiasa meremehkan urusan-urusan kehidupan, bersantai-santai dan lamban.

  3. Berterus terang dan tidak basa basi
  4. Tidak lengkap jika hanya kita yang menerapkan hidup disiplin tanpa membiarkan orang tahu dengan komitmen kita terhadap perencanaan waktu. Dan tentunya jangan biarkan waktu kita banyak terbuang karena menunggu keterlambatan orang lain tanpa memperingatkan kesalahan mereka dan bersikap lunak. Jika hal ini dipraktekkan pada lingkungan kerja, maka keadaan akan berubah dan semakin membuahkan hasil, kesungguhan pun akan bangkit.

    Daripada kebiasaan tidak displin itu menular dan semakin mengakar, komitmen dengan waktu itu lebih baik.

  5. Menetapkan Hukuman yang Setimpal
  6. Hukuman dapat berupa hukuman positif, seperti shodaqoh sebanyak sekian atas pelanggaran disiplin sekian kali. Jika berkaitan dengan suatu kegiatan, hukuman dapat berupa peringatan di depan banyak orang atas keterlambatan untuk dijadikan pelajaran bagi semuanya. Acara juga dapat dimulai tepat waktu, dengan meninggalkan orang-orang terlambat agar mereka merasa bersalah -jika hatinya masih hidup-.

  7. Memberi penghargaan kepada Orang yang Disiplin
  8. Penghargaan setidaknya berupa pujian, namun lebih baik jika berupa hadiah.

  9. Menjadi Teladan dalam Disiplin Waktu
  10. Alangkah baik jika kita dapat memberi contoh. Namun akan lebih baik lagi jika orang-orang besar ataupun organisasi/institusi pembuat acara dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Bagaimana mungkin rakyat akan tepat waktu, jika acara Presiden terkenal molor dan jam karet. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa akan tepat waktu jika dosen selalu tidak tepat waktu, baik saat kedatangannya, maupun saat memulai kuliahnya. Bagaimana para generasi muda akan tepat waktu jika, acara-acara para aktivis organisasi selalu terlambat dan mengecewakan orang-orang yang tepat waktu.

  11. Memulai Acara Tepat Waktu Tanpa Harus Menunggu Orang-Orang yang Terlambat
    1. Orang terlambat akan merasa malu atas keterlambatannya.
    2. Orang terlambat akan merasa akan merasa bahwa orang-orang tidak butuh kepadanya. Akan ada rasa yang terlewat akibat kedatangannya yang terlambat.
    3. Orang lain akan merasakan pentingnya acara yang mereka datangi.
  12. Terapi ini bagus untuk memberi pelajaran di antaranya :

  13. Menetapkan Waktu untuk Memulai Acara
  14. Tentu saja caranya bukan dengan menulis di undangan jam 08.00 kemudian acara sesungguhnya dimulai pukul 08.30. Hal inilah yang membuat penyakit tidak disiplin waktu.

  15. Tetap berada di Tempat Selama Acara Berlangsung
  16. Perkuatlah azzam (tekad) mengikuti suatu kegiatan yang positif sampai akhir, kecuali jika ada udzur.

  17. Membuat Daftar Pengaturan Waktu
  18. Berupa kolom daftar, gagasan (ide-ide), target, dan rentang waktu pelaksanaan untuk mempermudah mengingat dan memotivasi lagi rencana yang telah kita buat.

  19. Meminta Udzur Lebih Awal
  20. Jika ada keperluan mendesak yang membuat kita tidak dapat tepat waktu/tepat janji, maka sampaikanlah di awal. Janganlah berpura-pura lupa dan tidak meminta udzur seperti tidak ada masalah apapun.

  21. Mempersiapkan diri secara Maksimal

Persiapkan diri secara maksimal untuk menjalankan perencanaan waktu yang kita buat. Jangan sampai nantinya banyak udzur yang membuat tekad untuk disiplin dan tepat waktu kita luntur.

Sebuah rangkuman ilmu dari tulisan:

**** Dr. Muhammad Musa Syarif. Muslim Ideal Muslim Tepat Waktu hal.35 . Penerbit al Bayan****

Coding PHP dengan Komodo IDE/Edit 5

About Komodo

Kebanyakan dari kita menggunakan Macromedia Dreamweaver dalam programming PHP. Tetapi, saya menemukan satu tools baru yang sesuai

dengan kebutuhan saya dalam programming PHP. KOMODO IDE/EDIT 5 adalah tools baru yang saya dapatkan secara FREE tahun 2009 lalu. Fasilitasnya cukup mengejutkan saya, karena saya seakan coding java di netbeans/eclipse tetapi real-nya saya sedang bekerja dengan script PHP.

All in one Integrated Development Environment (IDE)

Jujur saya bingung saat pertama kali memakai Komodo. Karena ternyata, IDE yang satu ini mendukung banyak bahasa, mulai dari Desktop Programming(Java, VB, Matlab,dll), Web Programming (PHP, JS, CSS,dll), sampai Mozilla development.

Icon Komodo Edit 5

List semua bahasa-bahasa tersebut terlihat pada gambar di sebelah kanan berikut :

Supported Language

Hardware Requirement Komodo pada Windows

  • x86 or x86_64 processor, 500 MHz (or faster) with 512 MB RAM (Windows 2000/XP) or 1 GB RAM (Vista).
  • 170 MB hard disk space
  • 340 MB of temporary hard disk space during installation

Alasan menggunakan PHP dengan Komodo Edit

  • Saya sedang coding PHP dengan konsep OOP
  • Saya bekerja dengan banyak variabel
  • Saya banyak bekerja dengan fungsi-fungsi dan sering memanggilnya
  • Saya mendapatkan bantuan opsi drop down setiap mengetik reserved word dan fungsi-fungsi PHP
  • Saya ingin kesalahan ketik saya saat sedang coding PHP terlihat.

Akan tetapi, jika Anda akan sangat sering melihat tampilan web dari coding Anda, Dreamweaver lebih user friendly dari pada Komodo Edit.

PHP dengan Komodo Edit

Ada beberapa fitur yang tidak/belum saya temukan di Dreamweaver:

Tampilan yang lebih rapi dan readable:

Tawaran bantuan agar tidak perlu mengetik sepenuhnya dari script PHP :

Nama variabel terekam, sehingga mudah mengingatnya dan terhindar dari pengulangan pemakaian vaiabel yang sama :

Gampang saat bekerja dengan tanda kurung ‘()’

Dan tidak perlu khawatir dengan kurawal {}

Daerah error karena salah ketik terlihat:

Atau salah struktur coding :

.

.

Dan masih banyak lagi. Tertarik mencoba? Kunjungi situsnya dan download di sini! 🙂